Saat ini Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 telah berjalan dengan sukses di 3 kota sejak akhir Agustus lalu : Medan, Bandung dan Bekasi. Sang pendiri dan ketua juri, Ananda Sukarlan, berbincang-bincang dengan KITA Anak Negeri untuk mengevaluasi sekaligus memberi wawasan, bukan hanya untuk ke 8 kota berikutnya tapi juga untuk Ananda Sukarlan Award 2027, baik untuk peserta maupun juri serta mitra penyelenggara tiap region KPN+

KITA Anak Negeri (KAN) : Bagaimana kabar Kompetisi Piano Nusantara Plus yang tengah berjalan saat ini?
Ananda Sukarlan (AS) : Wah antusiasmenya luar biasa, dan tahun depan sih kami bakal sangat terbuka menerima mitra penyelenggara baru serta afiliasi kompetisi lain di luar 11 kota yang sudah ada tahun ini. KPN+ sudah mulai dikenal di berbagai pelosok dan banyak peserta dari kota-kota kecil yang harus melakukan perjalanan darat dan menginap di hotel di kota yang sudah menyelenggarakannya. Dari Solo, Purworejo atau Magelang sih bisa ke Yogya tanpa menginap, dari Semarang bisa ke Salatiga juga, tapi di Jawa Timur hanya ada di Surabaya yang cukup jauh dari Kediri misalnya yang telah membuktikan eksistensinya lewat pemenang kategori Tembang Puitik tahun lalu, Jason Suryaatmadja kelahiran Kediri. Ini juga berlaku di Sumatra, di mana tahun ini “hanya” terselenggara di Lampung dan Medan dengan jumlah peserta di atas 80 masing-masing kota, padahal Jambi, Pekanbaru, Padang dll banyak musikus yang luar biasa potensinya. Jadi, kalau ada yang tertarik menjadi mitra penyelenggara untuk tahun depan, bukan hanya di Jawa dan Sumatra, you’re more than welcome!
KAN : Kenapa banyak musikus mengaku mainnya jadi berbeda (baca : tidak sebaik) saat tampil di depan publik atau kompetisi daripada saat mereka bermain sendiri atau bahkan di tempat les musik?
AS : Nah, kita latihan berjam-jam untuk bermain instrumen, atau bernyanyi. Tapi apa kita juga sudah latihan untuk bermain DI DEPAN PUBLIK? Tempo, phrasing, pedalling, artikulasi semua sudah lancar …. sampai kemudian kita mainkan itu untuk orang lain (apalagi pendengar yang kritis, seperti juri di kompetisi). Tiba-tiba ada tekanan (pressure), nah aspek ini yang jarang kita latih. Kalaupun pernah dilatih main di depan teman-teman / keluarga, hanya sekali, dan mereka itu orang-orang yang sudah kita kenal (baca : ramah dan toleransi tinggi terhadap ketidaksempurnaan kita). Padahal dunia pertunjukan itu memang kejam, penonton membeli tiket dan mengharapkan semua yang terbaik. Nah di depan publik inilah kita mulai memikirkan (bahkan overthinking) segala aspek musikal yang waktu kita latihan sendirian itu kita anggap otomatis. Nah, setelah kejadian dimana musikus kecewa dengan penampilannya, ia berpikir bahwa ia harus lebih banyak berlatih musik tersebut, padahal sebelumnya ia sudah merasa persiapan kita cukup matang . Nah, berarti masalahnya bukan soal persiapan musikalnya, tapi persiapan BERMAIN DEPAN PUBLIK, karena “tampil” itu adalah satu keahlian yang berbeda dengan bermain musik dengan mulus, jernih, rapih dan ekspresif. Yang harus kita latih adalah :
1. Bermain secara ekspresif di depan orang. 2. Apa yang harus kita lakukan kalau tiba-tiba kita lupa, atau salah sehingga musiknya bunyinya “aneh” dan membuat arah musik tersebut melenceng? 3. Bagaimana bermain dengan “demam panggung”?
KAN : Apakah tingkat kesulitan karya yang dimainkan peserta andilnya besar dalam menambah nilai dari juri?
