tulisan Ananda Sukarlan
Pada hari Selasa 24 Juni 2025, Duta Besar Finlandia untuk Indonesia H.E. Pekka Kaihilahti menyerahkan penghargaan Grand Cross of the Order of the Lion of Finland (Suomen Leijonan ritarikunta) kepada H.E. Ratu Silvy Gayatri, Duta Besar Indonesia untuk Finlandia (2020–2025), di Wisma Duta Besar Finlandia di Jakarta. Penghargaan ini diberikan dan ditandatangani oleh Presiden Finlandia, H.E. Alexander Stubb.
Penghargaan tertinggi untuk sipil dari Republik Finlandia ini merupakan ganjaran (eh! Pemilu udah lewat ya, ga ada ganjar-ganjar!) untuk dedikasi luar biasa Duta Besar Ratu Silvy Gayatri dalam memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Finlandia. Upayanya dalam membina kemitraan, dialog, dan kolaborasi dalam berbagai bidang telah meninggalkan dampak yang nyata pada hubungan kedua negara kita.
Saya tersanjung mendapat kehormatan diundang untuk menjadi saksi kejadian bersejarah itu. Saya memang pernah ikutan dalam diplomasi budaya Finlandia – Indonesia, dan memang saya sudah banyak berhubungan dengan Finlandia sejak sekitar 20 tahun lalu, saat saya bekerjasama dengan komponis Magnus Lindberg main karyanya dan beliau sendiri sebagai dirigennya. Di upacaranya, yang dipimpin oleh Dubes Finlandia Pekka Kaihilahti, hanya ada 11 orang, termasuk beliau dan Ibu Silvy dan suaminya yang juga mantan diplomat, Susanto Prio Utomo. Jadi yang murni undangan ada 8 orang saja.
Lengkapnya sih bisa dibaca di
Satu Lagi Warganegara Indonesia Terima Penghargaan Tertinggi Dari Negara Asing
Nah, itu kan official-nya. Saya ingin cerita santai nih. Jadi, setelah penganugerahan itu, ada jamuan makan malam. Nah, saya ingin cerita soal salmon nih, karena pembukanya adalah smoked salmon. Jadiiiii, sebetulnya salmon yang jauh lebih sehat itu adalah salmon dari Finlandia, bukan salmon Norwegia yang terkenal itu. Salmon Norwegia itu sudah ter-industrialisasi, jadi itu diternakkan dan kita gak tau suntikan hormon dll dsb nya itu seberapa. Dan tentu itu diternakkan. Bedanya, kalau salmon Finlandia itu beneran salmon yang berenang bebas liar, dan bisa dilihat dari kualitas dagingnya yang lebih kenyal, tidak lembek seperti yang dari Norwegia. Tapi masalahnya, Finlandia itu tidak mengekspor salmonnya, justru karena tidak menjadikannya industri. Jadi waktu saya di Finlandia (eh ngapain? Ya baca aja artikel di parahyangan post di atas), saya sempat sehat makan salmon Finlandia hampir setiap hari. Sedangkan di Indonesia, kita mengimpor salmon ternakan dari Norwegia atau dari laut daerah Jepang sana.
Btw, sebetulnya nama yang oficial adalah Grand Cross of the Order of Lion of Finland ( Suomen Leijonan ritarikunta ) ya, bukan seperti yang di artikel itu (ini abis ngomong salmon kok balik lagi ya).
Dari salmon ke Sibelius (1865–1957), Jean Sibelius lengkapnya. Lompat-lompat banget sih ya. Anyway …. Komponis besar inilah yang berhasil, untuk pertama kalinya menciptakan musik beridentitas Finlandia. Di era ketika Finlandia berusaha menegaskan kemerdekaan budayanya dari pengaruh Rusia dan Swedia, Sibelius banyak mengambil inspirasi dari musik rakyat dan mitologi Finlandia, khususnya kisah epik Kalevala tulisan Elias Lönnrot .
Mahakarya Sibelius seperti Finlandia dan The Swan of Tuonela mendeskripsikan lanskap dan semangat Finlandia yang tangguh. Karya orkesnya “Finlandia” menjadi “lagu kebangsaan tidak resmi” kebanggaan nasional, yang menyatukan orang-orang Finlandia selama perjuangan mereka untuk meraih kemerdekaan. Penggunaan melodi modal dan irama pedesaan yang berakar pada tradisi rakyat Finlandia oleh Sibelius memberikan karakter Nordik yang khas pada musiknya. Tujuh simfoni dan Violin Concerto -nya semakin mengangkat eksistensi Finlandia di kancah musik klasik global, memperkuat perannya sebagai ikon nasional yang karyanya terus menginspirasi kebanggaan Finlandia.
Saya juga terhormat sekali diundang ke rumah Sibelius saat saya berkunjung ke Helsinki. Rumahnya di luar kota Helsinki, tepatnya di Ainola, dan makamnya juga di sana.
Dari Sibelius lah saya banyak belajar sewaktu kuliah di Royal Conservatory di Den Haag, dan kemudian para komponis yang saya kenal secara pribadi setelah saya lulus dan mulai berkarir seperti Toru Takemitsu (1930-1996) dari Jepang, Per Norgard dari Denmark (1932-2025) dan Peter Sculthorpe (1929-2014) dari Australia. Bukan hanya menulis musik di kepala saya, saya juga harus membawa warisan musik Indonesia yang beragam ke panggung global. Mengacu pada gamelan, keroncong Jawa, dan tradisi adat lainnya, saya memadukan elemen-elemen ini dengan bentuk-bentuk klasik “Barat” seperti passacaglia, variations, toccata dsb., sehingga menghasilkan suara musik yang unik. Karya-karya seperti Rapsodia Nusantara memadukan melodi dan ritme rakyat Indonesia yang mengetengahkan kekayaan budaya nusantara. Secara organisasional, bekerja dengan Yayasan Musik Sastra Indonesia yang saya bantu dirikan, kami menyelenggarakan berbagai festival untuk mempromosikan dan membina bakat-bakat muda, dan mengangkat eksistensi Indonesia dalam musik klasik kontemporer. Selain menaikkan pamor dan identitas Indonesia, saya, seperti Sibelius, Takemitsu berusaha menjembatani dunia musik rakyat (Timur) dan “art music”, menumbuhkan rasa bangga nasional terhadap keragaman budaya negara asal kami.
Semoga ini bukan hanya memperkaya lanskap budaya negara kita, tetapi juga memastikan bahwa semangat berkarya bertahan dalam bahasa musik yang tak lekang oleh waktu.
