
Ananda Sukarlan juga baru balik dari Lampung, Samarinda dan Balikpapan, di dua kota terakhir itu ia bekerjasama dengan Nusantara Youth Music Olympics (NYMO). NYMO jugalah yang akan menjadi mitra penyelenggara KPN+ di Kalimantan Timur, dan setelah dirapatkan, juga dengan Chendra Panatan, manager Ananda yang datang ke Kaltim pertengahan bulan April ini, KPN+ akan dilaksanakan di Balikpapan tanggal 15 November. Ini tentu terbuka untuk para peserta dari Samarinda (kurang dari 2 jam naik mobil ke Balikpapan) dan kota-kota lain, bahkan di provinsi selain Kalimantan Timur.
Berikut kompilasi FAQ (Frequently Asked Questions, atau Beberapa Pertanyaan yang paling sering dilontarkan) menyangkut KPN+, dijawab oleh Ananda Sukarlan. Jika masih ada pertanyaan lain, silakan hubungi ke akun Instagram @anandasukarlan , dan jika terkumpul banyak, kami akan terbitkan artikel sambungan untuk FAQ KPN+ 2026.
Q : Untuk instrumen lain, lagu pilihan Junior dan Senior apa akan diberikan batasan grade juga?
AS : Hanya dari segi durasi, tingkat kesulitannya terserah. Tapi saya ada sedikit “warning” nih. Saya ingin memuji satu inovasi di NYMO yaitu : content & achievement. Ini adalah kriteria penilaian tentang pemilihan karya, dimana sering dipercaya bahwa “jika anak / murid saya memilih karya yang sulit, ia pasti unggul dibandingkan peserta yang memilih karya yang lebih mudah secara teknis”. Padahal itu salah besar! Nah di NYMO ada kriteria ini, untuk menilai apakah pilihannya tepat secara kesulitan teknis.
Q : Untuk kategori instrumen lain, apakah terdiri dari 5 instrumen yang ada di poster saja? Atau diperbolehkan instrumen yang lainnya? Terus lagu wajibnya bagaimana?
AS : Bisa untuk semua instrumen, bahkan yang langka di Indonesia pun boleh, seperti misalnya euphonium, english horn dll. Lagu wajib bisa ambil satu nomor dari “Friendship Set to Music”, karena itu memang saya tulis untuk 1 instrumen melodik dan piano, dan bisa di-transpose sesuai kebutuhan instrumen. Kalau butuh transpose yang agak lebih rumit, bukan hanya 1 oktaf ke bawah untuk fagot atau cello misalnya tapi untuk viola atau clarinet, bisa hubungi saya lewat Instagram @anandasukarlan nanti akan dikirim dalam format pdf . Tapi kalau mau karya yang lain, bisa request ke saya, karena saya sih sudah menulis untuk semua instrumen (bahkan inginnya untuk ondes martenot, gitu, tapi belum ada ondes martenot di Indonesia kan? Saya ingat zaman saya main Turangalila Symphonie selalu bersama Valerie Hartmann-Claverie, kita tour ke beberapa kota di Spanyol, dan sampai sekarang saya masih impressed dengan instrumen itu).
Q : Untuk kategori vocal ensemble, sertifikat untuk group atau setiap orang / member mendapatkan sertifikat?
AS : Sertifikat diberikan kepada tiap anggota, tapi piala atau medali satu saja untuk seluruh group.
Q : Untuk kategori non profesional selain piano, apakah sama dengan instrumen lain yang membebaskan boleh atau tidak menggunakan instrumen pendamping? Untuk instrumen pendamping, apakah boleh lebih dari 2 instrumen?
