sebuah tulisan Ananda Sukarlan
Selasa 27 Januari lalu saya konser sekaligus mengumumkan tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, di Four Seasons Jakarta. Acara itu hanya terbuka untuk para undangan dan donatur, tapi kemudian diliput oleh beberapa media, antara lain
Di situ ada paragraf tentang saya banyak memasukkan repertorie dengan elemen polifonik di edisi tahun ini, dan kemudian masuklah banyak pesan, pertanyaan bahkan sedikit protes yang temanya “haduh, polifoni itu susah” dan variasinya. Yang tidak tersebut di situ adalah saya juga menyarankan, untuk karya pilihan bebas, saya ingin menyarankan karya polifonik juga. Tidak perlu benar-benar fuga, tapi bisa misalnya “June” dari The Seasons karya Tchaikovsky, di mana tidak sepenuhnya melodi dan iringan. Atau ada Studies in Canon op. 56 dari Robert Schumann yang kurang terkenal, padahal bagus banget, dan tingkat kesulitan (baca : kemudahan)nya setaraf Inventions dari Bach, gitu deh.
Nah, di KPN+ saja saya menekankan polifoni, apalagi di Ananda Sukarlan Award 2027? Siapkan deh dari sekarang Bach atau canons nya Schumann, atau tingkat Senior ya Hindemith atau Shostakovich juga ya.
Apa pentingnya sih bermain dan berlatih polifoni?
Musik polifoni itu tadinya ada di musik klasik, dan kemudian diadaptasi di musik pop. Asalnya dari musik rakyat, di Indonesia ada di gamelan Jawa dan Bali. Di musik jazz juga ada, tapi bedanya adalah : polifoni di jazz dan gamelan itu dilakukan secara spontan, sedangkan di musik klasik itu dikalkulasi di atas kertas. Nah kalau di pop itu latihan tanpa baca not jadi tidak bisa begitu kompleks, tapi buat saya ga ada musik pop yang ngalahin kecermatan dan kepiawaian polifoni di lagu “God only knows (what I’d be without you)” – nya The Beach Boys deh. Brian Wilson itu musikus jenius banget.
Musik polifonik Johann Sebastian Bach (terutama Inventions, Sinfonias dan fuga The Well-Tempered Clavier) buat saya adalah 50% atau lebih dari pengajaran musik yang serius. Hampir setiap pendidik piano dan kurikulum konservatori utama menempatkan Bach sebagai intinya. Teknik ini kemudian dikembangkan di karya-karya Paul Hindemith (1895-1963) dalam “Ludus Tonalis” dan Dmitri Shostakovich (1906-1975) dalam 24 Preludios dan Fugas op. 87. Saya pun banyak menggunakan dan mengembangkannya di banyak karya saya, juga menggunakan teknik gamelan dan metode saya sendiri. Dari 44 nomor Rapsodia Nusantara sampai saat ini, bisa dibilang 35-40% diantaranya mengeksploitasi Fuga, terutama untuk bagian akhirnya. Juga ada canon 3 suara di “Variations on Desaku”, dan masih banyak bentuk polifoni lain yang saya tulis untuk anak saya saat ia belajar piano dan sekarang diterbitkan di “Alicia’s Piano Books” yang berjumlah 6 jilid.
Polifoni penting dipelajari oleh siswa piano karena berbagai aspek :
1. Melatih kemandirian tangan dan jari.
Mulai dari Joseph Haydn (1732-1809) dan mayoritas musik romantik, tangan kiri sering memainkan iringan sementara tangan kanan memainkan melodi. Bach memaksa kedua tangan (bahkan kadang terbagi sampai 5 suara) untuk menampilkan melodi yang sama pentingnya. Ini mengembangkan kemandirian jari dan tangan yang sebenarnya — sesuatu yang menjadikan musik Chopin, Liszt, Rachmaninoff, atau bahkan jazz/pop selanjutnya jauh lebih mudah dan jelas artikulasinya.
2. Mengembangkan pendengaran polifonik / kesadaran pendengaran.
Seorang musikus harus belajar mendengarkan beberapa suara secara bersamaan dan memutuskan mana yang akan diutamakan pada saat tertentu. Keterampilan ini (“penyajian suara”) secara dramatis meningkatkan: Keseimbangan antar suara dalam nocturne / ballade / scherzo dari Chopin,
Suara-suara internal dalam Brahms dan Liszt,
Tekstur polifonik dalam Debussy, Ravel, Prokofiev, dll.
Banyak pianis yang tidak mempelajari polifoni yang serius tidak pernah benar-benar terlatih di pendengaran yang peka ini. Apalagi sejak musik dianggap sebagai “musik background”, yang didengar pun tidak !
3. Mengungkap setiap kelemahan teknis.
Bach hampir tidak memiliki “bantalan” atau akord tebal untuk menyembunyikan ketidakrataan. Menentukan penjarian yang tepat (penjarian untuk satu orang belum tentu nyaman untuk pianis lain) sangat penting. Pergelangan tangan yang kaku, ritme yang goyah, tangga nada/arpeggio yang tidak rata — semuanya langsung terdengar. Karena alasan ini, Bach adalah alat diagnostik dan korektif terbaik untuk teknik.
4.Mengajarkan ritme, denyut, dan pengelompokan not yang sempurna.
Karena beberapa garis harus tetap terkoordinasi secara ritmis tanpa bantuan pedal, kita mengembangkan denyut internal metronomik dan subdivisi yang sangat tepat. Fondasi ini membuat ritme abad ke-19–20 yang kompleks jauh lebih mudah dikelola.
5. Memberikan pemahaman terdalam tentang harmoni dan pengarahan suara.
Polifoni atau kontrapunk adalah demonstrasi paling jelas dan logis tentang bagaimana harmoni sebenarnya bekerja. Ketika kita memainkan fuga dan invensinya cukup lambat untuk mendengar setiap kombinasi vertikal, kita menginternalisasi: Harmoni fungsional, Suspensi / disonansi dan logika modulasi.
Pengetahuan ini secara tidak langsung meningkatkan interpretasi kita dalam musik lainnya yang tidak eksplisit polifonik, karena bagaimanapun, bermain piano, gitar atau harpa itu adalah memainkan polifoni.
6. Membangun kecerdasan frasa dan artikulasi.
Karena jarang ada satu “melodi” dominan, kita harus terus-menerus memilih dan menentukan tentang pembentukan, legato, staccato/legato, dinamika dalam setiap suara. Ini melatih pemikiran musik jauh lebih intens daripada memainkan karya dengan melodi + iringan yang jelas.
7. Manfaat mental & neurologis.
Memainkan 3–5 suara independen secara bersamaan adalah salah satu tugas kognitif-motorik paling kompleks yang dapat dilakukan manusia. Banyak pianis (dan ahli saraf yang bermain piano) menggambarkan studi Bach sebagai semacam “latihan otak” yang meningkatkan fokus, memori kerja, pengenalan pola, dan kemampuan multitasking.
8. Imbalan estetika & emosional
Setelah rintangan teknis dan polifonik teratasi, musik Bach menawarkan kombinasi unik antara kepuasan intelektual, keindahan arsitektur, dan kedalaman emosional yang mendalam.
