Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan, pasti para guru musik dan calon peserta, baik pemain instrumen apa saja maupun vokalis sudah mulai bersiap-siap dan kami para penyelenggara ingin sekedar mengingatkan “hasil tidak mengkhianati usaha” kepada anda semua, para pemenang. Semua peserta bukan hanya akan menjadi pemenang kompetisi musik, tapi pemenang dalam kehidupan. Soalnya, seorang pemenang adalah seseorang yang mengenali talenta yang diberikan Tuhan, mendedikasikan hidupnya dengan fokus untuk mengembangkannya menjadi ketrampilan, dan menggunakan ketrampilan ini untuk meraih cita-citanya yang nantinya akan berguna buat orang banyak (yang akan lebih baik lagi kalau bukan hanya untuk orang-orang terdekatnya yang berpendapat, berpandangan politik atau beragama yang sama tapi juga yang berbeda bahkan bertolak belakang).
Ini adalah kompetisi untuk membuat kita semua jadi lebih baik, bukan hanya ajang guru-guru rebutan murid atau berusaha membuat kelompok sendiri untuk menjatuhkan kelompok (baca: sekolah musik) yang lain. Kompetisi ini ditujukan untuk gen Z dan gen alpha yang katanya lebih tidak fokus daripada generasi milenial karena adanya social media dan gadgets. Gen Z juga (katanya) mencetak sejarah peradaban manusia karena pertama kalinya hasil tes IQ nya lebih rendah daripada generasi sebelumnya (yaitu gen milenial). Gen Z juga (katanya) attention span-nya juga lebih rendah tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja bahkan membuka lapangan pekerjaan baru, lebih profesional di lapangan kerja baru ini, lebih toleran dan tentu saja lebih ramah teknologi. Menurut saya, inilah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada dalam sejarah manusia. Di gen Z dan alpha lah kita menaruh harapan bahwa musik sastra (dan kesenian pada umumnya) Indonesia bisa bersanding dengan musik negara-negara lain yang sudah lebih dahulu maju, atau malah yang tidak bisa mempertahankan supremasinya seperti di beberapa negara asalnya di Eropa. Gen Z dan alpha lah yang akan mengerti bagaimana mengimplementasikan musik klasik Indonesia untuk kemakmuran dan menaikkan kecerdasan bangsa di saat jurang perbedaan semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin, yang berkuasa dan yang ditindas, yang korupsi dan yang kerja keras dengan jujur, yang progresif dan yang konservatif, yang terdidik dan yang tertinggal karena termakan tipuan atau iming-iming surga baik di akhirat maupun di kehidupan di saat ini dari ajaran-ajaran agama, aliran politik dan dogma-dogma lain yang sesat. Ini semua terjadi, dan harus kita perjuangkan di era social media dengan algoritma jahat yang merajai kehidupan kita serta media cetak yang besok lusa akan punah.
Wacana penutupan program studi yang tidak relevan dengan industri oleh pemerintah berpotensi mengancam kemampuan berpikir kritis dan fondasi sosial budaya generasi. Harusnya budaya, bahasa, dan seni bidang apapun justru harus diberikan ruang lebih untuk berekspresi, sehingga setiap perubahan sosial masyarakat dapat direkam dengan baik sebagai dinamika yang mendukung supremasi budaya Indonesia sehingga justru sangat relevan dengan yang dibutuhkan oleh industri dan memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara.
Saat anda melangkah ke panggung di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, ingatlah bahwa setiap nada yang anda mainkan atau nyanyikan membawa esensi dari dedikasi dan ketekunan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Anda tidak hanya menampilkan sebuah karya—Anda berbagi suara unik anda dengan dunia, suara yang dibentuk oleh disiplin, ekspresi dan keberanian untuk terus berlatih bahkan ketika itu terasa sulit. Biarkan musik mengalir melalui anda tanpa rasa takut; penilaian juri mungkin mengukur teknik, tetapi pertumbuhan, ketahanan, dan kecintaan anda pada musik adalah yang benar-benar mendefinisikan momen ini.
