Wah diskusi, events dan perdebatan di dunia seni sebulan ini seru banget guys! Mungkin ada yang sulit ngikutin yah, saking banyaknya dan cepatnya bergulir semua kejadian, sedangkan kita juga sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing. Admin KITA akan berusaha merangkum yang kami bisa tangkap deh, karena semua diskusi dan perdebatan yang ada itu sangat membuka mata kita terhadap arah seni terutama musik klasik dan sastra.
Jadiiii, Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+, ini biangnya semua kehebohan ini) sudah dimulai, sampai saat ini sukses dan semoga di kota-kota berikutnya juga — AMIIINN !. Di Medan lolos 25 finalis, Bandung 27 finalis dan Padang 19 finalis. KPN+ Bekasi weekend ini loh, dimulai dengan “Meet & Greet” dengan Ananda Sukarlan hari Sabtu, 27 September pk. 17.30 di Hotel Santika Mega Bekasi (sudah reservasi? Segera ya, ikutan ngrumpi sambil ngopi gratis!) Berikut rangkuman media coverage-nya secara kronologis
Padang Panjang : https://majalahelipsis.id/ranah-minang-torehkan-sejarah-kompetisi-musik-klasik-perdana-tercatat-di-sumatra-barat/
Nah, di sela-sela itu kita kedatangan Trio Saint-Saens dari Perancis, yang memberi masterclasses kepada para musikus muda Indonesia terpilih, antara lain siswa KITA, Yonggi Fayden Cordias Purba, dan instruktur piano KITA Anak Negeri, Nur Khaled Aziz yang meraih kejuaraan di Kompetisi Piano Nusantara Plus 2024 dan Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025. Ini aman tenteram hehehe …. sampai di tengah-tengah kunjungan mereka, terselenggara Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta, 11-13 September, yang diskusinya nggak habis-habis sampai sekarang ! Bahkan dunia santri pun sekarang tertarik ke sini . Baca deh
Seperti bisa dibaca di situ, itu disebabkan oleh penampilan Ananda Sukarlan dan pemenang utama KPN+ 2024 dan ASA 2025, Ratnaganadi Paramita, mempersembahkan 4 nomor tembang puitiknya yang terbaru dari puisi Doddi Ahmad Fauji, Shantined, Rissa Churria dan Azizah Zubaer. Dari diskusi soal Tembang Puitik dan bedanya dengan musikalisasi puisi, sampailah ke perdebatan soal festivalnya itu sendiri, dan meluas ke festival literasi / puisi pada umumnya di Indonesia. Nah jadi seru. Untuk singkatnya, silakan baca sendiri deh secara kronologis, dimulai dengan artikel KITA sebelum ini tentang konser Ratnaganadi & Ananda sendiri : ( https://kitaanaknegeri.com/perbincangan-penyair-depok-shantined-dengan-ananda-sukarlan-pasca-ppn-xiii-2025-di-jakarta/ ) . Ini lanjutannya yang menjadi bola salju yang bergulir :
https://www.negerikertas.com/2025/09/sastra-echo-chamber-dan-krisis.html
Terakhir adalah kemarin, saat Ananda pun menulis di Facebook-nya (sastrawan itu masih sangat Facebookers, mereka pernah aktif di twitter tapi sekarang balik ke FB — entah kenapa. Instagram? Forget it lah, mereka tidak ada di sana hahaha). Begini tulisannya :
Wah diskusi & perdebatan masih terus bergulir, saya suka nih. Nah, untuk ini saya ingin menambahkan.
Muhammad Subhan bilang di artikel di link ini “Sering kali, untuk menghibur diri, sastrawan—dalam hal ini penyair—beretorika “yang penting tetap berkarya.” Namun, sikap seperti ini kerap berujung pada romantisme steril.”
