Tidak terasa, Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan! Seperti yang bisa dilihat di Instagram @pianonusantaraplus , KPN+ 2026 akan dimulai di Medan akhir Agustus, dan tahun ini tetap terselenggara di 11 kota, tapi ada sedikit perubahan : ada beberapa kota yang “merger” seperti Palembang dan Lampung misalnya, dimana semua peserta dari Palembang (dan sekitarnya) harus ke Lampung. Tapi juga ada yang justru dipisah seperti Salatiga dan Yogyakarta, karena banyaknya peserta dari Jawa Tengah sehingga harus diadakan selama 2 hari, sehingga pendiri KPN+, Ananda Sukarlan memutuskan untuk sekalian memisah lokasi dan juga jarak waktu (beda 3 minggu antara Yogyakarta dan Salatiga, keduanya di bulan Oktober) supaya peserta bisa memilih sesuai kenyamanan mereka.

Ananda Sukarlan juga baru balik dari Lampung, Samarinda dan Balikpapan, di dua kota terakhir itu ia bekerjasama dengan Nusantara Youth Music Olympics (NYMO). NYMO jugalah yang akan menjadi mitra penyelenggara KPN+ di Kalimantan Timur, dan setelah dirapatkan, juga dengan Chendra Panatan, manager Ananda yang datang ke Kaltim pertengahan bulan April ini, KPN+ akan dilaksanakan di Balikpapan tanggal 15 November. Ini tentu terbuka untuk para peserta dari Samarinda (kurang dari 2 jam naik mobil ke Balikpapan) dan kota-kota lain, bahkan di provinsi selain Kalimantan Timur.
Berikut kompilasi FAQ (Frequently Asked Questions, atau Beberapa Pertanyaan yang paling sering dilontarkan) menyangkut KPN+, dijawab oleh Ananda Sukarlan. Jika masih ada pertanyaan lain, silakan hubungi ke akun Instagram @anandasukarlan , dan jika terkumpul banyak, kami akan terbitkan artikel sambungan untuk FAQ KPN+ 2026.
Q : Untuk instrumen lain, lagu pilihan Junior dan Senior apa akan diberikan batasan grade juga?
AS : Hanya dari segi durasi, tingkat kesulitannya terserah. Tapi saya ada sedikit “warning” nih. Saya ingin memuji satu inovasi di NYMO yaitu : content & achievement. Ini adalah kriteria penilaian tentang pemilihan karya, dimana sering dipercaya bahwa “jika anak / murid saya memilih karya yang sulit, ia pasti unggul dibandingkan peserta yang memilih karya yang lebih mudah secara teknis”. Padahal itu salah besar! Nah di NYMO ada kriteria ini, untuk menilai apakah pilihannya tepat secara kesulitan teknis.
Q : Untuk kategori instrumen lain, apakah terdiri dari 5 instrumen yang ada di poster saja? Atau diperbolehkan instrumen yang lainnya? Terus lagu wajibnya bagaimana?
AS : Bisa untuk semua instrumen, bahkan yang langka di Indonesia pun boleh, seperti misalnya euphonium, english horn dll. Lagu wajib bisa ambil satu nomor dari “Friendship Set to Music”, karena itu memang saya tulis untuk 1 instrumen melodik dan piano, dan bisa di-transpose sesuai kebutuhan instrumen. Kalau butuh transpose yang agak lebih rumit, bukan hanya 1 oktaf ke bawah untuk fagot atau cello misalnya tapi untuk viola atau clarinet, bisa hubungi saya lewat Instagram @anandasukarlan nanti akan dikirim dalam format pdf . Tapi kalau mau karya yang lain, bisa request ke saya, karena saya sih sudah menulis untuk semua instrumen (bahkan inginnya untuk ondes martenot, gitu, tapi belum ada ondes martenot di Indonesia kan? Saya ingat zaman saya main Turangalila Symphonie selalu bersama Valerie Hartmann-Claverie, kita tour ke beberapa kota di Spanyol, dan sampai sekarang saya masih impressed dengan instrumen itu).
Q : Untuk kategori vocal ensemble, sertifikat untuk group atau setiap orang / member mendapatkan sertifikat?
AS : Sertifikat diberikan kepada tiap anggota, tapi piala atau medali satu saja untuk seluruh group.
Q : Untuk kategori non profesional selain piano, apakah sama dengan instrumen lain yang membebaskan boleh atau tidak menggunakan instrumen pendamping? Untuk instrumen pendamping, apakah boleh lebih dari 2 instrumen?
AS : Pengertian saya musik pendamping ya 1 instrument aja. Boleh saja kalau mau lebih, toh biaya ditanggung peserta. Sedangkan instrumen, kami hanya menyediakan piano. Dan untuk pertanyaan pertama, boleh saja solo tanpa pendamping, misalnya main suite untuk cello dari Benjamin Britten atau Johann Sebastian Bach, atau Caprices dari Paganini untuk biola solo, atau karya saya untuk biola solo “Relationships”
Q : Apakah ada kegiatan-kegiatan menjelang KPN+ dimana Ananda akan memberi ceramah, masterclasses, diskusi dll mempersiapkan para (calon) peserta untuk tampil secara prima?
AS: Sudah sejak bulan April ini saya ke Lampung dan Samarinda & Balikpapan, baik masterclasses maupun temu muka/tanya jawab. Yang temu muka itu bukan hanya untuk peserta, tapi siapa saja termasuk orang yang “awam” musik. Setelah balik dari Spanyol, bulan Juni nanti saya lanjut ke Jawa Tengah dan Jogja. Bukan hanya mempersiapkan untuk KPN+ 2026, tapi juga membuka mata bahwa musik itu bukan sesuatu yang hanya dipelajari sambil lalu. A work of art is never finished, only abandoned. Dalam proses penulisan karya seni, bahkan sang komponis atau seniman pun tidak pernah meraih konsep artistik yang ada di kepalanya secara paripurna di atas kertas atau kanvas. Coba dengarkan deh penjelasan saya
Q : Ada durasi maximum untuk penampilan, tapi adakah durasi minimum? Terutama untuk tingkat-tingkat menengah dan lanjutan yang cukup panjang durasinya.
AS : Tidak perlu memilih karya yang panjang, ingat batasan waktu adalah MAXIMUM. Tidak perlu harus memenuhi durasi maximum tersebut. Lagi-lagi, yang dinilai adalah kualitas permainan, bukan sulitnya karya yang dipilih atau durasi.
Q: Di KPN+ tahun-tahun kemarin, ada beberapa peserta yang permainannya dipotong oleh juri. Apa sebabnya, dan apakah ini mempengaruhi nilai?
AS : Kalau durasinya kepanjangan, juri akan memotong permainannya. Ini sama sekali tidak mempengaruhi penilaian. Tapi ada juga yang karena peserta tiba-tiba lupa (blank) dan bingung untuk melanjutkan permainannya. Nah ini kalau memang sudah benar-benar macet, kan lebih baik disudahi karena memang pasti tidak akan bisa lanjut ke babak berikutnya. Btw, di babak final biasanya tidak pernah lagi ada kejadian seperti ini, karena semua yang masuk final pasti sudah tahu cara mengantisipasi “blank” seperti ini. Ada caranya, dan tidak perlu gugup! Kalaupun terjadi, jadikanlah pengalaman ini sebagai pelajaran, jangan sampai terulang lagi. Ada banyak cara mengatasi ini, dan ini adalah bagian dari “resiko pekerjaan” sebagai seorang performer. Seorang performer bukan seseorang yang selalu berhasil, tapi yang bisa bangun dari kegagalan, karena motto kita cuma satu : The Show Must Go On.