Dari sini, seni berperan penting dalam diplomasi yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Produk budaya Indonesia sudah seharusnya memiliki potensi mengingatkan posisi strategis negara Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, produk budaya Indonesia berpotensi mendorong perekonomian negara. Akan tetapi, pertanyaannya ada pada bagaimana produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas. Di sinilah para seniman memegang peranan penting, bukan hanya dari segi teknik, tapi juga dari karakter dan identitas yang kuat.
Sometimes we win, sometimes we learn. Ini bukan hanya berlaku untuk para peserta, tapi juga guru-guru musik mereka, panitya, mitra penyelenggara dan juri-juri di KPN+. Baik dalam winning atau learning, anda sudah menjadi juara karena berani berkompetisi, dan pengalaman ini hanya akan membuat kemampuan artistik anda bersinar lebih terang. Percayalah pada persiapanmu, bermain dan bernyanyilah dengan sepenuh hati, dan nikmati setiap detik yang indah—dirimu di masa depan akan bangga atas dirimu di saat ini.
Dan di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, we are all winners, tapi juga we are all learners, trying to be better than we are now.
Sampai jumpa mulai Agustus 2026 di Medan, Bandung, Lampung, Bekasi, Bandung, Salatiga, Tangerang, Yogyakarta, Balikpapan, Bali dan terakhir di Jakarta ! Terimakasih para mitra penyelenggara regional yang telah bekerja keras mencetak gen Z dan alpha yang lebih berkualitas !
pianistically yours, Ananda Sukarlan
twitter & IG : @anandasukarlan
The post Surat Terbuka Kepada Para Pendidik Musik Privat & Sekolah Musik seluruh Nusantara dari Ananda Sukarlan first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Ananda Sukarlan juga baru balik dari Lampung, Samarinda dan Balikpapan, di dua kota terakhir itu ia bekerjasama dengan Nusantara Youth Music Olympics (NYMO). NYMO jugalah yang akan menjadi mitra penyelenggara KPN+ di Kalimantan Timur, dan setelah dirapatkan, juga dengan Chendra Panatan, manager Ananda yang datang ke Kaltim pertengahan bulan April ini, KPN+ akan dilaksanakan di Balikpapan tanggal 15 November. Ini tentu terbuka untuk para peserta dari Samarinda (kurang dari 2 jam naik mobil ke Balikpapan) dan kota-kota lain, bahkan di provinsi selain Kalimantan Timur.
Berikut kompilasi FAQ (Frequently Asked Questions, atau Beberapa Pertanyaan yang paling sering dilontarkan) menyangkut KPN+, dijawab oleh Ananda Sukarlan. Jika masih ada pertanyaan lain, silakan hubungi ke akun Instagram @anandasukarlan , dan jika terkumpul banyak, kami akan terbitkan artikel sambungan untuk FAQ KPN+ 2026.
Q : Untuk instrumen lain, lagu pilihan Junior dan Senior apa akan diberikan batasan grade juga?
AS : Hanya dari segi durasi, tingkat kesulitannya terserah. Tapi saya ada sedikit “warning” nih. Saya ingin memuji satu inovasi di NYMO yaitu : content & achievement. Ini adalah kriteria penilaian tentang pemilihan karya, dimana sering dipercaya bahwa “jika anak / murid saya memilih karya yang sulit, ia pasti unggul dibandingkan peserta yang memilih karya yang lebih mudah secara teknis”. Padahal itu salah besar! Nah di NYMO ada kriteria ini, untuk menilai apakah pilihannya tepat secara kesulitan teknis.
Q : Untuk kategori instrumen lain, apakah terdiri dari 5 instrumen yang ada di poster saja? Atau diperbolehkan instrumen yang lainnya? Terus lagu wajibnya bagaimana?