AS : Tidak relevan, yang penting adalah kualitas permainannya. Saya justru sangat apresiasi pemilihan repertoire yang tepat sekali tingkat kesulitan dan karakternya dengan sang pemain. Seseorang yang jelas-jelas kelabakan memainkan karya yang dipilihnya karena terlalu sulit itu justru “bunuh diri” (istilah yang agak kasar sih), dan 100% akan kalah dari seseorang yang bermain dengan nilai artistik dan teknik yang tinggi dengan karya yang lebih memadai dengan kemampuan teknik dan musikalitasnya. Tapi saya tahu, ada beberapa juri yang berpendapat beda, nah good luck deh mendapatkan juri seperti itu ahahahah …
KAN : Aspek apa saja yang terdengar pertama kali, dan dapat mempengaruhi nilai penjurian saat peserta mulai bermain instrumennya?
AS : Yang paling jelas dan langsung, tentu pedalnya. Pedal itu bukan asal kaki diangkat setiap ganti akord, tapi justru dikontrol dengan TELINGA. Ini menunjukkan sensitivitas pemain terhadap bunyi yang dihasilkannya. Aspek kedua yang penting buat saya pribadi adalah kemampuannya bermain polifoni. Sedangkan yang ketiga adalah keindahannya membentuk frase dan kalimat. Bagi banyak pianis, aspek ketiga ini lebih penting, sehingga menjadi nomor dua untuk mereka, tapi aspek soal pedal pasti yang paling pertama terdengar.
KAN : Seperti apakah sebetulnya mentalitas yang sehat untuk mengikuti kompetisi musik?
AS : Saya selalu bilang, kompetisi yang sudah tingkat tinggi, kalau di Indonesia sampai saat ini Ananda Sukarlan Award atau di luar negeri seperti Franz Liszt di Hungaria, Chopin di Polandia, Sydney International Piano Competition, itu adalah “to prove” (membuktikan) dari segi kematangan teknik dan artistik. Tapi seperti NYMO (Nusantara Youth Music Olympics) di Kaltim atau Kompetisi Piano Nusantara Plus itu peserta bukan to PROVE, tapi to IMPROVE (menjadi lebih baik).
Menjadi musikus yang lebih baik itu tidak selalu membahagiakan, kadang justru kadang saya ingin menjadi musikus yang tidak begitu peka bahkan tidak sekritis saya sekarang. Begini : kita improve, tapi kepekaan kita juga improve, bukan hanya pendengaran, tapi di luar musik juga yaitu emosi, kemampuan membaca keadaan, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Yes, musik punya kekuatan untuk improve itu semua. Nah itu berarti kita lebih peka terhadap semua kekurangan juga, ketidaksempurnaan, not-not yang salah, dinamik, tempo dan ritme yang tidak pada tempatnya. Kita menjadi musikus yang lebih baik, tapi lebih kritis terhadap segala yang ada cela, kekurangan dan ketidak-akuratan. Nah ini membuat banyak musikus tidak terlalu menikmati mendengarkan musik, kecuali musik itu benar-benar hampir sempurna (tidak ada yang sempurna ya, kecuali Tuhan). Itu juga mengapa banyak seniman menjadi terlalu obsesif (saya sering termasuk!). Walaupun itu membuat kami lebih empatik dan perduli karena sensitivitas kami meningkat.
KAN : Menurut anda, kenapa ada kota-kota tertentu yang pendidikan musiknya lebih maju dibandingkan kota lainnya?
AS : Kuncinya ada tiga: 1. Sistem pendidikan yang baik. 2. Dukungan orangtua dan keluarga sang pemusik. 3. Ekosistem yang menunjang. Artinya, baik orangtua maupun pihak sekolah sadar bahwa kurikulum ini tidak baik bagi perkembangan kreatif anak, dan bersedia mengorbankan jam sekolah untuk pendidikan yang lebih berguna, seperti musik, seni atau olahraga.
KAN : Dengan kesibukan seperti ini, masih sempatkah anda menulis musik?
