oleh Ananda Sukarlan
Wah, nggak nyangka sih penyair kondang Madiun, Fileski Walidha Tanjung langsung menulis esai gara-gara saya WhatsApp tentang niat (yang sebetulnya sudah separo tertulis) membuat tembang puitik dari puisinya, “Yang Menyala Dalam Senyap”. Baca deh
Saya langsung beri dia “disclaimer”: “Bro, ini aku tulis bunyi di kepalaku dulu ya. Soal kapan dikonserin, belum tau, pokoknya ditulis dulu biar gak lupa”
Banyak pesan pun masuk setelah membaca (atau sekedar melihat foto dan judul) artikel Fileski itu. Oh ternyata musik Ananda langsung ditulis? Bikinnya di atas meja, dengan kertas dan laptop, bahkan di kebun tanpa piano atau keyboard?
Nah, saya jadi ingin nulis tentang ini. Ya memang, ini perbedaan paling krusial dari “tembang puitik” dan “musikalisasi puisi”, yang sudah heboh dipolemikkan sejak Pertemuan Penyair Nusantara XIII bulan September lalu itu. Karena tembang puitik “menterjemahkan” apa yang ingin digambarkan oleh puisi itu, ya saya tulis. Kalau musikalisasi, itu semua eksprerimen, dari teks ke melodi. “Iringan” itu datang belakangan, dan fungsinya murni sebagai iringan. Makanya dalam tembang puitik, sang pianis selalu saya sebut sebagai “pendamping” bukan pengiring”. Soal “enak didengar”, kadang2 memang “tidak enak”, karena memang puisinya menggambarkan sesuatu yang “tidak enak”. Ah, coba deh google saja tentang hal ini pasca-PPN XIII. Rame kok, Fileski pun ikutan menulis, menyambar tulisan Muhammad Subhan, Doddi Ahmad Fauji, Tan Lioe Ie dan puluhan komen lainnya di Facebook.
Anyway busway, tradisi tembang puitik atau art song di Indonesia kelihatannya sudah putus sejak wafatnya Mochtar Embut dan Trisutji Kamal yang sering membuat musik dari puisi WS Rendra, Chairil Anwar, Usmar Ismail (saat itu sedikit sekali penyair yang diangkat oleh dua komponis ini). Nah, karena saya tinggal di Spanyol, dan tradisi itu di Eropa berjalan secara alamiah, ya saya bikin terus. Tadinya dari puisi Federico Garcia Lorca, Miguel Cervantes, Emily Dickinson, Walt Whitman dan sebagainya, kemudian menyambung (dan ketagihan) ke para penyair Indonesia.
Apa yang dibutuhkan untuk menjembatani dunia puisi dan musik ini? Kita itu sangat kekurangan vokalis klasik yang mumpuni. Itu lho, soprano, mezzo soprano, alto, tenor, bariton, bass. Mungkin anda kaget, … “Ah, masa?”
Di situlah saya menemukan sebuah jurang, padahal mereka adalah jembatan utama agar tembang puitik bisa hidup. Dari lebih dari 600 tembang puitik yang saya sudah tulis, separuh adalah dari penyair Indonesia. Yang dari penyair non-Indonesia semua sudah dipentaskan, tapi yang dari penyair Indonesia, mungkin baru 2/3 atau 3/4 yang telah dinyanyikan.
Betul, Indonesia itu kebanyakan penyanyi. Penyanyi dianggap bukan profesi. Semua yang doyan karaokean menyebut dirinya sebagai penyanyi. Bahkan para pejabat, komisaris yang jabatannya sudah rangkap-rangkap itu pun juga merangkap sebagai penyanyi (dan / atau penari). Bahkan mereka, dengan uang negara, kadang ke luar negeri, “berdiplomasi budaya” dan menyanyi …. entah siapa yang menonton mereka di negeri orang itu. Tapi kita sangat kekurangan penyanyi dengan teknik yang mumpuni, selain itu juga intelektualitas dalam memahami bahasa puitis. Makanya kita dengar sedikit sekali nama-nama vokalis klasik, misalnya Pepita Salim, Isyana Sarasvati, Mariska Setiawan, tenor Nick Lucas (ini kalau dia nyanyi yang non-classical, kalau klasik dia pakai nama aslinya Nikodemus Lukas) dan segelintir lainnya. Di generasi sebelumnya ada Aning Katamsi, Binu Sukaman dan sedikit lebih muda Evelyn Merrelita dan Bernadeta Astari (soprano), Harland Hutabarat (bass), Joseph Kristanto Pantioso (bariton), Christopher Abimanyu (tenor). Nah generasi muda? Baru saja sih ada dua yang memenangkan Ananda Sukarlan Award 2025, Ratnaganadi Paramita dan bariton Wirawan Cuanda, kita antusias deh mengikuti perkembangan karirnya. Anyway, ekosistem ini masih sangat kekurangan vokalis!
