Sobat KlasiKITA, banyak ya yang nggak kedapatan tiket untuk konser terakhir Ananda Sukarlan memperdanakan Bora Ring, karya barunya, 30 April lalu? Yang beruntung dan dapat menyaksikannya, responnya antusias banget. Media juga banyak meliput kesuksesan konser ini, google saja deh “Ananda Sukarlan Bora Ring” kalau mau baca, bahkan sudah banyak cuplikan beredar di internet. Nah, jangan kecewa deh, soalnya Ananda akan konser lagi tanggal 24 Mei ini di Gedung Yamaha Music di Jalan Gatot Subroto (Jakarta) pukul 3 siang, dan ada loh karya-karya baru juga! Ini konser sekaligus pengumuman siapa saja yang akan menembus babak final Ananda Sukarlan Award 2025, dan ada tiket spesial untuk para murid dan guru musik, silakan aja deh hubungi Instagram @anandasukarlancenter segera, jangan sampai kehabisan lagi.
Yuk ngobrol sedikit dengan kak Ananda tentang konser 24 Mei ini dan ngalor-ngidul lainnya!
KITA : Bisa ceritakan siapa saja penampil yang ikutan konser 24 Mei mendatang, selain kak Ananda sendiri?
Ananda Sukarlan (AS) : Saya mengundang tiga musisi klasik remaja yang sedang naik daun, yaitu dua pianis Callista Kertalesmana dan Abigail Zoe Wang serta soprano Fae Bernice Robin.
Banyak karya baru, dan karya yang bukan baru tapi belum pernah dimainkan akan dipagelarkan di sini.
KITA : Apa saja yang spesial dari mereka? Dan apa yang akan mereka pagelarkan 24 Mei nanti?
AS : Fae Bernice Robin bukan “hanya” seorang soprano muda yang telah merebut juara pertama Kompetisi Piano Nusantara Plus region Palembang, serta juara ke-3 KPN+ tingkat Nasional di babak finalnya di Jakarta Desember 2024 lalu. Saat ini berusia 15 tahun, ia juga penyandang gelar Puteri Anak Indonesia Pendidikan 2023 dan Puteri Anak Sumatera Selatan 2023. Pokoknya paket komplit : cerdas, cantik, cetar nyanyinya!
Ia akan menyanyi diiringi saya sendiri, dan dua tembang puitik baru yang ia akan nyanyikan adalah “Coto Makassar” dari puisi Shantined, dan Tiga Puisi Pendek Sihar Ramses Simatupang. Selain itu ia akan menyanyikan dua tembang yang telah membawanya menjadi juara KPN+ tahun lalu : September Tuarang (puisi Rissa Churria) dan Rindu Ibu, Rindu Pulang (puisi Sofyan RH. Zaid).
Callista Kertalesmana, pemenang Ananda Sukarlan Award 2023 kategori Junior yang berusia 13 tahun juga sudah berkali-kali menjuarai Yamaha Piano Competition. Nah dia akan memperdanakan Rapsodia Nusantara no. 38, yang bersama Rapsodia sejak nomor 33 itu saya tulis pada periode pandemi Covid-19. Nomor 33-38 itu banyak yang belum pernah dimainkan, waktu itu saya tulis karena saya banyak waktu, jadi saya bisa banyak bereksperimen. Nomor 38 ini saya bereksperimen dengan tingkat kesulitan — lebih tepatnya kemudahan — teknik pianistik. No. 38 ini bisa dimainkan pianis sangat muda karena tingkat kesulitannya yang tidak begitu tinggi. Itu sebabnya saat Callista Kertalesmana saya ajak bermain di konser ini, ia dan gurunya Aldora Devita memilih karya ini. Padahal Callista telah memainkan Rapsodia nomor 20 yang jauh lebih sulit dan telah membawanya menjadi juara di berbagai kompetisi nasional dan internasional. Tapi mengingat jangka waktu yang pendek untuk mempersiapkan konser 24 Mei ini, ia memilih Rapsodia 38 yang walaupun tidak sesulit no. 20, Rapsodia ini tetap spektakuler mengolah lagu Jawa Barat “Cing Cangkeling”. Nah, nanti 24 Mei dia akan memainkan dua nomor Rapsodia yang sangat kontras ini.
Sedangkan pianis Surabaya Abigail Zoe Wang akan memainkan dua karya saya yang sudah sangat populer, Rapsodia Nusantara no. 8 (berdasarkan lagu O Inani Keke dari Sulawesi Utara) dan Variations on “Bintang Kecil” (lagu anak-anak ciptaan Daljono Hadisudibyo). Zoe adalah juara ke-2 Ananda Sukarlan Award 2023 kategori Junior, tapi ia juga telah memenangkan banyak kompetisi internasional seperti juara pertama di Singapore International Piano Competition 2021 dan juara ke-2 di Bremen International Piano Competition 2021
KITA : Nah, balik ke konser April lalu. Kenapa tertarik untuk mengangkat kisah ritual Bora Ring?
