Begitu penulis mendengar album debut Adrian Yunan ini, penulis langsung teringat dengan almarhum Chrisye. Meski sudah akrab dengan suara Adrian sejak ia mengisi departemen vokal menggantikan Cholil yang ke luar negeri, ketika mendengar Sintas rasanya seperti me-rediscover sosok seorang Adrian. Yang bukan lagi sebagai bassis non-aktif dan vokalis penggantinya Efek Rumah Kaca (ERK), melainkan seorang Adrian Yunan sebagai seorang musisi yang mandiri seutuhnya.
Di luar dugaan, Sintas ternyata hadir dalam bentuk yang tak sesendu penulis pikir. Dengan karakter vokal yang seperti itu dan model lirik-lirik yang Adrian tulis di ERK, yang kebanyakan sangat sendu, tentu membuat penulis mengira album ini bakalan jadi dalang penguras air mata. Rupanya, secara musikal Sintas justru tak begitu sendu. Beberapa malah bisa dibilang ceria.
Yang tahu lirik-lirik ciptaan Adrian di ERK tentu sudah tahu bagaimana kualitas lirik-lirik yang dibikin pria ini. Lirik-lirik Sintas digali dari pengalaman yang sepenuhnya personal buat Adrian. Sangat asyik menyimak kata per kata yang dituturkan Adrian. Terasa dekat dan jelas, tidak ngawang dan abstrak seperti yang biasa ia tulis di ERK, tentu dalam arti yang bagus.
Album yang memuat sepuluh nomor yang dimulai dari “Mikrofon” sampai “Alzheimer” ini akan membantumu memaknai hidup dari sudut-sudut yang belum pernah kita pikirkan. Pokoknya, sebuah rilisan yang sangat bagus!
Baca Juga
Tidak terasa, Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan! Seperti yang bisa dilihat di Instagram @pianonusantaraplus , KPN+ 2026 akan dimulai di Medan akhir Agustus, dan tahun ini tetap terselenggara
Oleh Ananda Sukarlan Esai pendek ini ditulis oleh penyair Ikhsan Risfandi “Irzi” sebagai status Facebook-nya setelah saya kirimi partitur saya. Saya juga sematkan komentar penyair Tan Lioe Ie di bawahnya.
sebuah tulisan Ananda Sukarlan Selasa 27 Januari lalu saya konser sekaligus mengumumkan tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, di Four Seasons Jakarta. Acara itu hanya terbuka untuk para
tulisan Ananda Sukarlan Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca : https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/) Saya ingin
oleh Ananda Sukarlan Wah, nggak nyangka sih penyair kondang Madiun, Fileski Walidha Tanjung langsung menulis esai gara-gara saya WhatsApp tentang niat (yang sebetulnya sudah separo tertulis) membuat tembang puitik dari
