KITA Anak Negeri sangat bangga dan berbahagia mendengar bahwa penyair & sastrawan Prof. Tengsoe Tjahjono menerima Anugerah Sabda Budaya (ASB) 2025 dari Universitas Brawijaya.

Acara penganugerahan diadakan sebagai bagian dari Puncak Rangkaian Dies Natalis ke-16 pada Rabu (3/12/2025). Bertempat di Aula lantai 2 Gedung A FIB UB, acara ini mengusung tema “Samadya Danasmara Manunggal Rasa”, yang mengajak semua pihak menyatukan rasa dalam semangat pelestarian budaya nusantara.
ASB tahun ini diberikan kepada tiga tokoh seni dan sastra yang dinilai memiliki karya unggul dan berdampak, tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga dalam kontribusinya terhadap kerja-kerja kultural FIB UB. Ketiganya adalah (1) Tengsoe Tjahjono, penyair dan cerpenis, yang menerima penghargaan di bidang Sastra, (2) Winarto Ekram, penari dan koreografer, sebagai penerima penghargaan di bidang Seni Tradisi, serta (3) Dadang Rukmana, pelukis dan perupa, menerima penghargaan di bidang Seni Rupa.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa ASB telah menjadi ciri khas FIB UB sejak pertama kali digelar pada tahun 2018. Tahun 2025 ini merupakan penyelenggaraan ke-7, yang sekaligus menjadi momen reflektif bagi FIB UB yang kini berusia 16 tahun.
Seperti sudah diatur oleh semesta, secara tidak sengaja, penganugerahan ini dirayakan di Jakarta juga, yaitu konser amal untuk korban perang Ukraina yang menampilkan pianis Taras Filenko (Ukraina) dan Ananda Sukarlan (Indonesia) di Deheng House, Kemang Jumat tanggal 5 Desember 2025 besok. Konser ini juga mengundang bintang tamu pemenang Kompetisi Piano Nusantara Plus region Surabaya yang baru saja diadakan 23 November 2025 lalu yaitu mezzo-soprano Cindy Honanta dan bariton Jason Suryaatmaja yang berbagi juara pertama Kategori Vokal (Tembang Puitik). Mereka menyanyikan tembang puitik Ananda Sukarlan. Jason menyanyikan dua lagu, satu berdasarkan puisi karya Tengsoe Tjahjono, “Setelah Bendera Berkibar” dan satu lagi dari puisi Dedy Tri Riyadi. Cindy menyanyikan lagu-lagu yang keduanya berdasarkan puisi dua penyair perempuan: Ewith Bahar (“Seonggok Bangkai”, tentang kematian di masa pandemi Covid-19) dan “Luna” dari puisi Erna Winarsih Wiyono.
“Konser ini tentu sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu, dan tadi malam sewaktu saya membaca bahwa Prof. Tengsoe dianugerahi penghargaan ini, wah senang sekali rasanya. Tentu nanti akan kita sebut di konser besok”, ujar Ananda Sukarlan yang juga pernah konser di Universitas Brawijaya mengajak soprano Mariska Setiawan membawakan beberapa tembang puitik di antara 500 nomor lebih yang telah ia ciptakan itu. “Saya juga telah memberitahu tentang konser ini kepada Prof. Tengsoe sekitar 2 minggu lalu, siapa tahu beliau sedang berada di Jakarta hari-hari ini dan bisa mampir, bertemu dengan para penyair lainnya di konser kami ini”, lanjutnya.
Ananda Sukarlan memang telah mencipta beberapa tembang puitik dari beberapa puisi Tengsoe Tjahjono selama beberapa tahun terakhir ini (baca
https://bekasiana.com/listing/ananda-sukarlan-tokoh-tembang-puitik-indonesia/ )
Dipuji oleh The Straits Times (Singapura) sebagai “sublime” dan “sumptuosly voiced,” Cindy Honanta memulai debut operanya pada usia 23 tahun sebagai Bianca dalam opera Benjamin Britten, “The Rape of Lucretia”, dan sejak itu telah memainkan peran-peran penting termasuk Divinity dalam “The Butterfly Lovers” karya Richard Mills, Teresa dalam “La Sonnambula” (Vincenzo Bellini), dan Caregiver dalam pemutaran perdana dunia “Losing Lily” karya Chen Zhangyi. Cindy meraih gelar Sarjana Musik dengan Predikat Tertinggi dari Konservatorium Musik Yong Siew Toh (Singapura) di bawah bimbingan Alan Bennett dan saat ini juga menimba ilmu dengan Andrew Wilkinson.
Jason Suryaatmaja adalah penyanyi bariton asal Kediri yang kini menempuh studi Sarjana Musik Vokal Klasik di Hochschule für Musik und Theater Hamburg, Germany bersama Prof. Mark Tucker. Ia telah meraih gelar Sarjana Musik Vokal Klasik dari Yong Siew Toh Conservatory of Music, Singapura bersama Prof. Alan Bennett (2025).
Jason telah meraih juara 1 dalam Bandung Solo Vocal Competition (2025), juara 1 dan 2 dalam Kompetisi Vokal Konserto Yong Siew Toh dalam 2 tahun yang berurutan, dan menjadi anggota Asia Pacific Youth Choir (2023, 2024).
Ananda Sukarlan berencana memainkan beberapa karyanya seperti “O Holy Night, O Speedy Night” (sebuah variasi dari lagu Natal “O Holy Night” ciptaan Adolphe Adam) dan Rapsodia Nusantara no. 39 yang ditulis untuk dimainkan oleh tangan kiri saja, sedangkan Taras Filenko akan memainkan beberapa karya komponis Ukraina seperti Mykola Lysenko, Myroslav Skoryk dan Fedir Akimenko.
Sebagai penutup konser, mereka bermain duet memperdanakan karya Ananda, “Make The Bells Jingle Again” melambangkan persahabatan dua negara dengan 4 tangan di satu piano, merayakan sukacita suasana Natal.
Hasil penjualan tiket konser ini disumbangkan kepada yayasan Olena Zelenska untuk rehabilitasi para korban perang serta kepada Yayasan Musik Sastra Indonesia yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak yang kurang mampu. Konser ini disponsori oleh Rotary Club cabang Menteng. Ananda Sukarlan telah diangkat menjadi Honorary Member dari Rotary Club International di tahun 2023. Ananda akan memperdanakan busana tenun Rosdhani yang dibuat khusus untuk acara ini dengan bahan dasar warna bendera Ukraina, biru dan kuning. Konser ini juga dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, 3 Desember yang lalu.
