Istilah Post Rock pertama kali diperkenalkan oleh wartawan musik asal Inggris yang bernama Simon Reynolds. Mengapa dinamakan Post Rock? Istilah tersebut tercipta setelah Simon Reynolds me-review album Hex, sebuah album milik band asal Amerika bernama Bark Psychosis pada tahun 1994. Menurut Simon definisi “Post-Rock” adalah “Memainkan musik bukan Rock dengan instrument instrument Rock, dan lebih mengutamakan Texture dan Timbre daripada Power Chord.”
Seiring perkembangan zaman, musik post rock pun semakin berkembang dan justru berbeda dari definisi awalnya. Banyak band-band yang berinovasi dengan genre post rock. Bisa dibilang post rock merupakan salah satu genre musik yang eksperimental.
Post Rock terbagi dalam beberapa generasi :
Generasi pertama : Tortoise, Bark Psychosis, Talk Talk, Cul de Sac, Slint, Flying Saucer Attack merupakan band-band generasi pertama yang sesuai dengan apa yang didefinisikan Simon Reynolds, “Memainkan musik bukan rock dengan instrumen-instrumen musik rock.” dengan memasukkan unsur-unsur yg berbeda dari masing-masing band, ada yang electronica, ambient, jazz, dll
Generasi kedua : Tahun 96 – 97, muncul sebuah band bernama Mogwai yang memainkan musik instrumental rock. Anehnya, Mogwai disebut band Post Rock juga. Yang kenyataannya musik mereka berbeda dari apa yang sudah didefinisikan oleh Simon Reynolds. Mogwai sendiri mengakui bahwa mereka tidak suka dibilang Post-Rock. Namun Mogwai juga memberikan pengaruh untuk band-band Post-Rock di era modern.
Post Rock Re-invent : Definisi Post Rock berubah total dari sebelumnya. Yang semula tidak ada unsur rock menjadi ada, dan riff dan chord juga sering dipakai. Post Rock kini memakai formula Quiet/Loud, Build up Crescendo, dan jarang sekali memakai verse-chorus-verse, biasanya musiknya build up momentum yang diakhiri dengan klimaks.
Formula tersebut hanya sebagai dasar komposisi. Sehingga banyak band baru yang mencampurkan unsur classical, jazz, electronica, math, metal, dll. Yang akhirnya Post Rock semakin diverse dan terbentuk sub genre didalamnya. Tetapi tetap menggunakan formula dasar. Dan Post Rock bukan berarti instrumental, banyak juga yg memakai vokal. Baik yang dijadikan suatu instrumen atau murni vokal.
Kebanyakan lagu Post Rock biasanya berdurasi panjang. Dan menurut penulis, waktu yang tepat mendengarkan musik Post Rock saat mood sedang bagus, agar musiknya lebih terasa dan bisa diresapi. Musik Post Rock juga menghadrikan ‘sebuah emosi’ untuk pendengarnya. Ada nuansa kelam, sedih, senang, ataupun fantasi tersendiri yang dihadirkan oleh musik Post Rock.
Jika baru mendengarkan musik Post Rock, mungkin kamu akan merasakan suatu keunikan tersendiri yang terdapat di dalam musiknya. Dan pastinya kamu akan mendapatkan sebuah kejutan dari genre yang satu ini. Tidak ada salahnya untuk mendengarkan musik Post Rock, penulis sendiri mendengarkan musik post rock dari band seperti Mono, Under The Big Bright Yellow Sun, The Trees And The Wild, Wang Wen, Sigur Ros, dan masih banyak lagi. Itulah sekilas tentang musik Post Rock. Nah, kalo kamu, siapa band Post Rock favoritmu?
Sumber referensi : kaskus.co.id, kanaltigapuluh.info, postrockjakarta-blog.tumblr.com
Baca Juga
“Tulisan Ananda Sukarlan, menjelang Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026” Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) telah mengangkat banyak “trend” yang, walaupun sudah eksis berabad-abad di Eropa, tapi masih cukup baru di
Dear para kolega pecinta musik Nusantara, Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan, pasti para guru musik dan calon peserta, baik pemain instrumen apa saja maupun vokalis sudah mulai
Tidak terasa, Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan! Seperti yang bisa dilihat di Instagram @pianonusantaraplus , KPN+ 2026 akan dimulai di Medan akhir Agustus, dan tahun ini tetap terselenggara
Tulisan Ananda Sukarlan Hari Minggu 5 April nanti saya akan memperdanakan dua karya baru untuk piano dengan karakter sangat berbeda. Konser itu adalah “Melodies without Borders”, dimana saya akan tampil
Oleh Ananda Sukarlan Esai pendek ini ditulis oleh penyair Ikhsan Risfandi “Irzi” sebagai status Facebook-nya setelah saya kirimi partitur saya. Saya juga sematkan komentar penyair Tan Lioe Ie di bawahnya.
