Acara pembukaan Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Taman Ismail Marzuki, 11 September lalu ditutup dengan sesuatu yang cukup beda. Ada penampilan Ananda Sukarlan, mengundang soprano Ratnaganadi Paramita membawakan 4 tembang puitiknya diiringi komponisnya sendiri di piano, yaitu “Aku Cinta Pada-mu” (puisi Doddi Ahmad Fauji), “September Tuarang” (Rissa Churria), “Pulang ke Pamulang” (Azizah Zubaer) dan “Coto Makassar” (Shantined). Ananda Sukarlan tentu sudah dikenal oleh para penyair sebagai komponis di garda terdepan dalam penciptaan ratusan tembang puitik dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Spanyol (menurutnya, paling sedikit ada 500 nomor, dengan 400-an sudah diterbitkan di koleksi buku partiturnya “Tembang Puitik Ananda Sukarlan” yang bulan ini terbit volume ke-10).
Ratnaganadi Paramita, pendatang baru di dunia musik klasik, tampil mengesankan di malam itu. Ia memenangkan Kompetisi Piano Nusantara Plus 2024 yang kemudian mendapatkan “golden ticket” untuk langsung masuk babak final Ananda Sukarlan Award 2025, kategori Tembang Puitik atau vokal klasik. Di kompetisi paling prestisius di Indonesia ini Ratna bahkan memenangkan juara pertama. Berkat kemenangan ini, ia banyak tampil dan telah memukau publik, yang terakhir di acara ini.
Berikut perbincangan Shantined, penyair yang tinggal di Depok dengan Ananda Sukarlan.
Shantined : Mas Ananda, kenapa memilih empat puisi itu untuk pembukaan PPN ke-13?
Ananda Sukarlan (AS) : Oh sebetulnya karena tiga tembang puitik saya itu yang paling baru dan belum pernah dimainkan aja, bahkan bisa dibilang tintanya masih basah hahaha. Nah, yang “September Tuarang” dari puisi Rissa Churria, ya saya pikir cocok banget karena ehm .. saya kutip saja baris pertamanya ya: “Ini masih September, sayang”. September Tuarang sudah diterbitkan partiturnya, dan dinyanyikan oleh beberapa peserta vokalis Kompetisi Piano Nusantara Plus kategori vokal tahun lalu. Tiga lainnya bakal terbit di buku partitur terbaruku Tembang Puitik Ananda Sukarlan vol. 10. O ya, “Aku Cinta Pada-mu” diperdanakan beberapa bulan lalu oleh soprano terkemuka Mariska Setiawan, pas setelah saya selesai menuliskannya.
Shantined : Mengapa tertarik mengalihwahanakan puisi saya “Coto Makassar”?
AS : Ini kan puisi kedua Shantined yang saya bikin tembang puitik, yang pertama “Sepenuh Ini, Indonesia”. Buat saya, kalau sudah mengenal satu puisi, puisi berikutnya jadi jauh lebih lancar. Ada yang bikin saya ketagihan, misalnya Sapardi Djoko Damono yang sudah sekitar 30-an puisinya saya bikin musik, juga Eka Budianta, Joko Pinurbo atau Nanang Suryadi. Coto Makassar menarik karena warnanya yang sangat … apa yah … dark & morbid (susah bahasa Indonesianya), tapi dihubungkan dengan rasa Coto Makassar yang penuh rempah dan terutama asamnya jeruk nipis. Nah kombinasi ini yang kemudian saya tangkap dengan akord yang disonan dan ritme yang kelihatannya jenaka padahal sangat menyayat. Bagaimana menurut anda musik saya, apakah malah merusak suasana puisi itu? Karena saya mendengar luka yang dalam tapi justru disitulah nikmatnya ; itu inti kata “morbid” yang tidak saya kenal terjemahannya.
Shantined : Wah iya, terima kasih banyak lho, mas Ananda berkenan mengalihwahanakan puisi saya (lagi). Dari deretan penonton, saya menikmati Coto Makassar yang dihidangkan dengan ritme dan irama sedikit jenaka. Tidak tegang dan horror seperti bayangan saya sebelumnya hehe. Ini artinya anda bahkan sudah mengerti bahwa ada “pesan rahasia” dalam puisi itu sehingga perlu adanya “penghibur” bagi duka lara isi puisi itu dengan cara menyelipkan nada-nada lincah. Seperti kaki kecil yang sedang berjalan jinjit, menyelinap di antara reruntuhan pecahan kaca, melambangkan bahwa dalam hidup, kita harus tetap kuat dan penuh kesadaran menghalau kesedihan dengan hati-hati. Saya juga suka cara Ratna mengekspresikannya lewat suara dan gestur yang prima. Pas banget. Sekian menit sebelum manggung, saya sempat bercerita sedikit asal mula penulisan puisi ini. Terima kasih, terima kasih… O ya, kelihatannya tembang puitik anda cukup sulit dinyanyikan, dan iringan pianonya pun tidak sembarang pianis bisa memainkannya. Bagaimana menurut anda jika orang lain menampilkannya, seperti yang sudah sering terjadi? Apakah partitur yang anda tulis bisa merepresntasikan apa yang ingin anda ekspresikan?