Itu sebabnya saya mendirikan Kompetisi Piano Nusantara Plus. “Plus” saya tambahkan tahun lalu, menandakan bahwa kompetisi ini bukan hanya untuk piano, tapi juga untuk semua instrumen termasuk vokal klasik. Sebetulnya sudah ada Ananda Sukarlan Award (ASA) untuk semua instrumen dan vokal juga, tapi ASA adalah untuk mereka yang sudah “tingkat tinggi”, sedangkan kita butuh kaderisasi, mencari bibit-bibit baru. Tapi vokalis harus cerdas mengkonstruksi karirnya, berdasarkan identitas yang hanya bisa dimapankan oleh mereka sendiri.
Memang gara-gara Kompetisi Piano Nusantara Plus, saya ini sedang banyak keluar kota, kelihatannya sibuk padahal banyak bengongnya. 11 kota loh! Saya juga malas bawa buku, berat-beratin koper yang udah penuh dengan partitur, padahal saya doyan membaca. Jadi semua sekarang saya baca lewat internet. Saya nggak nonton TV (apalagi di hotel yang nggak ada HBO dll, hanya ada TV lokal yang isinya sinetron sama berita politik RI yang selalu absurd).
Dua minggu lalu saya ke Padang Panjang, di hotel saya menemukan puisinya Nissa Rengganis, “Suara dari Pengungsian”, keren banget padahal udah bertahun-tahun lalu ditulis, tapi saya baru temukan sekarang. Jadilah saya tulis di hotel dan lanjut di pesawat pulang ke Jakarta. Nah weekend lalu di Bekasi saya nemu puisi Fileski Walidha Tanjung ini. Mulailah corat coret di kamar hotel yang hening itu, cocok banget dengan puisinya, “Yang Menyala dalam Senyap”. Senin lalu saya habis pulang dari Bekasi dan di apartemen saya saya lanjutkan. Kalau ke kantor saya (Ananda Sukarlan Center di daerah Jl. Fatmawati), saya akan coba di piano (saya tidak ada piano di apartemen) dan kalau semua OK (kadang ada revisi satu – dua not), saya mau kirim ke Fileski.
Bulan September lalu ada juga puisi lain baru kelar, dari Yon Bayu Wahyono, “Amnesia” tentang ketimpangan sosial Indonesia saat ini. Itu karena saya lelah banget dengan berita politik, dan eneg banget sama mereka yang ngomong “jangan lelah mencintai Indonesia” — iya buk, saya cinta Indonesia, cuma oknum-oknumnya saya ga cinta! — jadi puisi itu ngeklik banget ama saya. Nah, puisi Fileski ngeklik banget di suasana hotel yang sudah malam, senyap setelah seharian mendengarkan peserta-peserta kompetisi yang menunjukkan virtuositas yang keren banget (tapi hingar bingar hahahaha), jadi saya lagi pingin sesuatu yang simple dan hening. Terciptalah tembang puitik baru!
Oh iya, kalau anda vokalis klasik, daftar yuk untuk ikut KPN+ ! Yang menang di Surabaya dan Jogja, akan terus konser dengan saya di piano di Jogja tanggal 30 November, juga dengan pianis Ukraine Dr. Taras Filenko. Syaratnya hanya menyanyikan tembang puitik Indonesia dan satu pilihan, bisa saja Indonesia juga atau yang sudah klasik seperti Franz Schubert, Robert Schumann dll.
Banyak fasilitas yang kami berikan untuk mendukung karir kalian, yang diharapkan juga berkontribusi banyak untuk dunia musik dan sastra Indonesia. Cek deh Instagram @pianonusantaraplus . Masih terbuka pendaftaran untuk kompetisi di bulan November di Sumatra Selatan, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jawa Timur dan terakhir Jakarta 7 Desember 2025.