AS : Nah, penjelasan soal Bora Ring itu silakan saja baca link ini : https://www.parahyangan-post.com/berita/detail/ananda-sukarlan-perdanakan-karya-baru-bersama-pemusik-aborigin
Saya selalu percaya, sejarah itu lebih mudah diingat dan dipelajari melalui karya seni. Jujur saja, saya tidak pernah percaya sejarah sebagai fakta yang utuh atau lengkap. Oswald membunuh Presiden John F. Kennedy itu satu versi dari sejarah, tapi belum tentu fakta. Faktanya adalah video bikinan Zapruder yang terlihat jelas bahwa pembunuhnya ada beberapa dari berbagai sudut. Tapi sejarah menuliskan bahwa pembunuhnya satu, yaitu Lee Harvey Oswald. Sekarang sudah terbuka oleh administrasi Donald Trump bahwa pembunuhnya memang bukan Oswald, dan lebih dari satu orang, kan? Itu baru salah satu contoh. Belum lagi soal pendaratan di bulan, pandemi Covid-19 dan sebagainya. Nah, kalau di bidang musik, sejarah itu sering dipakai sebagai pencitraan, misalnya Wolfgang Amadeus Mozart itu digambarkan sebagai seniman miskin. Well, banyak sih seniman ditulis oleh sejarah sebagai orang miskin dan terzalimi. Padahal Mozart itu kaya raya. Rachmaninov itu salah satu seniman terkaya dalam sejarah juga, jauh dengan pencitraan imigran Rusia yang merantau ke Amerika penuh penderitaan. Tinggalnya saja di Beverly Hills, dan punya vila musim panas di Danau Lucerne di Swiss!
Puisi –dan karya sastra pada umumnya — menangkap berbagai emosi tersembunyi yang bahkan sang penulis pun tidak menyadarinya sebelum menuliskannya, fakta di balik realita yang tak kasat mata, yang hanya mampu ditangkap oleh ketajaman intuisi seorang penyair, diolah secara kreatif, disajikan dalam bahasa puitik. Ritual Bora tidak mudah kita pelajari bahkan melalui Google, tapi lewat puisi-puisi Judith Wright kita bisa merasakannya secara utuh.
Buku sejarah menyajikan fakta empiris (bahkan sering dikaburkan oleh sang “penulis sejarah”), sedangkan puisi menyajikan sesuatu yang tersirat di balik fakta empiris (beyond the facts). Ketika seorang penyair membahas emosi seperti depresi, dia tak menjelaskan depresi karena itu tugas para psikolog, namun penyair menjelaskan pesan yang dia tangkap di balik depresi tersebut, yang pada akhirnya berfungsi sebagai efek katarsis.
Saya meyakini bahwa sejarah itu bukan 100 persen fakta. Kadang-kadang bahkan sedikit sekali faktanya. Saya lebih tertarik membaca sejarah lewat, misalnya, Shakespeare. Sebab, sejarah itu cenderung untuk menghakimi, yaitu ada penjahat, ada pahlawan. Ada pihak yang benar, ada yang salah. Sejarah mengajak kita untuk berpihak. Buat saya, pidato Mark Antony yang ditulis Shakespeare itu lebih membuat saya semakin mengerti tentang Julius Caesar daripada yang saya pelajari di sekolah dulu. Sejarah itu bukan untuk dipelajari, tapi untuk dirasakan. Kalau cuma dihapal, kita tidak akan mengerti. Itu sebabnya seni lebih penting daripada fakta sejarah. Itu sebabnya Einstein bilang “Imagination is more important than knowledge“.
Intinya, saya ingin menekankan bahwa catatan sejarah itu tidak semuanya adalah realita. Sejarah adalah rekonstruksi, dan bisa saja dalam prosesnya ada yang terlewat atau bahkan dimanipulasi. Tetapi bahwa itu bisa saja dikoreksi di kemudian hari, ya bisa juga. Ini yang saya ingin sampaikan melalui Bora Ring, dan juga karya sebelumnya, yaitu The Voyage to Marege’ yang menceritakan mendaratnya para imigran pertama di Australia, yaitu para pelaut Makassar yang kemudian menetap dan berkeluarga di Northern Territory, yaitu bagian utara benua itu. Saya pernah tinggal bersama mereka di sana tahun 2017, jadi saya mendengar langsung banyak kisah-kisah menarik. Baca deh https://seni.co.id/panggung/eksklusif-ananda-sukarlan-dan-the-voyage-to-marege-aborigin1/
