Nah, nah, pernahkah kalian penasaran, bagaimana bunyi musik yang paling tua yang pernah ada di peradaban manusia? Well, kita nggak tau sih, tapi kita telah menemukan notasi musik paling tua, yaitu dari sekitar abad pertama – kedua (menurut carbon dating). Pastinya sudah ada musik sebelum itu, tapi kita tidak (belum) menemukannya.
Batu nisan Seikilos adalah komposisi musik lengkap paling awal yang masih ada. Melodi lagu tersebut diukir dalam notasi musik Yunani kuno di samping lirik pada batu nisan. Ini adalah lagu Ionik Helenistik baik dalam modus Frigian atau Iastian. Sementara musik lama dengan notasi ada (misalnya lagu Hurrian), semuanya dalam bentuk fragmen; batu nisan Seikilos unik karena merupakan komposisi yang lengkap, meskipun pendek.
Bentuk melodi memiliki kaitan aural yang jelas dengan musik Eropa pada abad-abad berikutnya, seperti nyanyian Gregorian pada abad ke-10.
Pilar tempat melodi ini ditulis ditemukan pada tahun 1883 di dekat kota Aydın, Turki, yang dulunya merupakan kota Yunani-Romawi Tralles di Asia Kecil, pada saat pembangunan rel kereta api di bawah arahan Edward Purser.
Kini batu nisan tersebut diawetkan di Departemen Purbakala Museum Nasional Denmark, Kopenhagen.
Nah, waktu kita mengunjungi kakak Ananda Sukarlan di studionya, beliau sedang membuat satu set variations berdasarkan melodi ini. Waktu kita tanya, kak Ananda menjawab : “Ini variasi saya buat poliritmik, sebetulnya lebih tepatnya polimeter, dimana tanda birama tangan kanan dan kiri berbeda. Melodi Seikilos sendiri itu dalam 6/8, sedangkan saya menggabungkannya dengan berbagai gaya / style dalam 2/4. Ada ritme Afrika, ada yang saya transformasi ke nuansa gamelan, walaupun tidak sepenuhnya pentatonik. Melodi Seikilos ini benar-benar asik karena sangat terbuka untuk interpretasi. Aslinya adalah sebuah epitaph yang ditulis untuk Euterpe, kemungkinan besar istri Seikilos, bisa juga ibunya, yang pasti seorang wanita yang dipuja oleh Seikilos sebagai batu nisan wanita ini. Itu saja yang kita tahu. Jadi harmoni, ritme dll bisa kita bikin sendiri, makanya saya bikin satu set variasi dengan beberapa kemungkinan yang saya pikirkan. Saya juga sengaja bikin tidak terlalu sulit, jadi bisa dimainkan oleh para pianis muda, untuk pengetahuan mereka, bagaimana sih bunyi melodi yang paling tua di peradaban kita. Eh bukan yang paling tua ya, tapi yang sudah kita bisa temukan. Nah, tiap variasi itu memiliki karakter tersendiri, jadi harus perhatikan bahwa karya ini, walaupun pendek, cukup sarat dengan kontras.”
Nah, ini dia kakak Ananda Sukarlan memainkan variasinya untuk KITA. Ayo, siswa-siswa piano KITA, mainkan yuk !
Ananda Sukarlan plays his Polyrhythmic Variations on the Seikilos Theme
Ananda Sukarlan plays his Polyrhythmic Variations on the Seikilos Theme |
Btw, Sabtu tgl 12 Juli ini nonton resital piano Calvin Abdiel di IFI yuk! Calvin kan jadi juri di Ananda Sukarlan Award 2025. Good luck juga buat instruktur kita, kak Nur Khaled Aziz dan Yonggi Fayden Cordias Purba, siswa kak Devina Novia Ferty yang tembus ke babak final kompetisi super keren dan bergengsi ini! Bantu doain mereka ya, KITA semua bangga banget !