AS : Pengertian saya musik pendamping ya 1 instrument aja. Boleh saja kalau mau lebih, toh biaya ditanggung peserta. Sedangkan instrumen, kami hanya menyediakan piano. Dan untuk pertanyaan pertama, boleh saja solo tanpa pendamping, misalnya main suite untuk cello dari Benjamin Britten atau Johann Sebastian Bach, atau Caprices dari Paganini untuk biola solo, atau karya saya untuk biola solo “Relationships”
Q : Apakah ada kegiatan-kegiatan menjelang KPN+ dimana Ananda akan memberi ceramah, masterclasses, diskusi dll mempersiapkan para (calon) peserta untuk tampil secara prima?
AS: Sudah sejak bulan April ini saya ke Lampung dan Samarinda & Balikpapan, baik masterclasses maupun temu muka/tanya jawab. Yang temu muka itu bukan hanya untuk peserta, tapi siapa saja termasuk orang yang “awam” musik. Setelah balik dari Spanyol, bulan Juni nanti saya lanjut ke Jawa Tengah dan Jogja. Bukan hanya mempersiapkan untuk KPN+ 2026, tapi juga membuka mata bahwa musik itu bukan sesuatu yang hanya dipelajari sambil lalu. A work of art is never finished, only abandoned. Dalam proses penulisan karya seni, bahkan sang komponis atau seniman pun tidak pernah meraih konsep artistik yang ada di kepalanya secara paripurna di atas kertas atau kanvas. Coba dengarkan deh penjelasan saya
Q : Ada durasi maximum untuk penampilan, tapi adakah durasi minimum? Terutama untuk tingkat-tingkat menengah dan lanjutan yang cukup panjang durasinya.
AS : Tidak perlu memilih karya yang panjang, ingat batasan waktu adalah MAXIMUM. Tidak perlu harus memenuhi durasi maximum tersebut. Lagi-lagi, yang dinilai adalah kualitas permainan, bukan sulitnya karya yang dipilih atau durasi.
Q: Di KPN+ tahun-tahun kemarin, ada beberapa peserta yang permainannya dipotong oleh juri. Apa sebabnya, dan apakah ini mempengaruhi nilai?
AS : Kalau durasinya kepanjangan, juri akan memotong permainannya. Ini sama sekali tidak mempengaruhi penilaian. Tapi ada juga yang karena peserta tiba-tiba lupa (blank) dan bingung untuk melanjutkan permainannya. Nah ini kalau memang sudah benar-benar macet, kan lebih baik disudahi karena memang pasti tidak akan bisa lanjut ke babak berikutnya. Btw, di babak final biasanya tidak pernah lagi ada kejadian seperti ini, karena semua yang masuk final pasti sudah tahu cara mengantisipasi “blank” seperti ini. Ada caranya, dan tidak perlu gugup! Kalaupun terjadi, jadikanlah pengalaman ini sebagai pelajaran, jangan sampai terulang lagi. Ada banyak cara mengatasi ini, dan ini adalah bagian dari “resiko pekerjaan” sebagai seorang performer. Seorang performer bukan seseorang yang selalu berhasil, tapi yang bisa bangun dari kegagalan, karena motto kita cuma satu : The Show Must Go On.
The post FAQ Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 first appeared on Kita Anak Negeri.]]>KPN+ kan akan diadakan di Jakarta juga loh! Jadi, tanggal 7 Desember nanti adalah giliran Jakarta mengadakan kompetisi ini, yang merupakan babak semi final terakhir dari seluruh rangkaian Kompetisi Piano Nusantara Plus. Esok harinya, tanggal 8 Desember adalah Babak Final dari para juara seluruh region KPN+ sejak Agustus lalu.
Nah, bagi yang belum berhasil meraih juara di Medan, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang dan Palembang, masih bisa ikut tanggal 7 nanti di Jakarta. Semi final ini memang diadakan di Institut Francais d’Indonesie, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, tapi terbuka untuk peserta dari seluruh Nusantara. Dan memang, banyak peserta dari luar kota, bahkan luar Jawa ikut di babak semi final di Jakarta ini. Tapi ingat, kalian harus siapkan juga repertoire untuk babak Final ya, karena kan langsung keesokan harinya!