AS : Bisa untuk semua instrumen, bahkan yang langka di Indonesia pun boleh, seperti misalnya euphonium, english horn dll. Lagu wajib bisa ambil satu nomor dari “Friendship Set to Music”, karena itu memang saya tulis untuk 1 instrumen melodik dan piano, dan bisa di-transpose sesuai kebutuhan instrumen. Kalau butuh transpose yang agak lebih rumit, bukan hanya 1 oktaf ke bawah untuk fagot atau cello misalnya tapi untuk viola atau clarinet, bisa hubungi saya lewat Instagram @anandasukarlan nanti akan dikirim dalam format pdf . Tapi kalau mau karya yang lain, bisa request ke saya, karena saya sih sudah menulis untuk semua instrumen (bahkan inginnya untuk ondes martenot, gitu, tapi belum ada ondes martenot di Indonesia kan? Saya ingat zaman saya main Turangalila Symphonie selalu bersama Valerie Hartmann-Claverie, kita tour ke beberapa kota di Spanyol, dan sampai sekarang saya masih impressed dengan instrumen itu).
Q : Untuk kategori vocal ensemble, sertifikat untuk group atau setiap orang / member mendapatkan sertifikat?
AS : Sertifikat diberikan kepada tiap anggota, tapi piala atau medali satu saja untuk seluruh group.
Q : Untuk kategori non profesional selain piano, apakah sama dengan instrumen lain yang membebaskan boleh atau tidak menggunakan instrumen pendamping? Untuk instrumen pendamping, apakah boleh lebih dari 2 instrumen?
AS : Pengertian saya musik pendamping ya 1 instrument aja. Boleh saja kalau mau lebih, toh biaya ditanggung peserta. Sedangkan instrumen, kami hanya menyediakan piano. Dan untuk pertanyaan pertama, boleh saja solo tanpa pendamping, misalnya main suite untuk cello dari Benjamin Britten atau Johann Sebastian Bach, atau Caprices dari Paganini untuk biola solo, atau karya saya untuk biola solo “Relationships”
Q : Apakah ada kegiatan-kegiatan menjelang KPN+ dimana Ananda akan memberi ceramah, masterclasses, diskusi dll mempersiapkan para (calon) peserta untuk tampil secara prima?
AS: Sudah sejak bulan April ini saya ke Lampung dan Samarinda & Balikpapan, baik masterclasses maupun temu muka/tanya jawab. Yang temu muka itu bukan hanya untuk peserta, tapi siapa saja termasuk orang yang “awam” musik. Setelah balik dari Spanyol, bulan Juni nanti saya lanjut ke Jawa Tengah dan Jogja. Bukan hanya mempersiapkan untuk KPN+ 2026, tapi juga membuka mata bahwa musik itu bukan sesuatu yang hanya dipelajari sambil lalu. A work of art is never finished, only abandoned. Dalam proses penulisan karya seni, bahkan sang komponis atau seniman pun tidak pernah meraih konsep artistik yang ada di kepalanya secara paripurna di atas kertas atau kanvas. Coba dengarkan deh penjelasan saya
Q : Ada durasi maximum untuk penampilan, tapi adakah durasi minimum? Terutama untuk tingkat-tingkat menengah dan lanjutan yang cukup panjang durasinya.
AS : Tidak perlu memilih karya yang panjang, ingat batasan waktu adalah MAXIMUM. Tidak perlu harus memenuhi durasi maximum tersebut. Lagi-lagi, yang dinilai adalah kualitas permainan, bukan sulitnya karya yang dipilih atau durasi.
Q: Di KPN+ tahun-tahun kemarin, ada beberapa peserta yang permainannya dipotong oleh juri. Apa sebabnya, dan apakah ini mempengaruhi nilai?
AS : Kalau durasinya kepanjangan, juri akan memotong permainannya. Ini sama sekali tidak mempengaruhi penilaian. Tapi ada juga yang karena peserta tiba-tiba lupa (blank) dan bingung untuk melanjutkan permainannya. Nah ini kalau memang sudah benar-benar macet, kan lebih baik disudahi karena memang pasti tidak akan bisa lanjut ke babak berikutnya. Btw, di babak final biasanya tidak pernah lagi ada kejadian seperti ini, karena semua yang masuk final pasti sudah tahu cara mengantisipasi “blank” seperti ini. Ada caranya, dan tidak perlu gugup! Kalaupun terjadi, jadikanlah pengalaman ini sebagai pelajaran, jangan sampai terulang lagi. Ada banyak cara mengatasi ini, dan ini adalah bagian dari “resiko pekerjaan” sebagai seorang performer. Seorang performer bukan seseorang yang selalu berhasil, tapi yang bisa bangun dari kegagalan, karena motto kita cuma satu : The Show Must Go On.
