oleh Ananda Sukarlan
Hari Minggu 26 Januari kemarin saya diwawancara oleh media dari Sulawesi Utara, Cahaya Manado, yang kemudian juga ditayangkan oleh pojokliterasi online. Nah ada beberapa hal yang saya ingin tambahkan / klarifikasi di sini, karena banyak yang komentar bahwa kesannya saya “anti AI”. Padahal sama sekali tidak, baca deh pernyataan saya di bagian paling akhir artikel tersebut :
Saya juga ingin menambahkan bahwa saya berpendapat bahwa kini lapangan pekerjaan untuk seniman jauh lebih terbuka, karena seperti yang saya bilang di artikel itu, seni yang tulen masih belum bisa digantikan oleh AI. Supir taksi, pembersih rumah kita, sampai akuntan, dokter bahkan pengacara (lawyer) di negara yang sistem hukumnya sudah mapan dan bukan lewat suap-menyuap itu bisa digantikan dengan AI. AI itu belajar dari template, jadi justru tidak bisa inovatif secara artistik, padahal salah satu kunci dari karya seni itu adalah identitas yang kuat dan inovasi.
Saya sih setuju bahwa seniman dapat menggunakan AI sebagai kolaborator, di mana AI dapat menyarankan modifikasi atau malah menghasilkan bagian dari sebuah karya, yang kemudian disempurnakan atau diintegrasikan oleh seniman ke dalam karyanya sesuai dengan bahasa / gayanya. Nah, ini dapat saja mengarah pada gaya unik atau bentuk seni hibrida yang memadukan kreativitas manusia dengan elemen teknis, bukan artistik, yang dihasilkan mesin.
AI juga dapat melayani tujuan pendidikan dengan mengajarkan teknik, gaya, atau bahkan konteks sejarah melalui platform interaktif berbasis AI. Seniman dapat menggunakan AI untuk mengeksplorasi melampaui kemampuan mereka saat itu, mempelajari teknik atau gaya baru dengan berinteraksi dengan sistem AI yang meniru atau berinovasi berdasarkan metode yang sudah ada.
Kesimpulannya, AI tidak hanya mengubah cara karya seni dibuat tetapi juga cara pemahaman dan pelestariannya. Meskipun hal ini membawa tantangan terkait etika, ekonomi, dan representasi budaya, AI bisa juga menawarkan peluang bagi inovasi dalam ekspresi dan keterlibatan artistik. Interaksi antara teknologi dan seni semoga mendefinisikan kembali (redefine) seni di era modern. Jadi, saya terbuka, tapi dengan sangat hati-hati, dengan AI!
Saya sebaiknya mengutip (menerjemahkan) mentah-mentah pernyataan Elon Musk sebagai guru bahkan “suhu”nya AI deh, yang tentu saja saya setuju 1000% :
“Saya khawatir tentang AI. Karena kita menciptakan kecerdasan yang pada akhirnya akan jauh lebih cerdas daripada manusia mana pun, dan pada akhirnya lebih cerdas daripada seluruh manusia [di dunia ini].
Dalam menciptakan AI, kita harus sangat berhati-hati. Ini seperti memiliki anak yang jenius. Anda ingin anak itu tumbuh dengan nilai-nilai yang baik.
Hal terpenting dalam melatih AI adalah kejujuran yang ketat. Ini sangat, sangat penting. Esensial.
Kekhawatiran saya tentang banyak AI yang sedang dikembangkan adalah mereka dilatih untuk berbohong. Dalam beberapa kasus, dengan konsekuensi yang berpotensi membawa bencana.
Ketika Google Gemini keluar, orang-orang bertanya, mana yang lebih buruk, salah mengidentifikasi jenis kelamin (gender) Caitlyn Jenner atau perang termonuklir global? Dan jawabannya, salah mengidentifikasi jenis kelamin Caitlyn Jenner. Itu masalah, guys.
Jika AI ini menjadi sangat kuat, ia dapat memutuskan bahwa cara terbaik untuk menghindari salah mengidentifikasi jenis kelamin / gender adalah dengan membunuh semua manusia, yang membuat kemungkinan salah mengidentifikasi jenis kelamin menjadi nol.
Sangat penting bagi AI untuk bersikap jujur dan ingin tahu secara maksimal, serta mencintai kemanusiaan. Sangat penting.”
(Harrisburg, Pennsylvania, 19 Oktober 2024)
Nah, Elon Musk aja galau tentang AI kan, apalagi saya yang sangat awam ini? Udah deh main piano aja yuk. Jangan lupa cek soal Kompetisi Ananda Sukarlan Award 2025 ya, udah ada tuh semua infonya di anandasukarlancenter.com (eh ujung-ujungnya promo!). Ingat loh, musisi klasik masih belum (dan akan sangat jauuuhh!) bisa digantikan dengan AI !