AS : Partitur tidak bisa sepenuhnya secara detail menyampaikan apa yang ingin saya ekspresikan, tapi di situlah seninya. Tentu tiap orang memiliki interpretasi yang agak, atau bahkan sangat berbeda. Musik saya memang tidak terlalu mudah, tapi kan kita lihat banyak peserta Ananda Sukarlan Award atau Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) , dua kompetisi paling canggih saat ini di Indonesia, membawakannya dengan cukup matang dan dalam. Penampilan kami kemarin di PPN XIII sudah di YouTube kan, semoga lebih bisa menjelaskan kepada calon-calon pembawa karya saya ini. Memang kalau saya sendiri yang main piano, saya bisa lebih menjelaskannya kepada penyanyi sih. Saya juga menyampaikan ke Ratnaganadi sewaktu latihan. Ia sangat mengerti maknanya, selain cerdas secara intelektual dia juga sharp and smart dengan intuisi musikal yang tajam, dan buat saya dia bisa menyampaikan musik saya dengan sangat cermat, saksama dan menawan, baik dari segi teknik maupun pendalaman artistik.
Shantined : Sebetulnya dimana letak perbedaan “musikalisasi puisi” dan “tembang puitik”?
AS : Tembang Puitik (selanjutnya TP saja) adalah konsep, bukan style atau aliran musik. Istilah ini adalah terjemahan dari yang kini disebut “art song”, tetapi ketika konsep ini pertama kali muncul di abad ke18, mereka hanyalah “songs”, yang hampir selalu formasinya ditulis untuk apa yang kini menjadi kombinasi klasik: piano dan vokal. Setelah munculnya “pop songs” di abad ke-20, genre ini dibedakan dengan tambahan kata “art” di depannya. Dalam kategori “pop songs” inilah musikalisasi puisi (MP) saya rasa bisa masuk. Nah, baik MP maupun TP adalah lagu yang tercipta berdasarkan sebuah puisi yang biasanya tidak ditulis oleh komponisnya, tapi oleh seorang penyair. Ini asumsi bahwa jika ditulis oleh penyair yang memang profesional, nilai puitik, fonetik, dan metafora-nya lebih tinggi daripada penulisan seorang komponis yang memang keahliannya menulis musik, bukan karya sastra. Itu persamaan TP dan MP. Nah, saya sendiri tidak tahu siapa yang dulu mencetuskan terminologi Tembang Puitik ini, tapi saya suka, dan karena saya sangat menggemari aktivitas mengalihwahanakan semua karya seni ke musik, termasuk puisi, saya jadi pakai terus. Sepanjang abad ke-19, genre art song berkembang menjadi bentuk seni yang canggih untuk panggung konser maupun untuk rumahan, dimulai dengan Franz Schubert (1797-1828) di Austria yang menulis lebih dari 600 art songs.
Sejauh ini, sebuah tembang puitik dapat didefinisikan sebagai “puisi yang mengalami transformasi menjadi musik, biasanya vokal klasik dan iringan piano”. Kata Jerman untuk ini adalah Lied (Lieder kalau jamak). Di Prancis, istilahnya adalah Melodie, dan di Italia, Romanza.
Namun, lebih dari sekadar definisi sederhana ini, tembang puitik berupaya menghidupkan perpaduan sempurna antara musik dan sastra, gabungan empat elemen: penyair, komposer, penyanyi / vokalis, dan “pengiring” yang sebetulnya lebih tepat disebut “instrumentalis” yang memiliki derajat yang sama dalam hal kedalaman artistik dan virtuositas dengan penyanyinya. Komposer menggunakan seluruh sumber dayanya untuk mewujudkan interpretasi potensial yang tersirat dalam kata-kata penyair. Artinya, tembang puitik melukiskan gambaran tentang apa yang mungkin dibayangkan oleh penyair, sebagai seorang “pelukis yang menggunakan kata-kata”. Untuk mencipta Tembang Puitik, sang komponis sebelumnya harus mencerna betul makna serta dalam suasana apa puisi itu dibuat. Dari penghayatan dan kemudian respek terhadap puisi itu, seorang komponis menciptakan lagu dengan merangkai progresi chord & struktur ritme untuk musik dasar dan melodinya, dalam kesatuan harmoni demi menghadirkan ekspresi lagu sesuai kandungan puisi. Tentu ini harus selalu dituliskan notnya sebagai partitur, seperti sebuah puisi tertulis.
Sedangkan musikalisasi puisi, menurut saya (yang belum pernah membuat dengan metode ini) adalah menyanyikan puisi itu dan mengubahnya menjadi melodi. Iringannya benar-benar berfungsi sebagai iringan, menopang melodinya dan tidak perlu mengekspresikan kompleksitas dan virtuositas puisinya. Correct me if I’m wrong! Di tembang puitik, “pengiring” memberikan makna metaforik pada melodi yang dinyanyikan, dan bukan sekadar latar belakang untuk mendukung penyanyi ; itu sebabnya saya lebih suka menyebut sang pianis sebagai “pendamping” bukan “pengiring”.