The post FAQ Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Ulangtahun saya kali ini sedih banget sih. Minggu lalu, seorang yang saya kenal, kagumi dan banyak belajar darinya telah wafat, yaitu Per Nørgård, komponis musik klasik Denmark. Kali ini saya gak kenal tapi sangat kagum dan juga sangat berpengaruh terhadap musik saya. Bikin obituari lagi deh. Lagi-lagi, obituari saya bukan berupa biografi tapi pengalaman saya terhadap sosok atau hasil karyanya.
Jujur saya sedih banget mendengar wafatnya Brian Wilson, salah seorang pendiri The Beach Boys, pada usia 82 tahun 11 Juni kemarin, 1 hari setelah ulangtahun saya. Berkat kejeniusan Brian Wilson, Beach Boys menghasilkan banyak lagu pop yang masih sangat terhubung dengan musik sebagai seni yang sering kita sebut “musik klasik” ; bukan hanya itu, ia bisa “mengulur” tali progresi harmoni yang kelihatannya hampir putus oleh Gustav Mahler, Arnold Schoenberg atau Richard Wagner dan membuktikan bahwa tali tersebut tidak putus, asal tahu cara dan arah menariknya.
Sang Beatles, Paul McCartney mengatakan “God Only Knows” adalah lagu terbaik yang pernah ditulis. Mungkin itu agak lebay, mungkin bukan yang “paling”, karena setelah itu ada Michael Jackson, Freddie Mercury dan kini Lady Gaga, tapi kalau ada “top 10” lagu pop terbaik, pasti ciptaan Brian Wilson itu masuk lah ke deretan itu.
Banyak orang generasi sekarang belum pernah mendengar namanya, padahal kalau anda mendengar progresi harmoni di banyak musik saya yang agak-agak aneh itu, andil Brian Wilson sangat kuat. Saat saya sedang menulis opera “Clara, atau Gadis Cina yang Diperkosa” tahun 2015, BBC baru menayangkan rekaman baru mereka berupa “remake” dari lagu “God Only Knows”, lagu klasik Beach Boys tahun 1966. Tujuannya adalah untuk menandai peluncuran BBC Music, yang digambarkan oleh perusahaan tersebut sebagai “gelombang program baru yang ambisius, kemitraan yang inovatif, dan inisiatif musik yang inovatif yang merupakan komitmen terkuat BBC terhadap musik dalam 30 tahun”. “God Only Knows” versi baru ini dirilis sebagai singel untuk mengumpulkan dana bagi BBC Children in Need.
BBC telah berhasil mengumpulkan sejumlah bintang untuk rekaman ini. Bergabung dengan Brian Wilson, sang jenius penulis lagu tersebut, adalah Sir Elton John, One Direction, Stevie Wonder, Pharrell Williams. Jake Bugg, Lorde, Emeli Sandé, Danielle de Niese, Nicola Benedetti, Eliza Carthy, Baaba Maal, Paloma Faith, Chris Martin, Kylie Minogue, Sam Smith, Florence Welch, Chrissie Hynde, Brian May, Dave Grohl, Alison Balsom, Martin James Bartlett, Jamie Cullum, Jaz Dhami, serta Zane Lowe, Lauren Laverne, Katie Derham, Gareth Malone, dan Jools Holland dari BBC. Mereka bergabung dengan Tees Valley Youth Choir dan BBC Concert Orchestra. Lagu ini disertai dengan video keren yang direkam di gedung teater Alexandra Palace yang sudah tidak digunakan lagi di London, yang menjadi tempat siaran BBC pertama lebih dari 90 tahun yang lalu.
Wilson sendiri menyatakan dirinya senang dengan hasilnya.“Saya merasa terhormat karena God Only Knows terpilih. God Only Knows adalah lagu yang sangat istimewa. Lagu yang sangat spiritual dan salah satu yang terbaik yang pernah saya tulis.”
