Sebuah catatan dari Ananda Sukarlan
Saya harus memulai tulisan ini dengan “disclaimer” : saya bukan pengajar musik yang tetap, tidak punya sekolah musik atau mengajar di sekolah musik dan memiliki murid yang secara periodik datang ke saya.

Uneg-uneg ini saya tujukan kepada mereka yang menawarkan les musik, khususnya pada 1. Instrumen yang mana mereka tidak terlalu menguasai, atau 2. sekedar membeli semacam “franchise” atau paket tentang pendidikan bermain instrumen tanpa menguasai cara bermain itu sendiri atau 3. instrumen yang bukan bidang keahlian mereka:
Saya sendiri mulai dengan yang terakhir, nomor 3, karena ini saya sering lakukan, tapi CATAT : saya mengajar dalam posisi sebagai komponis dari karya yang mereka mainkan. Saya tidak mengajarkan mereka cara bermainnya, tekniknya. Saya menunjukkan bagaimana musik itu berbunyi di kepala saya, strukturnya, temponya, dan dalam kasus para vokalis, bagaimana puisi tersebut saya transformasikan menjadi tembang puitik. Jadi, para vokalis dan instrumentalis non piano yang datang ke saya itu sudah jauh dari seorang pemula (bahkan ada kasus ia memiliki ide dan konsep yang berbeda dengan saya, sang komponisnya. Nah di sinilah diskusi mulai menarik, karena saya justru menghargai konsep yang berbeda dengan konsep awal saya saat proses kreatif karya tersebut.)
Saya mengerti bahwa setiap orang –saya pun demikian — berusaha mencari nafkah. Lebih banyak siswa berarti lebih banyak pendapatan, dan mengajar instrumen tambahan mungkin tampak seperti cara praktis untuk memperluas peluang. Namun, ada tanggung jawab yang menyertai sebutan / gelar sebagai guru.
Ketika seorang siswa mendaftar les, orang tua menaruh kepercayaan pada pengetahuan dan kemampuan guru. Mereka berasumsi bahwa teknik yang diajarkan benar dan bahwa anak mereka menerima fondasi yang tepat untuk kemudian “membangun rumah” sesuai keinginannya, apakah tipe jazz, klasik dll. Sayangnya, ini tidak selalu terjadi.
Postur yang tepat, dan di instrumen seperti biola atau flute, cara memegang instrumen atau penggesek serta posisi instrumen bukanlah detail kecil. Itu adalah keterampilan mendasar yang memengaruhi produksi nada, intonasi, kenyamanan, dan kemajuan jangka panjang. Kebiasaan yang salah yang dipelajari di awal dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk diperbaiki. Beberapa siswa menjadi frustrasi dan berhenti, percaya bahwa mereka kurang berbakat, padahal sebenarnya mereka hanya diberi instruksi yang tidak tepat.
Menjadi pemula bukanlah alasan untuk teknik yang salah. Setiap musikus, bagaimana pun piawainya dia, memulai sebagai pemula. Peran guru adalah membimbing mereka menuju kebiasaan yang benar sejak pelajaran pertama. Meskipun kesempurnaan tidak dapat diharapkan, arahan yang tepat tentu harus ada.
Jika Anda bukan seorang pemain instrumen, atau jika Anda belum meluangkan waktu untuk mempelajari pedagogi dan teknik instrumen tersebut, mohon pertimbangkan apakah Anda benar-benar memenuhi syarat untuk mengajar instrumen tersebut. Belum lagi instrumen seperti trompet apalagi trombon adalah instrumen yang berat, dan harus ada pengawasan dalam memegangnya saat bermain sehingga otot tidak “salah posisi”. Dan yang paling mengerikan adalah instrumen yang beratnya justru 0 kg, alias ada di dalam diri kita sendiri : vokal. Pita suara itu instrumen seorang vokalis, jika rusak, akan sulit direparasi. Semua orang mengaku sebagai penyanyi, dan “bisa” menyanyi, tapi menyanyi dengan teknik yang benar itu tidak sederhana. Akhirnya, seorang vokalis harus bisa konser menggunakan “instrumennya” selama satu jam lebih. Tidak ada salahnya untuk merujuk siswa kepada seseorang yang lebih berpengalaman. Bahkan, itu menunjukkan profesionalisme dan kepedulian yang tulus terhadap perkembangan siswa.
