Sebuah obituari oleh Ananda Sukarlan
Ulangtahun saya kali ini sedih banget sih. Minggu lalu, seorang yang saya kenal, kagumi dan banyak belajar darinya telah wafat, yaitu Per Nørgård, komponis musik klasik Denmark. Kali ini saya gak kenal tapi sangat kagum dan juga sangat berpengaruh terhadap musik saya. Bikin obituari lagi deh. Lagi-lagi, obituari saya bukan berupa biografi tapi pengalaman saya terhadap sosok atau hasil karyanya.
Jujur saya sedih banget mendengar wafatnya Brian Wilson, salah seorang pendiri The Beach Boys, pada usia 82 tahun 11 Juni kemarin, 1 hari setelah ulangtahun saya. Berkat kejeniusan Brian Wilson, Beach Boys menghasilkan banyak lagu pop yang masih sangat terhubung dengan musik sebagai seni yang sering kita sebut “musik klasik” ; bukan hanya itu, ia bisa “mengulur” tali progresi harmoni yang kelihatannya hampir putus oleh Gustav Mahler, Arnold Schoenberg atau Richard Wagner dan membuktikan bahwa tali tersebut tidak putus, asal tahu cara dan arah menariknya.
Sang Beatles, Paul McCartney mengatakan “God Only Knows” adalah lagu terbaik yang pernah ditulis. Mungkin itu agak lebay, mungkin bukan yang “paling”, karena setelah itu ada Michael Jackson, Freddie Mercury dan kini Lady Gaga, tapi kalau ada “top 10” lagu pop terbaik, pasti ciptaan Brian Wilson itu masuk lah ke deretan itu.
Banyak orang generasi sekarang belum pernah mendengar namanya, padahal kalau anda mendengar progresi harmoni di banyak musik saya yang agak-agak aneh itu, andil Brian Wilson sangat kuat. Saat saya sedang menulis opera “Clara, atau Gadis Cina yang Diperkosa” tahun 2015, BBC baru menayangkan rekaman baru mereka berupa “remake” dari lagu “God Only Knows”, lagu klasik Beach Boys tahun 1966. Tujuannya adalah untuk menandai peluncuran BBC Music, yang digambarkan oleh perusahaan tersebut sebagai “gelombang program baru yang ambisius, kemitraan yang inovatif, dan inisiatif musik yang inovatif yang merupakan komitmen terkuat BBC terhadap musik dalam 30 tahun”. “God Only Knows” versi baru ini dirilis sebagai singel untuk mengumpulkan dana bagi BBC Children in Need.
BBC telah berhasil mengumpulkan sejumlah bintang untuk rekaman ini. Bergabung dengan Brian Wilson, sang jenius penulis lagu tersebut, adalah Sir Elton John, One Direction, Stevie Wonder, Pharrell Williams. Jake Bugg, Lorde, Emeli Sandé, Danielle de Niese, Nicola Benedetti, Eliza Carthy, Baaba Maal, Paloma Faith, Chris Martin, Kylie Minogue, Sam Smith, Florence Welch, Chrissie Hynde, Brian May, Dave Grohl, Alison Balsom, Martin James Bartlett, Jamie Cullum, Jaz Dhami, serta Zane Lowe, Lauren Laverne, Katie Derham, Gareth Malone, dan Jools Holland dari BBC. Mereka bergabung dengan Tees Valley Youth Choir dan BBC Concert Orchestra. Lagu ini disertai dengan video keren yang direkam di gedung teater Alexandra Palace yang sudah tidak digunakan lagi di London, yang menjadi tempat siaran BBC pertama lebih dari 90 tahun yang lalu.
Wilson sendiri menyatakan dirinya senang dengan hasilnya.“Saya merasa terhormat karena God Only Knows terpilih. God Only Knows adalah lagu yang sangat istimewa. Lagu yang sangat spiritual dan salah satu yang terbaik yang pernah saya tulis.”
Balik ke opera saya, “Clara” yang berdasarkan kisah nyata tahun 1998 yang ditulis menjadi drama oleh Seno Gumira Ajidarma. Tokoh utama yang diperankan soprano Isyana Sarasvati sebagai Clara, sang gadis keturunan Cina itu saya desain untuk memutar lagu God Only Knows saat menyetir mobil di jalan tol, sebelum mobilnya diserbu para calon pemerkosanya. Cuplikan lagu itu saya perdengarkan lewat pengeras suara di teater, waktu itu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Kemudian progresi harmonik di lagu itulah yang menjadi fondasi dari bagian setelah kejadian Clara diperkosa. Kenapa saya menggunakan progresi harmoni itu? Karena buat saya tidak hanya magical, tapi juga disturbing. Se-disturbing cara menuturkan kisahnya Seno Gumira. Seperti kita tahu, 1998 itu kelam banget. Puluhan atau mungkin ratusan gadis Cina diperkosa dengan cara sadis di mana-mana, dan Clara ini diseret keluar mobilnya, terus diperkosa ramai-ramai. Tokohnya sendiri itu fiktif, tapi sebetulnya banyak sekali perempuan Cina yang mengalaminya.
“Clara” tidak akan berbunyi seperti itu tanpa musik Brian Wilson. Begitu juga Elton John dan banyak pemusik dunia yang “berhutang” kepada Wilson, bahwa ternyata progresi harmoni bisa seliar itu, yang membuat jiwa kita terguncang mendengarnya. Brian Wilson telah membuktikan bahwa musik benar-benar dapat membuat kita gelisah, dan ini yang justru dihindari di era kini. Musik hanya harus enak didengar, mudah dicerna.
Padahal filsuf besar Plato menuliskan ajaran gurunya Socrates di bukunya The Republic, bahwa perubahan dalam mode musik negara akan menyebabkan revolusi sosial berskala luas. Dan ini sudah terbukti dari dekadensi musik sejak awal abad 20.
Tulisan-tulisan filosofis Plato dan Aristoteles (sekitar 350 SM) mencakup bagian-bagian yang menggambarkan pengaruh harmoni yang berbeda pada suasana hati dan pembentukan karakter. Misalnya, Aristoteles menyatakan dalam karyanya “Politics”: “Melodi itu sendiri mengandung imitasi karakter manusia. Ini sangat jelas, karena harmoni memiliki sifat yang sangat berbeda satu sama lain, sehingga mereka yang mendengarnya terpengaruh secara berbeda dan tidak merespons dengan cara yang sama terhadap masing-masing harmoni.” Kini, bye bye deh harmoni yang begitu beragam. Semua lagu yang mau laku keras kini dibatasi oleh 4 atau paling banyak 5 akord, seperti dalam lagu-lagu Taylor Swift atau Justin Bieber. Ya, ya, segitu terbatasnya kemampuan kita mencerna musik sekarang. Dan segitu dalamnya kesedihan saya mendengar kepergian Brian Wilson. Beristirahatlah dengan tenang, Maestro. Anda sendiri tidak sadar betapa besar jasa anda untuk kemanusiaan. Paling tidak, anda telah menunda kemunduran intelektualitas aural manusia. Sampaikan salam kepada saudaramu Carl dan Dennis Wilson dari kita semua… dan TERIMA KASIH untuk semua musik yang memperkaya dunia kita ini.