Balik ke opera saya, “Clara” yang berdasarkan kisah nyata tahun 1998 yang ditulis menjadi drama oleh Seno Gumira Ajidarma. Tokoh utama yang diperankan soprano Isyana Sarasvati sebagai Clara, sang gadis keturunan Cina itu saya desain untuk memutar lagu God Only Knows saat menyetir mobil di jalan tol, sebelum mobilnya diserbu para calon pemerkosanya. Cuplikan lagu itu saya perdengarkan lewat pengeras suara di teater, waktu itu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Kemudian progresi harmonik di lagu itulah yang menjadi fondasi dari bagian setelah kejadian Clara diperkosa. Kenapa saya menggunakan progresi harmoni itu? Karena buat saya tidak hanya magical, tapi juga disturbing. Se-disturbing cara menuturkan kisahnya Seno Gumira. Seperti kita tahu, 1998 itu kelam banget. Puluhan atau mungkin ratusan gadis Cina diperkosa dengan cara sadis di mana-mana, dan Clara ini diseret keluar mobilnya, terus diperkosa ramai-ramai. Tokohnya sendiri itu fiktif, tapi sebetulnya banyak sekali perempuan Cina yang mengalaminya.
“Clara” tidak akan berbunyi seperti itu tanpa musik Brian Wilson. Begitu juga Elton John dan banyak pemusik dunia yang “berhutang” kepada Wilson, bahwa ternyata progresi harmoni bisa seliar itu, yang membuat jiwa kita terguncang mendengarnya. Brian Wilson telah membuktikan bahwa musik benar-benar dapat membuat kita gelisah, dan ini yang justru dihindari di era kini. Musik hanya harus enak didengar, mudah dicerna.
Padahal filsuf besar Plato menuliskan ajaran gurunya Socrates di bukunya The Republic, bahwa perubahan dalam mode musik negara akan menyebabkan revolusi sosial berskala luas. Dan ini sudah terbukti dari dekadensi musik sejak awal abad 20.
Tulisan-tulisan filosofis Plato dan Aristoteles (sekitar 350 SM) mencakup bagian-bagian yang menggambarkan pengaruh harmoni yang berbeda pada suasana hati dan pembentukan karakter. Misalnya, Aristoteles menyatakan dalam karyanya “Politics”: “Melodi itu sendiri mengandung imitasi karakter manusia. Ini sangat jelas, karena harmoni memiliki sifat yang sangat berbeda satu sama lain, sehingga mereka yang mendengarnya terpengaruh secara berbeda dan tidak merespons dengan cara yang sama terhadap masing-masing harmoni.” Kini, bye bye deh harmoni yang begitu beragam. Semua lagu yang mau laku keras kini dibatasi oleh 4 atau paling banyak 5 akord, seperti dalam lagu-lagu Taylor Swift atau Justin Bieber. Ya, ya, segitu terbatasnya kemampuan kita mencerna musik sekarang. Dan segitu dalamnya kesedihan saya mendengar kepergian Brian Wilson. Beristirahatlah dengan tenang, Maestro. Anda sendiri tidak sadar betapa besar jasa anda untuk kemanusiaan. Paling tidak, anda telah menunda kemunduran intelektualitas aural manusia. Sampaikan salam kepada saudaramu Carl dan Dennis Wilson dari kita semua… dan TERIMA KASIH untuk semua musik yang memperkaya dunia kita ini.
The post Selamat Jalan Brian Wilson, Selamat Tinggal Peradaban Tinggi Musik first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Kompetisi Piano Nusantara Plus 2024 usai sudah, dan buat saya, semua peserta adalah pemenang. Paling tidak memenangkan keraguan dalam diri sendiri untuk berkompetisi, berusaha menampilkan yang terbaik. Belum meraih kejuaraan? “God has made everything beautiful in its time”, menurut Ecclesiastes 3 : 11. Jadi cuma urusan belum saatnya saja, atau bahkan ini sebuah berkah untuk bisa introspeksi untuk masa depan.