Masalah ini bukan tentang persaingan antar guru. Ini bukan tentang rebutan siswa atau membatasi peluang. Ini tentang melindungi siswa. Ini tentang memastikan bahwa orang tua menerima nilai yang mereka bayarkan dan bahwa calon musisi menerima pengajaran berkualitas yang layak mereka dapatkan.
Pendidikan musik harus dibangun di atas kompetensi, integritas, dan komitmen untuk pembelajaran berkelanjutan. Sebelum menerima seorang siswa, setiap guru harus jujur bertanya: “Apakah saya membantu siswa ini membangun fondasi yang kuat, atau apakah saya mewariskan kebiasaan yang pada akhirnya harus dikoreksi oleh orang lain (kalau belum terlambat)?”
Siswa kita layak mendapatkan guru yang mengutamakan pertumbuhan mereka di atas kenyamanan dan pendidikan mereka di atas keuntungan.
Saya sadar, saya ini seperti gelandangan: menclok sana menclok sini memberi seminar, masterclass dll., baik untuk piano ataupun instrumen lain (sebagai komponis) tanpa mengamati perkembangan seorang murid. Ini saya baru selesai mengajar di Bologna (Italia) dan saya menulis ini di kamar hotel setelah saya mengajar. Beberapa bulan lalu saya melakukannya seminggu di Sydney (Australia), kemudian di tanah air di beberapa kota seperti Lampung, Samarinda, beberapa hari saja dan bulan Juni ini setelah balik ke Indonesia saya akan ke Yogyakarta, juga beberapa hari saja. Sering juga saya menerima siswa yang ingin ikut kompetisi atau ujian yang mendatangi saya di kantor saya di Ananda Sukarlan Center, maximal banget 3 jam saja bersama saya. Jadi saya tidak bisa mengklaim bahwa saya punya murid, itu semua murid orang lain yang butuh “second opinion” dari saya, atau (kebanyakan kasus) memainkan musik saya sehingga memang masukan dari komponisnya sendiri jauh lebih dibutuhkan.
Justru karena saya “tunawisma” begini, saya merasa saya harus menuliskan uneg-uneg saya ini, terutama karena waktu muda (sebelum masuk kuliah) saya juga pernah mengalami hal serupa. Beberapa bulan pertama di Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda saya habiskan di bawah proses “permak” dari dosen saya, Naum Khaimovich Grubert, memainkan tangganada yang sederhana, membongkar segala hal dari cara duduk sampai posisi tangan. Saya dengan bangga datang di hari pertama memperkenalkan diri dengan segala ke-pede-an membawa Piano Concerto dari Robert Schumann, yang kemudian harus saya tinggalkan dan diganti dengan sonata yang sangat mudah dari Joseph Haydn serta Nocturne (yang paling mudah dan populer — you know which, right?) dari Frederic Chopin.
Selain itu saya sudah menyaksikan ribuan musikus yang tampil, di Kompetisi Piano Nusantara Plus dan juga Ananda Sukarlan Award, dari berbagai instrumen dan vokal. Saya banyak melihat hasil yang tidak baik, tanpa tanggung jawab dari para guru sang peserta. Jadi, bolehkan menyampaikan uneg-uneg dan sedikit masukan ini? Jangan bilang “ngritik presiden, kirain jadi presiden gampang? Coba deh jadi presiden!”. Lah justru karena saya mengagumi para guru piano, saya bisanya cuma ngritik, tapi nggak jadi guru beneran, karena saya tahu itu pekerjaan yang bukan hanya mulia tapi juga sulit dan butuh kesabaran dan dedikasi yang tinggi !
