Tanggapan Ikhsan Risfandi terhadap Interview Saya di Sinar Pagi News
oleh Ananda Sukarlan
Minggu lalu saya bertemu dengan sastrawan dan wartawan Pulo Lasman Simanjuntak pada peluncuran dua buku sastrawati Shantined berupa kumpulan cerpen berjudul “Saga, Serigala dan Sebilah Mandau” dan kumpulan puisi berjudul “Kita Yang Tersisa Dari Luka Cuaca”. Acara ini bertempat di Aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Lantai 4 Gedung Panjang di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM), Kamis 27 Februari 2025. Setelah itu tentu kita ngopi bareng juga dengan beberapa sastrawan dan pecinta sastra yang hadir seperti Kurnia Effendi, Imam Ma’arif (penyair & pegiat sastra yang juga anggota Dewan Kesenian Jakarta), Riri Satria dan Sihar Ramses Simatupang. Topik utama adalah soal alihwahana dari puisi (atau karya sastra lainnya) ke musik. Sampai saat ini saya sudah membuat dua tembang puitik dari puisi bang Lasman, yaitu Meditasi Batu (yang akan diperdanakan di Glasgow, 20 Maret nanti oleh soprano Malaysia, Zoe Hong Yee Huay dan pianis Amanda Lee Yun Yee, untuk konser meraih gelar Master of Music) dan Menulis Syair Untuk Presiden – episode 2. Bang Lasman akhirnya memutuskan untuk menerbitkan obrolan kita di Sinar Pagi News, ini tautannya, jadi anda semua bisa baca.
Tembang Puitik = Musikalisasi Puisi? Ini Kata Ananda Sukarlan
Nah, membaca ini, penulis Ikhsan Risfandi merangkumnya dan menjelaskannya dengan cara yang lebih jelas. Ternyata, yang kata Albert Einstein “Bila anda tidak bisa menjelaskan suatu hal kepada anak berusia 5 tahun, berarti anda tidak memahaminya dengan baik” itu justru lebih dipahami oleh Ikhsan! Dia menuliskannya sebagai status Facebook. Saya minta izin dia untuk menyalinnya dan menayangkannya di blog KITA tercinta ini, karena menurutku cara menjelaskannya bagus sekali. So, silakan simak dan tercerahkan :
Tembang Puitik vs. Musikalisasi Puisi: Menyatukan Musik dan Kata dalam Dua Cara Berbeda
(status Facebook Ikhsan Risfandi tanggal 2 Maret 2025)
Musik dan puisi selalu memiliki hubungan yang erat. Keduanya berbicara dalam bahasa rasa, menyampaikan emosi dengan cara yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Namun, ketika puisi dan musik bertemu dalam sebuah komposisi lagu, hasilnya bisa mengambil dua bentuk utama: tembang puitik (art song) dan musikalisasi puisi (musik-puisi). Sekilas keduanya terdengar serupa, tetapi jika diperhatikan lebih dalam, terdapat perbedaan mendasar dalam pendekatan, tujuan, dan cara penyajiannya.
Tembang puitik atau art song adalah bentuk musik yang benar-benar menggubah puisi menjadi karya komposisi yang matang. Dalam tembang puitik, musik dan puisi menyatu secara organik, membentuk kesatuan yang tidak hanya mempertahankan makna teksnya tetapi juga memperkuat emosi dan interpretasi melalui melodi, harmoni, dan aransemen instrumental yang kaya. Musik dalam tembang puitik bukan hanya sekadar pengiring vokal, tetapi bagian dari narasi yang ikut berbicara. Contohnya adalah Lied Jerman, seperti karya Schubert, Schumann, atau Brahms, yang menggubah puisi Goethe atau Heine menjadi lagu yang memiliki dinamika emosional tinggi. Dalam komposisi seperti “Erlkönig” karya Schubert, piano tidak hanya mengiringi vokal, tetapi juga menggambarkan derap kuda yang berpacu kencang, menciptakan ketegangan dalam cerita. Hal yang sama juga terjadi dalam mélodie Prancis, di mana komponis seperti Claude Debussy dan Gabriel Fauré membangun atmosfer khas yang menggambarkan lanskap emosional puisi melalui melodi yang subtil dan ekspresif.
