Tulisan Ananda Sukarlan
Hari Minggu 5 April nanti saya akan memperdanakan dua karya baru untuk piano dengan karakter sangat berbeda. Konser itu adalah “Melodies without Borders”, dimana saya akan tampil bersama dua pianis dengan disabilitas, yaitu Takeshi Kakehashi (tunanetra, dari Jepang) dan Michael Anthony Kwok (selain tunanetra juga penyandang autis, pemenang Ananda Sukarlan Award 2025) dan soprano Mariska Setiawan. Dengan Mariska saya akan mempersembahkan dua tembang puitik baru juga, dari puisi Nissa Rengganis dan Hening Wicara, selain karya-karya yang sudah sering ia nyanyikan dari puisi Judith Wright, Miguel Cervantes dan Joko Pinurbo. Konser akan berlangsung di Soehanna Hall (Energy Building, SCBD) pukul 3 sore. Selain karya baru saya, saya juga akan memainkan karya Toru Takemitsu (Jepang, 1930-1996) yang telah menjadi salah satu tokoh yang membuka mata saya sebagai seorang komponis.
Saya mulai dengan yang pendek dulu, yaitu “Serenata for Srinata”. Ini adalah sebuah “kado ulangtahun” permintaan dari sang ibunda Srinata yang akan merayakan ultahnya ke 25, tanggal 11 April nanti.
“Srinata, anak yg lama kami nanti & rindukan dengan harapan, perjuangan dan doa. Di tahun ke-8 perkawinan kami (‘nyaris’ kami harus menjalani proses bayi tabung), dia akhirnya hadir dalam keluarga kecil kami. Kehadirannya mengingatkan kami bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang punya makna”, demikian pesan Whatsapp sang ibunda kepada saya.
Karena saya mengenal Nata (panggilan kesayangannya) dan lebih lagi orangtuanya, tidak sulit bagi saya untuk menulis karya ini. Nah tapi ternyata ada kesulitan sendiri, mungkin karena sang ibunda, Karini Nugroho (yang by the way adalah kakak dari penulis Ayu Utami yang saya sangat idolakan) menyebut bahwa salah satu karya saya yang paling ia sukai adalah “Lonely Child”, “tapi jangan sedih seperti itu dong”, katanya. Lonely Child adalah karya saya yang sangat personal (seperti 80% dari karya saya yang lain!) yang fokus kepada … kepada …. ya apa lagi selain rasa kesendirian saya. Ada sedikit kesamaan saya dengan Nata, di mana dia pendiam dan suka menyendiri. Dia lebih beruntung karena dia bukan orang yang harus sering bersosialisasi dan bicara di depan publik, jadi dia tidak perlu sering ‘acting’ sebagai seorang extrovert.
Jadilah dua karya, yang sampai saat ini (Senin, 30 Maret) belum saya tentukan, apakah menjadi Serenata no. 1 dan 2, dan kalaupun demikian, mana yang nomor 1 dan mana yang nomor 2. Salah satunya, yang lebih pendek (dibawah 3 menit) terpengaruh oleh “Lonely Child” tapi lebih ke karakter kedamaian (sesuai dengan judulnya yang berasal dari kata “serena” yang artinya damai), bukan kesendirian.
(“Lonely Child” dimainkan oleh Ayunia Indri Saputro, pemenang ASA yang sedang mengambil gelar Doktor Musik di University of Michigan :
Satu lagi adalah “Panggil Aku Kartini Saja”, yang sebetulnya sudah saya selesaikan akhir tahun lalu, tapi saya rasa ini adalah konser yang tepat untuk memperdanakannya, menyongsong Hari Kartini 21 April nanti.