Penonton membludak gedung Institut Francais d’Indonesie saat babak final 8 Desember lalu, sehingga pengumuman harus dilaksanakan dalam dua tahap. Minat, ketertarikan atau mungkin hanya rasa ingin tahu tentang musik(us) klasik sudah pasti sangat meningkat dan bukan hanya di Jakarta tapi juga di kota-kota lain. Tapi apakah kita sudah tahu apa gunanya musik klasik untuk hidup kita, hidup orang lain dan negara bahkan kemanusiaan? Bagaimana musikus bisa berkontribusi untuk masyarakat? Saya pernah bicara sekilas (tapi dalam bahasa Inggris ya) di presentasi TedX saya beberapa tahun lalu, dan saya ingin melanjutkannya ke topik yang lebih dalam. Kalau mau nonton TedX tersebut, silakan saja klik
What is the Function of Classical Music In Our Society? | Ananda Sukarlan | TEDxYouth@SPH
Apakah musik telah berguna untuk mengekspresikan isi hati kita? Apakah musik telah menjadi bagian dari menyuarakan keresahan sosial? Yang saya lihat, banyak (guru musik dari) para peserta masih fokus ke keindahan musiknya dan tentu apakah teknik permainan sudah memadai untuk karya tertentu, saat memilih repertoire. Semua isu tentang (pelanggaran) hak asasi, ketimpangan sosial apalagi korupsi yang disampaikan melalui musik masih kurang diminati. Semua yg indah-indah saja yg dipilih. Tentu saja ini tidak salah; kita butuh cinta, kasih sayang, semua yang indah (walaupun cinta tidak selalu indah). O ya, ini tentu saya bicara untuk kategori lanjutan di kompetisi, atau Tembang Puitik. Kalau yang masih pemula tentu belum bisa terlalu banyak memilih, walaupun ada beberapa karya yang terinspirasi dari berbagai isu ini. Misalnya “Lonely Child” dan “Let the moon Shine Bright” yang sama-sama cukup favorit pilihan peserta, tapi keindahan itu beda. Keduanya tentang kesedihan, dan sedih itu indah (menurut saya). Paling tidak, dalam kesedihan saya lebih mudah mengeluarkan musik daripada kalau sedang bahagia.
Isu disabilitas juga bisa lebih diangkat. Saya lihat ada beberapa peserta dari spektrum autisme. Ada yang (orangtuanya) terbuka dengan kenyataan ini, ada yang mungkin si penyandangnya pun bahkan tidak tahu, seperti 28 tahun pertama dalam hidup saya (saya baru terdiagnosa saat berusia 28 tahun, itu pun di Sofia, Bulgaria).
Disability is disabled by the system. Kalau lingkungan kita mendukung, kita tidak lagi menjadi seorang “disabled”. Saya, sebagai penyandang Sindrom Asperger sih sudah sama sekali tidak merasa sebagai seorang yang “kekurangan”, walaupun mungkin itu juga karena sudah “terbiasa” hidup seperti ini …. meskipun saya cukup merasakan bullying di saat usia muda, baik verbal maupun fisik. Sekarang untungnya sudah hampir tidak ada lagi, justru karena saya bisa menuntut respek dari reputasi dan karir saya yang notabene sebetulnya sangat terbantu dengan Asperger’s Syndrome karena saya jadi memiliki kemampuan di atas rata-rata. Ini siklus yang jadinya lengkap walaupun melalui jalan yang ribet yang membuktikan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius….