Indonesia juga memiliki tembang puitiknya sendiri, dan salah satu komponis yang mengembangkan genre ini adalah Ananda Sukarlan. Karyanya banyak menggubah puisi penyair besar seperti Joko Pinurbo dan Sapardi Djoko Damono menjadi komposisi klasik yang tidak hanya menyampaikan makna lirik, tetapi juga memperkaya pengalaman mendengarkan dengan harmoni dan permainan piano yang ekspresif. Dalam karyanya, puisi seolah mendapatkan dimensi baru yang lebih dalam dan lebih hidup, menciptakan suasana yang tidak hanya bisa dirasakan melalui kata-kata, tetapi juga melalui musik.
Berbeda dengan tembang puitik, musikalisasi puisi atau musik-puisi memiliki pendekatan yang lebih sederhana dan berfokus pada mempertahankan puisi dalam bentuk aslinya. Musik dalam musikalisasi puisi lebih bersifat pendukung, bukan bagian dari interpretasi teks yang kompleks seperti dalam tembang puitik. Biasanya, melodi yang digunakan lebih repetitif dan berbasis folk atau pop, sehingga lebih mudah dinyanyikan dan diingat. Dalam musikalisasi puisi, lirik tetap mempertahankan bentuk puisi aslinya tanpa banyak perubahan, dan musik hanya berfungsi sebagai cara agar puisi lebih mudah diakses oleh pendengar dalam bentuk lagu. Salah satu contoh yang paling dikenal adalah karya Ari Malibu & Reda Gaudiamo, yang membawakan puisi Sapardi Djoko Damono dengan aransemen musik folk yang lembut dan sederhana, memungkinkan pendengar untuk lebih fokus pada keindahan teksnya.
Jika dibandingkan, tembang puitik lebih menonjolkan aspek musikalitas dan komposisi, sementara musikalisasi puisi lebih menonjolkan esensi puisi itu sendiri. Tembang puitik bisa mengalami transformasi yang cukup besar, di mana teks puisi diadaptasi agar sesuai dengan struktur musik yang kompleks, sementara dalam musikalisasi puisi, teks puisi biasanya tetap apa adanya, hanya diberi melodi agar lebih mudah dinyanyikan. Musik dalam tembang puitik adalah bagian dari cerita yang disampaikan, sedangkan dalam musikalisasi puisi, musik hanya menjadi alat bantu untuk menyampaikan puisi dalam bentuk yang lebih ringan dan akrab bagi pendengar.
Keduanya adalah bentuk seni yang mempertemukan musik dan puisi dengan cara yang berbeda. Tembang puitik menawarkan pengalaman yang lebih mendalam, lebih reflektif, dan lebih kaya secara musikal, sedangkan musikalisasi puisi memberikan cara yang lebih santai dan mudah diakses untuk menikmati puisi dalam bentuk lagu. Bagi mereka yang menyukai kompleksitas dan eksplorasi emosi dalam musik klasik, tembang puitik adalah pilihan yang menarik. Sementara itu, bagi yang ingin menikmati puisi dengan cara yang lebih sederhana tetapi tetap bermakna, musikalisasi puisi bisa menjadi cara yang lebih akrab untuk menghidupkan kata-kata dalam lantunan melodi. Baik dalam bentuk yang klasik maupun yang lebih ringan, keduanya tetap memiliki satu tujuan yang sama: membawa puisi lebih dekat ke dalam hati pendengar melalui keajaiban musik.
Nah, kemudian penulis / penyair Tan Lioe Ie yang tinggal di Denpasar memberi komentar atas status Facebook tersebut, begini :
Kalau menurut saya, musik-puisi boleh ditulis puisi-musik (dua kata menjadi satu cermin “bersenyawa”), adalah sinergi puisi dan musik, di mana baik puisi pun musik bukan sub-ordinat antara yang satu dengan lainnya.
Yang dilakukan Ari-Reda yang dijadikan kriteria Badan Bahasa kini, menurut saya boleh (selesai dulu seluruh puisi dinyanyikan, baru diulang jika ingin diulang, seluruhnya juga) namun mestinya diijinkan juga mengulang sebagian — kanon misalnya, ini indah untuk puisi tertentu. Intinya, jangan pakai harus, ini gaya militer, bukan kesenian yang terbuka untuk eksplorasi (dulu Badan Bahasa mengharuskan akustik saya kritik. Kali ini pun saya kritik. Yang dulu didengarkan).
Mengapa sinergi? Formula sinergi adalah 1 + 1 = atau > 2. Jadi minimal sama bagusnya, idealnya menjadi lebih bagus jika disinergikan. Jika menjadi lebih buruk, untuk apa kedua ragam kesenian ini dipadukan?

