Rasanya gatal membaca obituari yang ditulis kak Ananda Sukarlan tentang Per Norgard, dan sama sekali tidak membahas tentang kehidupan dan karya-karya maestro Denmark ini (karena memang bukan itu tujuannya). Memang obituari itu memberi POV yang sangat jarang kita ketahui, dan kita jadi tahu bagaimana proses kerjasama komponis dan pianis yang sungguh luar biasa. Baca saja deh :
Tapi rasanya gak komplit yah kalau tidak mengenal lebih dalam siapa itu Per Norgard. Untuk itu, KITA perkenalkan deh sedikit biografi dan karyanya untuk melengkapi obituari tersebut. Sebelumnya, kita minta sepatah kata ke kak Ananda Sukarlan, dan ini katanya :
“Saya cukup sedih sih mendengar wafatnya Per Norgard. Selain “Many Returns to Bali” yang dia tulis untuk saya tahun 2003, sebelumnya –dan sesudahnya juga — saya main karya-karya piano Norgard yang lainnya dan juga banyak belajar dari beberapa karyanya untuk musik kamar bersama teman-teman zaman kuliah. Saya sih berharap semoga para peserta Kompetisi Piano Nusantara Plus atau Ananda Sukarlan Award mau mencoba main musiknya, karena banyak paradigma baru yang tidak kita ketemukan di karya-karya komponis lain.”
Per Nørgård wafat pada tanggal 28 Mei 2025, di usia 92 tahun. Ia lahir pada tanggal 13 Juli 1932.
Per Nørgård adalah ikon dalam kehidupan musik Denmark dan internasional, dengan karier yang telah berlangsung lebih dari 70 tahun. Komposer Denmark paling terkemuka sejak Carl Nielsen, karya musik Per Nørgård mencakup karya dalam setiap genre termasuk delapan simfoni, enam opera, konser solo, musik paduan suara, beragam karya musik kamar, serta beberapa partitur untuk film dan teater – dengan total sekitar 400 karya.
Nørgård memulai studi privat dengan komponis Denmark Vagn Holmboe sebelum kuliah di Royal Danish Academy of Music di Copenhagen untuk belajar dengan Holmboe, Finn Høffding, dan Herman D. Koppel dari tahun 1952 hingga 1955. Setelah lulus, ia belajar dengan Nadia Boulanger di Paris (1956-57). Di usianya yang baru 22 tahun, Per Nørgård menandatangani kontrak dengan penerbit Edition Wilhelm Hansen dan memulai kemitraan yang berlangsung hingga akhir hayatnya.
Sejak tahun 1950-an, ia bekerja dalam tradisi Nordik dari Carl Nielsen dan khususnya Jean Sibelius, yang berkorespondensi dengannya. Pada tahun 1960-an, dipengaruhi oleh gagasan Vagn Holmboe tentang metamorfosis dan teknik serial baru, ia mengembangkan ‘seri tak terhingga’ (infinite series) fraktalnya sendiri.
Inspirasi Nørgård datang dari berbagai tempat. Ia menemukan inspirasi dalam legenda Gilgamesh dan Pangeran Siddharta, dalam musik gamelan Bali, The Beatles, suara burung Brasil, nada dasar laut, lalu lintas kota besar, dan seniman gila Adolf Wölfli (1864-1930), yang menginspirasi karya paduan suaranya Wie ein Kind (1980) dan opera The Divine Circus (1982). Pada tahun 2014, Symphony No. 8 (2010-11) dan Symphony No. 1 (1953/1956) dipentaskan dan direkam oleh Vienna Philharmonic.
Sebagai dosen komposisi, ia secara signifikan memengaruhi banyak generasi komponis, pertama di Royal Danish Academy of Music dan kemudian, sejak tahun 1965, di Royal Academy of Music di Aarhus. Di antara murid-muridnya adalah Fuzzy, Hans Gefors, Hans Abrahamsen, Bent Sørensen, dan banyak lainnya. Inspirasi Nørgård juga dapat ditemukan pada komposer internasional seperti Carl Davis, Sven-David Sandström, Esa-Pekka Salonen, Wolfgang Rihm, Thomas Adés, Julian Anderson sampai Ananda Sukarlan.
Per Nørgård juga merupakan kritikus musik untuk surat kabar Denmark Politiken (1958-1962) dan sepanjang kariernya, ia terbukti sebagai penulis analisis musik dan filsafat musik yang produktif. Tulisannya kini tersedia secara digital di Perpustakaan Kerajaan Denmark. Ia sangat aktif dalam politik musik dengan bertugas di berbagai komite di Kementerian Kebudayaan Denmark dan Danish Art Foundation. Melalui berbagai tulisan, seminar, dan ceramahnya, Per Nørgård menginspirasi para musisi, konduktor, penyair, dan ilmuwan. Ia senang berinteraksi dengan musisi visioner dan memberikan panduan untuk memahami cara berpikir musikalnya yang unik. Meskipun rapuh menjelang akhir hayatnya, ia terus bekerja dengan para musisi dan – pada usia 90 tahun – bahkan merekam album berisi karya-karya improvisasi. Sungguh seorang pelopor musik hingga akhir hayatnya.
Di antara sekian banyak karya penting Per Nørgård, 8 simfoninya berdiri sebagai monumen dalam musik Denmark, di antaranya adalah Simfoni No. 3 (1972), yang dipilih sebagai bagian dari ‘Kanon Budaya Denmark’ pada tahun 2005. Karya-karya penting lainnya termasuk trio Spell (1973), karya paduan suara Wie ein Kind (1980), I Ching (1982) untuk perkusi solo, konser biolanya Helle Nacht (1987), opera Nuit des Hommes (1996), karya orkestra Terrains Vagues (2000), serta karya piano solonya yang diciptakannya untuk Ananda Sukarlan, “Many Returns to Bali” untuk mengenang tragedi bom Bali, Oktober 2002. Ia menerima sejumlah penghargaan kehormatan atas prestasi musiknya, termasuk Penghargaan Musik Léonie Sonning pada tahun 1996, Penghargaan Musik Dewan Nordik (Nordic Council Music Prize) tahun 1974, Sibelius Prize pada tahun 2006, Penghargaan Musik Marie-Josée Kravis pada tahun 2014, Hibah Kehormatan Yayasan Wilhelm Hansen pada tahun 2006, dan Penghargaan Musik Siemens pada tahun 2016.
Per Norgard juga akan dikenang oleh dunia musik Indonesia, walaupun mungkin baru Ananda Sukarlan musisi Indonesia yang memainkan musiknya. Ananda telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga beserta Edition Wilhelm Hansen, atas nama seluruh Indonesia. Per meninggalkan dua orang anak, Ditte dan Jeppe.
Loui Törnqvist, Direktur Pelaksana Edition Wilhelm Hansen berkomentar: ‘Pentingnya musik Per Nørgård tidak dapat dilebih-lebihkan. Merupakan suatu kehormatan besar untuk menerbitkan musiknya. Per akan dikenang sebagai salah satu komposer Denmark terhebat sepanjang masa dan seseorang yang tanpa henti mengembangkan ekspresi musiknya sepanjang kariernya. Ia sering bercanda bahwa ia bangga menjadi karyawan tertua di perusahaan tersebut. Sebagai manusia, dia baik hati, dan kami semua akan sangat merindukannya.’