Lonely Child adalah “secuplik biografi masa kecil” saya tentang menyandang Asperger’s Syndrome. Ini adalah tentang konflik: sebetulnya semua orang, Aspie ataupun tidak, membutuhkan teman. Tapi setiap kali saya punya teman, dia akhirnya menjadi perundung (bully). Jadi saya memilih sendirian saja. Tapi ya jadinya kesepian. Jadi, apakah musik seperti Lonely Child ini bisa tertulis jika saya tidak dalam kondisi ini? Hanya Tuhan yang tahu, saya pun tidak. Atau seperti yang Jokowi selalu bilang, “Ya Ndak Tau Kok Tanya Saya”. Sedangkan “Let The Moon Shine Bright” adalah tentang kesedihan saya tentang hilangnya keadilan di negeri tercinta ini, dan kebetulan waktu itu bulan bersinar dengan “Tjahaja Purnama” yang sangat jauh dari kita … (google saja deh soal ini)

Di kategori Tembang Puitik hanya Ratnaganadi Paramita dan Wirawan Cuanda yang memilih musik dengan isu-isu sosial ini, dan mereka justru menang. Tentu mereka dinilai kualitas performanya, tapi yang menggelitik media dan publik adalah tema yang mereka pilih. Dan terbukti, podcaster beken Indonesia, Rudi S. Kamri jadi tergelitik membahas soal perdagangan manusia setelah mendengar Ratna menyanyikan aria dari opera saya yang ditulis dari libretto Emi Suy, “I’m Not For Sale”. Padahal biasanya podcast pak Rudi ini tentang politik. Ini membuktikan bahwa sebuah karya artistik dapat menyentuh bahkan memicu sebuah gerakan kemanusiaan. Jangan bilang bahwa ini hanya nyanyian, ini hanya podcast. Musik bukan (hanya) menghibur, musik bisa membuat orang gusar, resah dan gelisah! Di podcast itu Rudi S. Kamri membahas juga sejarah human trafficking di Indonesia bersama Mohamad Sobary yang lebih ngehitz dipanggil Kang Sobari, budayawan dan kolumnis super berkelas. Dengar deh, semoga membuka mata, dan hati kita tentang ngerinya perdagangan orang :
TRAGEDI PERDAG4NGAN 0RANG MENYENTUH DI TANGAN KOMPONIS ANANDA SUKARLAN
Saya juga sudah meminta Wirawan Cuanda untuk menyanyi lagi bersama saya, kali ini dengan “Prison Songs” saya yang lain (sampai saat ini saya sudah membuat dari puisi para penyair LEKRA Sutikno W.S., Putu Oka Sukanta, Sabar Anantaguna, Martin Aleida. Nanti kita bikin konser spesial pokoknya tahun depan!
Saya sangat berharap untuk Ananda Sukarlan Award 2025 (dan juga Kompetisi Piano Nusantara Plus karena akan diadakan lagi tahun depan, dengan kota-kota yang lain bahkan!) bahwa para musikus sudah terlibat dengan isu-isu sosial dan kemanusiaan sejak dini. Saya bikin banyak juga puisi tentang pandemi yang baru saja kelar (puisi Ewith Bahar, Goenawan Monoharto dll.), juga tentang koruptor misalnya (puisi Lasman Simanjuntak, Riri Satria). Musik dan seni itu bagian dari masyarakat, bagian dari dokumentasi sejarah, dan sejarah yang dirasakan dengan perasaan paling dalam akan menjadi jauh lebih berarti dan semoga memicu kita untuk tidak mengulang hal-hal buruk dalam sejarah.
The post Post KPN+ : Sebuah Refleksi & Evaluasi dari Ananda Sukarlan. first appeared on Kita Anak Negeri.]]>KPN+ kan akan diadakan di Jakarta juga loh! Jadi, tanggal 7 Desember nanti adalah giliran Jakarta mengadakan kompetisi ini, yang merupakan babak semi final terakhir dari seluruh rangkaian Kompetisi Piano Nusantara Plus. Esok harinya, tanggal 8 Desember adalah Babak Final dari para juara seluruh region KPN+ sejak Agustus lalu.
Nah, bagi yang belum berhasil meraih juara di Medan, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang dan Palembang, masih bisa ikut tanggal 7 nanti di Jakarta. Semi final ini memang diadakan di Institut Francais d’Indonesie, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, tapi terbuka untuk peserta dari seluruh Nusantara. Dan memang, banyak peserta dari luar kota, bahkan luar Jawa ikut di babak semi final di Jakarta ini. Tapi ingat, kalian harus siapkan juga repertoire untuk babak Final ya, karena kan langsung keesokan harinya!
Jadi jadwal untuk tanggal 7 Desember itu adalah sebagai berikut :
pk. 9-11.30 Kategori Piano Pemula & Menengah
pk. 11.30 – 13.00 Kategori Tembang Puitik
istirahat
setelah itu, dilanjutkan kategori Piano Lanjutan, Musik Kamar, dan instrumen lainnya, termasuk Kategori Non Profesional.
Untuk info lengkapnya, silakan inbox Instagram @pianonusantaraplus saja yah! Cek juga kapan pendaftaran ditutup, nggak lama lagi loh!
