tulisan Ananda Sukarlan
Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca : https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/)

Saya ingin melebarkan sedikit artikel yang singkat dan padat itu untuk lebih menjelaskannya. Kalau dari proses kreatif, saya bisa mengibaratkan puisi itu sel telur, dan musik (tepatnya motif, yaitu elemen terkecil di dalam karya musik) itu sperma. Di sini saya menjelaskan sejak “sperma bertemu dengan sel telur”, “proses kehamilan” hingga “lahirnya si bayi” bernama tembang puitik :
https://rilis.id/Kolom/Berita/Membebaskan-Musik-dari-Penjara-Puisi-Berbahasa-Indonesia-ueclZij
Tulisan saya itu lahir memang dipicu oleh wawancara Ikhsan Risfandi dengan Riri Satria, tapi juga untuk menutup Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2025 yang telah kami selenggarakan di 11 kota. Kata “plus” sejak 2024 menandakan bahwa kompetisi ini sekarang dibuka untuk semua instrumen (bukan hanya piano) dan juga vokal klasik, sampai saat ini genre Tembang Puitik atau art song. Tahun 2026 nanti kami membuka kategori baru, yaitu Vocal Ensemble, yaitu grup vokalis mulai dari 3 orang sampai semacam “chamber choir” yang berjumlah belasan personel. Ini atas saran, permintaan dan nasehat artistik dari berbagai tokoh seperti Agastya Rama Listya (mantan dekan musik Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga), Patrisna May Widuri (mitra penyelenggara KPN+ di Surabaya dan juga pendiri kompetisi “Tembang Puitik Ananda Sukarlan” tahun 2011 yang sekarang terintegrasi di Ananda Sukarlan Award) dan banyak vokalis lainnya. Vocal Ensemble ini juga menyanyikan karya-karya yang berdasarkan puisi, hanya saja puisi itu membutuhkan lebih dari 1 vokalis, misalnya menceritakan dialog, atau seorang narrator dan pelaku.
Kompetisi ini terbukti mulai membuka mata para vokalis ke karya para sastrawan. Vokalis juara I, Maria Gabrielle Brigita menyanyikan antara lain “Dari Duka Masa Lalu” dari puisi Sihar Ramses Simatupang, sedangkan juara II, Adisa Tiara Kinasihing Ramadhan menampilkan “Seonggok Bangkai” dari puisi Ewith Bahar.
Puisi Ewith Bahar ini adalah favorit para vokalis tahun 2025 ini. Tapi kemudian mereka kan harus mengganti repertoire di babak final. Nah, puisi Riri Satria, “Dialog Sesama Virus Corona Tentang Koruptor” yang menjadi favorit di final, mungkin karena tingkat virtuositasnya yang cukup tinggi. Kebetulan, baik puisi Ewith Bahar maupun Riri Satria mendeskripsikan pandemi Covid-19, tapi dengan cara yang sangat berbeda. Kelihatannya para vokalis tertarik dengan tema yang masih sangat melekat di benak kita ini.
Sepertinya para vokalis dan sastrawan itu baru saling bertemu muka di saat para penyair datang dan menyaksikan mereka tampil, tapi ini langkah pertama untuk saling berkolaborasi antar dua bidang seni, yaitu lewat produk seni mereka. Alangkah baiknya jika para vokalis juga telah mengenal para penyair saat mereka mempersiapkan konser mereka. Saya juga melihat bahwa sekarang para vokalis lebih mengeksplorasi puisi-puisi nama-nama “baru” buat mereka seperti Muhammad Subhan, Joshua Igho, Rissa Churria dll. Prosesnya sudah kelihatan terbalik : mereka membaca puisinya dahulu, dan baru mencari siapa itu penyairnya. Kita bisa lihat bahwa sebelum pandemi Sapardi Djoko Damono, Helvy Tiana Rosa atau Chairil Anwar adalah favorit para vokalis baik di KPN (dulu belum pakai “plus”) atau Ananda Sukarlan Award, saya hampir yakin karena nama mereka yang lebih “terkenal”.
Saya bahagia bisa menjadi ‘jembatan’ untuk para vokalis dan penyair. Ini juga menunjukkan bahwa musik klasik, seperti sastra, tetap hidup dan relevan dengan situasi saat ini dan sejarah masa lalu.