Saya sudah membaca “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer sekitar tahun 2000-an. Lewat tulisannya, Pramoedya membuatku melihat Kartini bukan sebagai mitos, melainkan gadis pemberani yang benar-benar ingin memajukan bangsanya. Sangat menginspirasi untuk ditransformasi menjadi musik, dan memang saya sudah memiliki sketsa tentang musik yang ingin saya buat sejak saya membacanya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana supaya musik itu memiliki struktur yang koheren, dan tentu tidak terlalu panjang sehingga dapat dijadikan bahan untuk konser piano siapapun. Itu sebabnya musik saya — jika dihubungkan langsung dengan buku Pramoedya — tidak kronologis. Bahkan karya yang saya mainkan di konser yang diselenggarakan oleh Lions Club hari Minggu, 5 April nanti adalah mungkin “jilid pertama” dari karya-karya selanjutnya, yang mungkin bukan untuk piano solo.
Sebagai motif melodik, saya mengambil motif dari lagu “Ibu Kita Kartini” bagian depannya (bukan melodi lanjutannya karena ada kemiripan dengan lagu Manado “O Inani Keke” — sebuah kebetulan?). Itu pun sebetulnya motif semua orang, karena notnya adalah Do Re Mi Fa Sol, kemudian turun Mi Do. Sebuah motif yang sangat sederhana dan umum yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan.
Dari judul bukunya saja, saya bisa merasakan kerendahan hati Kartini. Sebelum membacanya, saya seperti kebanyakan orang lain: hanya tahu bahwa tanggal 21 April dirayakan sebagai Hari Kartini karena ia menulis surat-surat yang dikumpulkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Saya juga belum pernah membaca kumpulan 105 surat pribadinya itu. Lewat buku Pramoedya Ananta Toer ini, saya akhirnya mengenal Kartini lebih dekat sebagai manusia biasa.
“Panggil Aku Kartini Saja” kaya akan kedalaman emosi, drama sejarah, dan suara hati Kartini — bahan yang sempurna untuk diadaptasi ke musik.
Pram memulai cerita dari kekalahan Perang Diponegoro dan politik tanam paksa yang menyengsarakan rakyat. Lalu ia jelaskan silsilah keluarga Kartini dari golongan bangsawan Jawa. Selanjutnya, kisah masa kecilnya, sekolah, hidup dalam pingitan (penyekapan), hingga ia bebas melihat dunia luar di Jepara. Saat dewasa, Kartini banyak membaca buku sebagai pelarian dari budaya pingitan Jawa. Ia melihat jurang besar antara orang pribumi dan Belanda: kemiskinan, sistem kasta, serta feodalisme yang membuatnya resah. Tapi ia juga mengagumi dunia Barat karena menguasai bahasa Belanda dan menemukan jalan kemajuan lewat bacaan.
Kartini berjuang lewat seni: menulis, membatik dan ternyata juga melukis. Ia bahkan membantu membuat Jepara terkenal dengan ukiran kayunya di mata orang Belanda.
Di akhir buku, Pram ceritakan pandangan Kartini tentang Tuhan. Meski beragama Islam, ia terbuka pada ajaran agama lain (termasuk Injil), dan lebih menekankan kebajikan serta cinta. Ia sangat kritis, pintar mengamati, dan punya pikiran maju untuk perempuan di zamannya.
Pramoedya mendorong pembaca untuk melihat Kartini sebagai manusia yang kompleks, penuh kekurangan, namun luar biasa berani, bukan sekadar ikon simbolis. Itu sebabnya karakter “maskulin” di akhir karya musik saya ; sewaktu menuliskannya, saya mengira bahwa bagian itu “megah”, tapi saat saya sedang mencobanya di piano saat ini, ternyata lebih berbunyi “maskulin” daripada “berani” ….. itulah misteri komposisi musik. Dan melalui musik saya sendiri saya jadi bisa menangkap karakter “maskulin” di Kartini menurut interpretasi Pramoedya.
Saya juga mengakhirinya dengan polifoni yang cukup kompleks, terinspirasi dari berbagai karakter Kartini.