Nah, semua ingin jadi juara kan? Apa sih kata Ananda Sukarlan, pendiri dan juri di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, syaratnya menjadi juara?
“Ada banyak elemen yang menjadikan seorang musikus menjadi juara. Elemen itu adalah tentu teknik permainan dan musikalitas dalam berekspresi, tapi yang tidak kalah penting adalah identitas artistik. Semua orang bisa belajar baca not balok dan main instrumen musik, tapi apa bedanya yang seniman dengan yang bukan? Seorang seniman itu punya karakter yang unik dan bisa berkomunikasi lewat karyanya dengan publik”, lanjut sang pianis lulusan Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda dengan predikat summa cumlaude yang kini juga mulai sibuk mempersiapkan kompetisi Ananda Sukarlan Award tahun depan, yang katanya akan banyak gebrakan baru.
“Saya lihat semakin lama para musikus muda semakin fokus. Di bidang vokal, semoga karya-karya saya bisa menarik para vokalis untuk mendalami dunia sastra, karena lagu-lagu saya selalu berdasarkan puisi-puisi yang sangat indah dan inspiratif. Eh tau nggak, tahun ini kita merayakan 100 tahun penyair besar Indonesia, Sitor Situmorang, loh! Bisa tuh dinyanyikan di babak final. Cek saja deh berita ini (tapi adanya bahasa Inggris :
https://www.indonesiakininews.com/2024/10/100-years-sitor-situmorang.html
Nah, tunggu apa lagi? Jangan lupa, nanti ada beberapa pemenang babak Final dari KPN+ ini yang akan dipilih kak Ananda untuk LANGSUNG masuk babak Final di Ananda Sukarlan Award 2025 loh! Jadi tidak perlu lagi susah payah melalui babak semi finalnya yang jauh lebih berat daripada KPN+, atau kompetisi lainnya, karena ASA kan memang terkenal syereeeem! Lihat saja, para pemenangnya kini adalah para musikus sukses, seperti penyanyi Isyana Sarasvati, Mariska Setiawan, pianis Calvin Abdiel Tambunan, Dr. Edith Widayani, Anthony Hartono, Randy Ryan …..dan KAMU di 2025 !

Bagaimana ceritanya, kita kutip status Facebooknya saja deh ya? Yuk kita simak, semoga menjadi motivasi untuk para pianis muda lainnya :
MENYALA DI TAIWAN…..AKHIRNYA JUARA 1
(status Facebook Yonggi tanggal 18 Agustus 2024)
Puji Tuhan, akhirnya saya mendapatkan hasil yang terbaik sebagai Juara 1 dalam Asia Aegean International Music Competition 2024 hari ini di Taipei – Taiwan, setelah sebelumnya sebagai Juara 3 di Hongkong dan Juara 2 di Amerika.
Penampilan saya![]()
Senang sekali rasanya, terlebih saya memberanikan diri berkompetisi di Kategori Profesional. Sebelum sebelumnya saya berkompetisi di Kategori Young Artist.
Dalam kompetisi ini saya membawakan Karya Ananda Sukarlan yakni Rapsodia Nusantara No. 31 yang diadaptasi dari lagu daerah Sumatera Utara “Sigulempong”. Dalam beberapa minggu terakhir saya menyempurnakan permainan piano saya atas arahan Guru saya Ms. Devina Novia Ferty dari Kita Anak Negeri yang secara khusus ikut mendampingi saya ke Taiwan ini. Masukan dan saran untuk menyempurnakan permainan saya dari Om Ananda Sukarlan sendiri untuk memperbaiki dan mempercepat permainan saya di part part tertentu. Akhirnya Juara 1 deh.

Terima kasih saya kepada Papa Mama yang dengan setia mendukung saya dengan ketebatasan yang ada. Kepada semua family dan teman teman yang selalu mendukung dan mendoakan saya. Sekali lagli lagi terima kasih banyak.
Saya Yonggi Fayden Cordias Purba
Anak Simalungun
Anak Indonesia
Horas…Horas…Horas….
The post Selamat Lagi, Lagi-lagi Selamat, Yonggi Fayden Cordias Purba, kali ini di Taiwan! first appeared on Kita Anak Negeri.]]>