IMHO: Kita, seniman, tidak selalu “laku”, as you know. Contoh yang paling jelas adalah waktu pandemi. tiba-tiba tidak ada yang meminta karya kami, tidak ada konser. Apa kita harus diam saja? Nah, tidak kan ? Justru saat pandemi itu periode paling produktif dalam proses kreatif saya. Ada 6 nomor Rapsodia Nusantara dalam kurang dari 1 tahun. Untuk hitung-hitungan saja : saya sudah membuat 44 nomor Rapsodia Nusantara sejak 2007, yaitu 18 tahun. Dikurangi 6 berarti 38 nomor kan. Itu berarti 3-4 nomor dalam setahun rata-rata kan?
Belum lagi tembang puitik, di periode itu saya jadi mengenal banyak penyair dan puisi baru, dan hampir 100 tembang puitik tercipta juga dalam 1 tahun itu. Buat apa? Buat siapa? Yo Ndak tahu, Kok Nanya Saya. Yang saya justru discover 2-3 tahun sesudahnya, ada sedikit perbedaan dalam gaya musikal saya : progresi harmoni, kurva melodi dll dibanding karya-karya saya sebelum 2020. Jadi, musik saya berubah saat itu. “Develop”, istilah kerennya.
Di saat itu, semua seniman hidup dalam bubble-nya sendiri. Kadang kala, kita harus masuk ke bubble tersebut, tapi ada waktunya oksigen di bubble itu habis, dan kita butuh suntikan oksigen dari luar. Atau mengutip kata-kata komponis Sir Michael Tippett : “Kita harus menyepi ke puncak gunung, tapi setelah itu kita butuh turun dan ke pasar”. Nah, banyak seniman terperangkap di bubble-nya (atau tidak bisa “turun gunung”, kalau mengacu ke kata-kata Michael Tippett). Dan saat pandemi adalah saat terlama saya hidup di bubble saya, dan ternyata itu sangat, sangat berguna untuk proses kreatif dan artistik saya, karena saya TIDAK MEMIKIRKAN UNTUK SIAPA SAYA MENULIS. Ga ada yg bayar, jadi kalo bukan donatur, elo ga boleh ngatur. Bahkan saya kena Covid yang mayan parah, dan saya mulai tidak yakin bahwa saya akan sembuh, tapi justru saat itu saya menulis terus di tempat tidur berbulan-bulan saat saya recovery, dan benar-benar berpikir “nanti terserah siapa yang menemukan partitur saya, silakan saja mainkan, dan konserkan. Kalau suka ya syukur, kalau tidak, ya saja ngomel-ngomel toh saya udah ga bisa denger”. Nah, setelah lockdown (atau apalah itu sebutan singkatan yang ganti-ganti melulu tapi keren dari pemerintah), saya pun keluar dari bubble dan menghirup oksigen dari dunia nyata lagi. So, here I am now guys! And there you are. Apakah karya seni kita sama seperti yang kita tulis sebelum pandemi? Kalau berbeda, apakah lebih baik? Lebih baik untuk siapa?
Pas di dalam bubble, integritas artistik yg kerja, pas di pasar, strategi bisnis yg kerja. Gitu deh
Status itu, terakhir dikomentari oleh sastrawan terkemuka Minang, Muhammad Subhan :
Setuju, Mas. Seniman perlu masuk ‘bubble’, tapi masalahnya seringkali ‘bubble’ itu berubah jadi menara gading. Si seniman betah berlama-lama di dalamnya, merasa “aman” dan “nyaman”, tapi lupa keluar dan berinteraksi dengan realitas yang lebih luas. Kalau terlalu lama di luar ‘bubble’, karya bisa larut jadi sekadar komoditas pasar. Tapi kalau terlalu lama di dalam ‘bubble’, karya jadi gema yang hanya didengar sendiri. Jadi tantangannya bukan sekadar ‘balance’, melainkan bagaimana menghadirkan karya yang tetap punya kedalaman estetik, tapi sekaligus relevan bagi khalayak yang lebih luas, bukan hanya audiens sesama seniman.
Nah, mau ikutan perdebatan seru ini? Silakan ! Yang penting enjoy, be inspired and be knowledgeable !
