Ananda Sukarlan, komposer dan pianis kebanggaan Indonesia, menggelar konser bertajuk ‘The Voyage to Marege’ di Taman Ismail Marzuki pada Kamis (31/8) malam lalu.
Acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan momen HUT RI yang ke-72 sekaligus merayakan perbedaan antar etnis. Konser orkestra yang berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini menceritakan kisah persahabatan antara para pedagang suku Bugis di Makassar dengan masyarakat Yolngu di Australia. Dalam konser ini Ananda Sukarlan menggaet dua orang musisi asli suku Aborigin, Djakapurra Munyarryun dan Kevin Yunupingu.
Helmi, Kintan, dan Nazaretha, tiga orang anggota komunitas musik KITA String Unlimited yang dinaungi Yayasan Musik KITA Anak Negeri, berkesempatan hadir dalam The Voyage to Marege.
“Ya menarik sih, apalagi ‘kan itu konser perdana peluncuran sebuah komposisi karya Kak Ananda Sukarlan,” kata Helmi. “Satu hal yang aku suka banget, sebelum karya The Voyage to Marege dimainkan, Kak Ananda Sukarlan ceritain karya itu tentang apa, sinopsisnya bagaimana, alurnya bagaimana, itu yang bikin aku pengen dengerin karyanya sampai akhir meskipun sebelumnya aku pernah dengar sebelum diadaptasi oleh beliau,” lanjutnya.
Menurut Helmi, konser The Voyage to Marege berhasil menyampaikan pesan mengenai perdamaian dan keberagaman dengan baik. “Semua pesan itu dapat diterima dengan baik oleh penonton apalagi dengan ditambah prolog di depan (sebelum lagu) jadi semua pesan itu tersampaikan dengan jelas.” ujar pria yang sedang meniti karir sebagai pemain violin ini.
Seperti Helmi, Kintan juga mengaku terkesan dengan pengalaman menonton The Voyage to Marege. Menurutnya, semua pemain tampil dengan sangat harmonis. “Mereka keliatan nggak cuma main aja, tapi feel-nya dapet. Nada-nada minornya juga nggak tahu kenapa bikin suasananya seram,” terang perempuan berhijab ini. “Di lagu terakhir aku serasa bukan cuma lagi dengar musik, tapi seakan-akan masuk ke dalam ceritanya. Bener-bener keren, aku suka banget.” lanjutnya.
Nazaretha, perempuan pemain cello di KITA String Unlimited ini, juga mengamini pendapat dua temannya. “Beda, benar-benar beda. Terasa banget adrenalinnya. Jadi pesan dari pemainnya benar-benar sampai ke kita,” akunya saat dihubungi melalui telepon seluler.
Menurut Nazaretha, ia dengan senang hati akan datang lagi pada konser-konser sejenis. “Pengen banget nonton lagi,” tutupnya.
Konser The Voyage to Marege sendiri diadakan Ananda Sukarlan untuk mengajak masyarakat Indonesia merayakan perbedaan. “(Konser ini) juga dengan membawa Islam, saat itu orang-orang Aborigin banyak mempelajari ajarannya tanpa harus memeluknya,” terang pria berkacamata ini melalui pesan chat. “Karena banyak ajaran Islam yang bagus dan membuka pikiran mereka,” sambungnya.
Ananda mengaku tertarik membawakan cerita persahabatan masyarakat Bugis dan Yolngu karena melihat kemungkinan mentransformasi unit orkestra untuk menghasilkan bunyi-bunyi yang unik dan berbeda. “Dengan instrumen-instrumen yang sama dengan yang dipakai Bach, Beethoven, dll. tapi saya berusaha mengeksploitasi dengan cara yang berbeda,” terangnya.

Baca Juga
Tidak terasa, Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan! Seperti yang bisa dilihat di Instagram @pianonusantaraplus , KPN+ 2026 akan dimulai di Medan akhir Agustus, dan tahun ini tetap terselenggara
Oleh Ananda Sukarlan Esai pendek ini ditulis oleh penyair Ikhsan Risfandi “Irzi” sebagai status Facebook-nya setelah saya kirimi partitur saya. Saya juga sematkan komentar penyair Tan Lioe Ie di bawahnya.
sebuah tulisan Ananda Sukarlan Selasa 27 Januari lalu saya konser sekaligus mengumumkan tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, di Four Seasons Jakarta. Acara itu hanya terbuka untuk para
tulisan Ananda Sukarlan Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca : https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/) Saya ingin
oleh Ananda Sukarlan Wah, nggak nyangka sih penyair kondang Madiun, Fileski Walidha Tanjung langsung menulis esai gara-gara saya WhatsApp tentang niat (yang sebetulnya sudah separo tertulis) membuat tembang puitik dari