Jadi jadwal untuk tanggal 7 Desember itu adalah sebagai berikut :
pk. 9-11.30 Kategori Piano Pemula & Menengah
pk. 11.30 – 13.00 Kategori Tembang Puitik
istirahat
setelah itu, dilanjutkan kategori Piano Lanjutan, Musik Kamar, dan instrumen lainnya, termasuk Kategori Non Profesional.
Untuk info lengkapnya, silakan inbox Instagram @pianonusantaraplus saja yah! Cek juga kapan pendaftaran ditutup, nggak lama lagi loh!
Nah, semua ingin jadi juara kan? Apa sih kata Ananda Sukarlan, pendiri dan juri di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, syaratnya menjadi juara?
“Ada banyak elemen yang menjadikan seorang musikus menjadi juara. Elemen itu adalah tentu teknik permainan dan musikalitas dalam berekspresi, tapi yang tidak kalah penting adalah identitas artistik. Semua orang bisa belajar baca not balok dan main instrumen musik, tapi apa bedanya yang seniman dengan yang bukan? Seorang seniman itu punya karakter yang unik dan bisa berkomunikasi lewat karyanya dengan publik”, lanjut sang pianis lulusan Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda dengan predikat summa cumlaude yang kini juga mulai sibuk mempersiapkan kompetisi Ananda Sukarlan Award tahun depan, yang katanya akan banyak gebrakan baru.
“Saya lihat semakin lama para musikus muda semakin fokus. Di bidang vokal, semoga karya-karya saya bisa menarik para vokalis untuk mendalami dunia sastra, karena lagu-lagu saya selalu berdasarkan puisi-puisi yang sangat indah dan inspiratif. Eh tau nggak, tahun ini kita merayakan 100 tahun penyair besar Indonesia, Sitor Situmorang, loh! Bisa tuh dinyanyikan di babak final. Cek saja deh berita ini (tapi adanya bahasa Inggris :
https://www.indonesiakininews.com/2024/10/100-years-sitor-situmorang.html
Nah, tunggu apa lagi? Jangan lupa, nanti ada beberapa pemenang babak Final dari KPN+ ini yang akan dipilih kak Ananda untuk LANGSUNG masuk babak Final di Ananda Sukarlan Award 2025 loh! Jadi tidak perlu lagi susah payah melalui babak semi finalnya yang jauh lebih berat daripada KPN+, atau kompetisi lainnya, karena ASA kan memang terkenal syereeeem! Lihat saja, para pemenangnya kini adalah para musikus sukses, seperti penyanyi Isyana Sarasvati, Mariska Setiawan, pianis Calvin Abdiel Tambunan, Dr. Edith Widayani, Anthony Hartono, Randy Ryan …..dan KAMU di 2025 !


Jadi kelihatan bahwa mereka sangat berbakat, tekniknya juga lumayan, tapi jadi lupa, macet dalam banyak hal karena demam panggung lah, rasa kikuk di panggung karena merasa ditonton dan ‘dihakimi’ lah, dll.Benar loh, itu akan ‘menempa’ kalian dan hasilnya akan jauh lebih baik. Try out itu untuk melatih bagaimana bermain di bawah stress management, bagaimana kalau tiba-tiba blank, dll.” kata kak Ananda yang masa mudanya sering memborong berbagai kejuaraan dunia di kompetisi seperti Prix Nadia Boulanger dari Orleans (Perancis) dan Xavier Montsalvatge Prize di Spanyol.
Kita jadi ingat siswa KITA Anak Negeri, Yonggi Fayden Cordias Purba, yang semakin lama semakin bersinar di berbagai kompetisi di berbagai negara. Repertoire-nya, Rapsodia Nusantara no. 6 dan no. 31 (yang juga adalah berdasarkan lagu Tapanuli “Sigulempong”, asal muasal keluarganya) telah banyak “ditempa” dan dimainkan berkali-kali. Terbukti prestasinya yang menanjak : Dari Juara ke-3 di Hongkong, lanjut juara ke-2 di IPPA Conero Piano Competition di Kansas (Amerika Serikat) dan baru saja juara pertama di Asia Aegean International Music Competition di Taipei, Taiwan. Dua nomor Rapsodia Nusantara itu bukan hanya terus dilatih, tapi juga sudah “matang” dimainkan di depan publik sehingga Yonggi merasa aman memainkannya di depan juri yang “kejam”.