Buku ini dianggap sebagai salah satu karya non-fiksi/novelistik penting Pramoedya di luar novel-novel utamanya (seperti Kuartet Buru). Buku ini mencerminkan minatnya yang mendalam terhadap sejarah Indonesia, akar nasionalisme, dan peran para pemikir progresif. Banyak pembaca dan kritikus memuji buku ini karena membuat Kartini lebih mudah dipahami dan menginspirasi, sekaligus mengungkap tekanan sosial yang dihadapinya sebagai seorang wanita bangsawan Jawa di akhir masa kolonial.
Pramoedya menulis buku ini sebagai bentuk perlawanan yang disengaja terhadap citra Kartini yang resmi dan termitologikan yang dipromosikan dalam pendidikan Indonesia dan peringatan nasional (Hari Kartini pada 21 April). Dalam kata pengantarnya, Pram mengkritik bagaimana Kartini telah diubah menjadi sosok “mitos” atau “seperti dewi” yang jauh, yang mengurangi kebesarannya yang sebenarnya sebagai manusia biasa dengan perjuangan, kontradiksi, dan kedalaman. Ia bertujuan untuk menyajikan Kartini sebagai manusia nyata yang ide dan tindakannya radikal untuk zamannya.
Buku ini banyak mengambil inspirasi dari surat-surat terkenal Kartini sendiri (terutama yang dikumpulkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang / Dari Kegelapan Muncul Cahaya), konteks sejarah, dan penelitian mendalam Pramoedya tentang era kolonial dan feodal. Buku ini memadukan biografi, analisis sejarah, dan penceritaan naratif. Ringkasan Isi dan Plot Utama: Karya ini menelusuri kehidupan Kartini sejak kelahirannya di keluarga bangsawan Jawa (priyayi) di Jepara, Jawa Tengah, melalui masa kecilnya, pendidikan, pengasingan (pingitan), pernikahan, dan kematiannya yang prematur pada usia 25 tahun setelah melahirkan. Unsur-unsur kunci yang dibahas: Kehidupan awal dan pendidikan: Sebagai putri seorang bupati yang progresif, Kartini menerima pendidikan ala Belanda yang tidak biasa bagi gadis-gadis Jawa pada saat itu. Ia mengembangkan kecintaan pada membaca dan korespondensi dengan teman-teman Belanda (seperti sahabat penanya, Stella Hartshalt-Zeehandelaar), yang membuatnya terpapar ide-ide Eropa tentang kesetaraan, kebebasan, dan kemajuan.
Kartini digambarkan sebagai seorang wanita muda yang terpecah antara dunia aristokratnya yang istimewa namun membatasi dan kesadarannya yang semakin meningkat akan ketidakadilan. Ia dengan gigih menentang: Tradisi feodal dan adat Jawa yang membuat perempuan terisolasi dan pernikahan yang diatur.
Pramoedya menyoroti nilai-nilai kemanusiaannya, empati terhadap penderitaan rakyat jelata, dan visinya tentang kemajuan bagi seluruh bangsa. Pram juga menekankan pergumulan batin Kartini — kesepian, kemarahan, keputusasaan, dan ketahanan — daripada menyajikan kisah heroik yang disederhanakan. Ia menggambarkan Kartini bukan hanya sebagai pelopor feminisme, tetapi juga sebagai seseorang yang menantang kekuasaan kolonial dan feodalisme pribumi.
Jadi, saya ingin membuat “disclaimer” bahwa musik saya bukan tentang Kartini, tapi tentang interpretasi Pramoedya Ananta Toer tentang Kartini (yang mungkin tidak 100% akurat juga).
Seandainya buku sejarah ditulis dengan gaya Pramoedya, mungkin saya akan sedikit lebih menyukai pelajaran sejarah di masa sekolah dulu! Saya hanya ingat bahwa perang Diponegoro itu berlangsung selama 5 menit, yaitu dari 1825-1830 ….. ya, ya, segitunya saya bosan dengan sejarah yang menurut saya waktu itu sebagai masa lalu yang tidak ada gunanya untuk diingat-ingat.
