“Tulisan Ananda Sukarlan, menjelang Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026”
Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) telah mengangkat banyak “trend” yang, walaupun sudah eksis berabad-abad di Eropa, tapi masih cukup baru di dunia musik klasik di tanah air. Ingat loh, walaupun ada kata “piano”, tapi juga ada “plus” di KPN+, yang menandakan kompetisi ini bukan hanya untuk piano tapi untuk semua instrumen dan vokal klasik (kata “plus” ini ditambahkan tahun 2024).
Tapi memang “trend” yang terangkat di KPN+ ini ada hubungannya dengan piano, yaitu sejak tahun 2025 lalu : piano 4 tangan (4-hands piano, atau piano duet). Sebetulnya ini ide yang dipopulerkan oleh mitra penyelenggara KPN+ di Bekasi, Signature Music Academy dan pimpinannya, Fabian Febiano, tahun lalu. Tentu ada beberapa pasangan piano duet di kota-kota lain, tapi tahun lalu di region Bekasi dari 41 pianis peserta, 18 diantaranya adalah pasangan piano duet (yang berarti adalah 9 pasang).

Kategori yang saya kira tidak akan dianggap terlalu serius di Indonesia ini ternyata menjadi sangat nge-hitz, baik oleh guru maupun oleh murid! Baca deh :
https://jernih.co/crispy/ada-yang-istimewa-di-dunia-piano-klasik-di-bekasi/#google_vignette
Sejak adanya KPN+, permainan piano 4 tangan menjadi sangat efektif dalam dunia pendidikan di Indonesia, terutama untuk melawan efek negatif yang ditimbulkan oleh teknologi smartphone yang membuat daya tahan fokus (attention span) anak-anak menjadi sangat pendek. Bermain piano bersama membangun kembali hubungan antar manusia yang dipisah oleh smartphone dengan bahasa yang sangat universal, yaitu musik. Saya sendiri tidak pernah mengasosiasikan permainan piano 4 tangan sebagai “repertoar yang mudah secara teknis”, walaupun saya banyak menuliskannya saat anak saya, Alicia Pirena, masih berusia satu digit, untuk kami mainkan berdua. Waktu itu (untungnya) smartphone belum “menguasai” kehidupan kita. Saya hanya menuliskannya untuk bonding, atau misalnya karena mamanya sedang sibuk sesuatu. Saya bikin dengan judul-judul kue yang sedang dibikin oleh mamanya di dapur, seperti Strawberry Cheesecake, Chocolate Mousse dll., dan saya mengajaknya supaya Alicia tidak menggerecoki mamanya yang sedang mengolah adonan kue.
Selain itu saya juga mengambil melodi (atau sekedar motif) dari beberapa lagu Natal dan memberi “plot twist” (mungkin karena saya hanya selalu ikutan pesta-pestanya, tapi tidak merayakannya secara religius) untuk 4-tangan. Nah beberapa karya ini memang populer dimainkan di akhir tahun. Akhir-akhir ini saya juga membuat “Nusantara Bersama” di mana karya 4-tangan berdasarkan lagu-lagu daerah Nusantara itu bisa dimainkan untuk dua tangan saja. Jadi ada dua opsi : sebagai duet dan sebagai solo.
Salah satu karya saya yang tersulit secara teknis justru karya 4 tangan “…and the twain shall meet” yang dipesan saat festival Berlin dan Jakarta sebagai “sister city” tahun 2011 dan waktu itu dimainkan oleh pianis kembar Sonja dan Shanti Sungkono, kelahiran Indonesia yang memang telah tinggal dan berkarir di Jerman.
Selama beberapa bulan terakhir ini saya banyak bereksperimen dengan genre ini, menggunakan melodi dan harmoni The Beatles yang jenius itu. Intinya, saya ingin membangun repertoar untuk para pianis muda supaya bisa melatih teknik-teknik dasar, seperti tangganada atau polifoni, tapi : 1. tidak membosankan dan 2. ada yang diajak ngobrol selama (dan sebelum & sesudah) latihan. Seperti banyak guru piano tahu, “finger exercises” seperti yang dibikin oleh Hanon, Czerny dsb. itu lebih banyak memakan korban anak-anak yang kemudian berhenti main piano, daripada kegunaannya. Kalau soal kegunaan, terus terang dari pengalaman saya sendiri sih saya tidak merasakannya.
