
Cuaca boleh tidak mendukung, namun spirit teras atas tak akan mati. Tekad mereka yang keringatnya bercucur, suaranya meradang, dan jarinya lecet beradu dengan senar gitar, tidak bisa padam hanya karena terguyur hujan yang tiba-tiba turun menjelang open gate Musik Teras Atas (MTA) #4 pada Kamis (27/4) petang. Meski harus diakui, lumayan bikin repot dan jadi sebab pengunduran acara beberapa menit.
Meski tidak jadi main di rooftop lantai tiga Gedung KITA Anak Negeri, yang namanya MTA ya MTA. Bukan sekadar pentas musik yang dimainkan di rooftop gedung, melainkan sebuah semangat dan penghayatan dari jiwa-jiwa yang merindukan kebebasan bermusik. Yang tidak dibawahi pengaruh atau kepentingan, melainkan permainan musik yang apa adanya, terbang bebas menjelajah langit biru. Karena itu, penampilan dari tiga talent MTA #4, Duta Pamungkas, Nick, dan The Rubber ’69 tidak lantas loyo, bahkan kebangetan enerjik.

The Rubber ’69 menjadi pembuka perhelatan. Dengan bekal musik rock n’ roll menghentak yang banyak dipengaruhi The Beatles, band ini berhasil mencuri perhatian. Simak saja cover lagu cover Don’t Let Me Down-nya The Beatles. Dimainkan persis seperti saat John Lennon dkk memainkannya; teriak-teriak dan apa adanya. Melodinya mengalun membawa sekelumit kisah masa lalu. Benarlah bahwa penampilan mereka ini bisa didefinisikan ‘keren sekali’.

Nostalgia tidak sampai disitu, NICK yang naik panggung selanjutnya membawa kita kembali ke sisi lain memori. Kalau sebelumnya The Rubber ’69 membawa kita bernostalgia dengan musik-musik rock n’ roll Britania Raya, NICK membawa kita bernostalgia ke daratan Amerika melalui musik-musik rock alternatif dengan bunyi-bunyian elektronik. Memainkan lagu-lagu andalan mereka dari album terbaru berjudul ‘Frekuensi’, musik NICK membuat berhasil membuat para penonton, kalau tidak lompat-lompat, minimal bertepuk tangan sesuai irama sembari menggeleng kepala kenikmatan.

Sebelum malam berakhir, Duta Pamungkas bersama seorang rekannya menghantarkan musik akustik yang tak main-main. Awalnya, mungkin kamu akan menyangka Duta merupakan tipikal solois-solois beraliran folk biasa yang sudah lumayan banyak menghiasi skena musik independen Tanah Air, namun semakin lama diperhatikan, makin kelihatan kekhasan lagu-lagu Duta yang memiliki kekhasan tersendiri dibanding solois sealiran lainnya. Penggunaan variasi bunyinya menarik, unsur string yang sangat melodik, serta kemampuan vokal yang sesuai kebutuhan, sungguh-sungguh menjadikan Duta Pamungkas sebagai salah satu solois masa depan Indonesia yang menjanjikan.
Memang sulit membayangkannya kalau tidak melihat sendiri. Nah, bagaimana kalau kamu melihat video teaser berikut ini saja?
Baca Juga