AS : Oh justru tambah, karena sebetulnya travelling itu banyak bengongnya. Dari Bandung ke Cirebon, Cirebon ke Yogyakarta naik kereta, saya menulis karya baru yang sebetulnya pengembangan saja dari sketsa-sketsa yang saya bikin selama perjalanan saya di Italia bulan Juni lalu. Juga penerbangan dari Yogya ke Balikpapan itu 2 jam lebih, cukup banget untuk menulis banyak musik. Sejak dari Medan, saya telah menyelesaikan Rapsodia Nusantara no. 45 dari lagu Simalungun, dan ini saya sedang mengerjakan Rapsodia berdasarkan lagu “Warung Pojok” dari Cirebon.
KAN : Format komposisi apa yang anda fokuskan saat ini?
AS : Saya sedang asik bikin untuk piano duet, atau piano 4 tangan. Memang ada kategori untuk format ini di KPN+, tapi saya tidak mengira beberapa sekolah musik mengeksplorasinya secara intensif dan ekstensif. Dua kota yang bisa saya sebut adalah Signature Music Academy di Bekasi (ini pelopor utama di Indonesia nih!), dan di Medan AVIA Music Centre, Symphony Musical Art Centre dan Young Maestro Academy layak mendapat pujian khusus, karena semua peserta piano 4 tangan adalah murid tiga sekolah musik tersebut. Ini menjadikan mereka pelopor dalam genre piano 4-tangan di Medan.
Indonesia bisa menjadi pelopor kebangkitan piano 4 tangan, setelah awal abad ke-20 sangat populer di Perancis oleh karya Claude Debussy, Maurice Ravel, Gabriel Faure dan Francis Poulenc.
Saya sendiri sedang proses menuliskan beberapa nomor yang tergabung di siklus “Bachrock Beatles”, yang salah satunya (“Come Together to the Norwegian Woods”) saya mainkan kemarin di konser pemenang KPN+ Medan bersama rekan juri saya yang saya sangat respek opini artistik dan teknik pianistiknya, Sebastian Suhardi. Sebetulnya ini adalah sebuah seri Etudes untuk piano 4 tangan, dan melodi-melodi Beatles hanya “tempelan” saja untuk mengingatkan kita betapa jeniusnya grup musik ini mengolah melodi, ritme, tekstur dan harmoni, dan betapa musik pop dunia mengalami degradasi yang tajam dengan simplifikasi artistiknya kalau dibandingkan dengan musik Beatles, Beach Boys apalagi Michael Jackson.
KAN : Terakhir, kami berharap semoga banyak bisa menembus babak final, bahkan mendapatkan Golden Ticket ke babak final Ananda Sukarlan Award (ASA) tahun depan, yang hadiahnya adalah berbagai beasiswa ke Perancis dan Australia. Juga berharap berbagai provinsi lain di Indonesia dapat menjadi mitra penyelenggara KPN+, sehingga musik klasik tidak terlalu tersentralisasi di Jawa dan Sumatra. Nah, ada update dari ASA 2027 kah?
AS : Tahun 2027 depan, seluruh dunia akan memperingati 200 tahun wafatnya komponis Jerman, Ludwig von Beethoven (1770-1827). Untuk merayakannya sepanjang tahun Ananda Sukarlan Award akan mewajibkan para pesertanya untuk memilih satu atau lebih karya Ludwig van Beethoven. Untuk karya saya, saya menganjurkan (tidak mewajibkan) untuk memainkan karya yang ada hubungannya dengan Beethoven, misalnya “No More Moonlight Over Jakarta” atau “Rapsodia Nusantara no. 44” untuk kategori Professional, “Because It’s Moonlight Sonata”, “Prelude & Fugue on Angso Duo” atau “Amelia Thinks Classical Music is Boring” untuk kategori Young Artist.
Batas waktu terakhir pengunggahan video di Youtube adalah 26 Maret 2027 pukul 23.59 WIB, tanggal wafatnya sang komponis besar Jerman 200 tahun yang lalu. Finalnya akan diadakan live di Jakarta, akhir Juli 2027.