Untuk KPN+ tahun ini, jumlah pasangan piano duet meningkat secara signifikan : di Medan ada 10 pasang, Lampung 7 pasang dan tentu Bekasi (sampai saat ini pendaftaran belum ditutup, tapi jumlahnya sudah mencapai belasan pasangan). Saya dengar, beberapa kota lainnya juga ada lumayan banyak pasangan piano duet, dan penutupan pendaftaran memang masih agak lama. Biasalah, orang kita sering menunggu last minute untuk mendaftar!
Sejarah singkat Piano Duet
Secara teoritik, instrumen harmonik seperti harpa juga bisa dimainkan “4 tangan” tapi dalam sejarahnya, piano lah yang menjadi instrumen yang dapat mempraktekkan hal ini dengan paripurna.
Saat kita duduk bersama di bangku piano waktu kecil — dengan tangan yang sesekali bersentuhan ketika kita memainkan bagian tangan yang saling bersilangan dalam karya Wolfgang Amadeus Mozart K.19d — yang dicipta tahun 1765, berarti saat Mozart berusia 9 tahun — kita sedang memainkan sesuatu yang kini “biasa” padahal dulunya dianggap skandal. Musik piano empat tangan tidak sekadar muncul dari kebutuhan musikal semata; musik ini lahir dari perpaduan unik antara inovasi teknologi, transformasi sosial, dan penafsiran ulang yang cukup berani terhadap tata krama abad ke-18 yang baku.
Kisahnya bermula jauh sebelumnya, saat dua pemain harus berdesakan duduk di satu bangku piano. Ernst Wilhelm Wolf (dibaptis 25 February 1735, meninggal akhir November 1792) menulis sonata untuk dua pemain di Weimar pada tahun 1760-an, jauh sebelum ada orang yang terpikir untuk mencipta musik yang dianggap “unik” pada masa itu. Wolf, yang menetap di Weimar saat itu dan menjalin persahabatan erat dengan Carl Philipp Emanuel Bach (anak dari Johann Sebastian Bach yang lebih kita kenal), menciptakan karya-karya ini untuk pertunjukan bersuasana intim di lingkungan istana. Saat memainkan karya-karya empat tangan Wolf yang masih eksis hingga kini, kita dapat merasakan pengaruh gaya *Empfindsamkeit*— perubahan emosi yang mendadak, melodi dengan alur yang tajam dan tak terduga, serta caranya memanfaatkan interaksi antara bagian *primo* dan *secondo* untuk menciptakan dialog yang dramatis.
Joseph Haydn dan Ludwig von Beethoven setahu saya tidak menciptakan karya yang signifikan untuk genre yang super akrab dan gaul ini—kemungkinan besar karena Haydn hidup dalam keterasingan sosial saat bermukim di Istana Esterházy di Hungaria, sedangkan Beethoven mungkin merasa terasing akibat deraan ketulian yang penuh penderitaan (duh dramatis banget ya). Namun, pada diri Schubert, musik orisinal untuk permainan empat tangan menemukan pendukung terbesarnya; bahkan, karya pertama yang tercantum dalam katalog musik komposer Austria tersebut—sebuah katalog yang disusun oleh Otto Erich Deutsch — adalah *Fantasia in G* untuk piano duet yang diciptakan tahun 1810, saat Schubert masih berusia belasan tahun. Kemudian genre ini “meledak” dengan Hungarian Dances karya Johannes Brahms dan Slavonic Dances dari Antonin Dvorak.
Tiga komponis Perancis menyusul : karya Maurice Ravel, “Ma mère l’oye” (‘Mother Goose’, 1908-10) yang super nge-hitz, juga “Dolly” dari Gabriel Faure dan “Petite Suite” dari Claude Debussy.
Nah setelah itu agak vakum nih, makanya saya ingin hidupkan lagi. Keren kan kalau Indonesia menjadi pelopor kebangkitan piano 4-tangan? Teman-teman mitra penyelenggara Kompetisi Piano Nusantara Plus, bantuin yah ! Atau ada trend lain dengan instrumen yang lain yang mau diangkat oleh mitra-mitra penyelenggara KPN+ di region yang lain? Whatever it is, GRWM ! Ayo ayo ayo ayo ………