Ada beberapa karya Ananda Sukarlan yang relatif jarang dimainkan di kompetisi lain tapi ditampilkan di kompetisi Piano Nusantara Plus di Bogor, sehingga secara keseluruhan para penonton yang memenuhi Harmoni Musik Yamaha sangat menikmati dan tidak bosan mendengarkan karya-karya yang “itu lagi, itu lagi” yang biasa dimainkan di kompetisi. Terbukti dari para juara, pemilihan repertoire itu sangat penting, atau kalau kata Ananda: “it’s not only HOW you play, but WHAT you play determines a good musician”. Repertoire itu akan sangat berguna jika para juara ini nantinya akan berkompetisi di luar negeri, untuk menunjukkan identitas atau jati diri, serta perbedaan yang berkualitas dibanding pianis-pianis lainnya. Bahkan Ananda Sukarlan menerbitkan karyanya yang ia tulis tahun 2018 tentang Basuki Tjahaja Purnama (mantan gubernur Jakarta) yang belum pernah dipagelarkan di Indonesia loh, tapi sudah mengelilingi dunia. Ini kesempatan emas buat para peserta kompetisi! Baca deh
Misalnya, berikut permainan salah satu pemenang di Bogor yang akan mengikuti babak Final di Jakarta Desember nanti, Fatihah Firdaus, memainkan “Fuga Pentatonica” dengan rapih dan energetik dan sebuah Sonata dari Wolfgang Amadeus Mozart :
Nah, inilah para pemenang di Bogor 25 Agustus 2024 kemarin. Selamat bertemu dengan kalian di Jakarta babak final nanti tanggal 8 Desember ya!
Usia dini B
Juara 2 : Romorio Astha Soedibjo
Juara 3 : Callysta Leonora Paradista
Usia dini C
Juara 1 : Kealoha Anjelo Pena
Juara 2 : Khrisna Cakravartti Dhanardono
Juara 3 : Virgie Dewi Krisnanto dan Maximilian Jedi Nirwasita
Pemula C
Juara 1 : Michelle Clarisa Runtulalo
Juara 2 : Kamania Azkadina Indraputri
Menengah C
Juara 2 : Septiara Wilda Lumban Tobing
Lanjutan B
Juara 1 : Septiara Wilda Lumban Tobing
Lanjutan C
Juara 1 : Fatihah Firdaus
The post Bogor, Bungkus! Apa kata Ananda Sukarlan? first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Hallo Sobat KlasiKITA! Minal Aidin Wal Faizin ya semua, mohon maaf lahir dan bathin. Semoga liburan ini kalian sudah menikmatinya dengan produktif, baik berupa liburan untuk penyegaran maupun yang tinggal di rumah, bisa punya banyak waktu untuk latihan instrumen atau vokal.
KITA ada updates nih dari panitya Kompetisi Piano Nusantara Plus yang semuanya berupa kabar baik! Langsung aja yah …..
1. Pertama, soal penyesuaian batas umur untuk kategori Tembang Puitik. Atas persetujuan Kak Ananda Sukarlan, kini batas usia para vokalis dinaikkan menjadi 35 tahun. Yeeeyyy!
2. Hadiah spesial dari kak Ananda Sukarlan pribadi untuk beberapa pemenang. Karena ini sifatnya pribadi, jadi ini juga keputusan prerogatif dari Kak Ananda sendiri sebagai ketua juri dan komponis dari karyanya, yang dapat menilai siapa yang layak mendapatkannya. Hadiahnya berupa DEDICATION dari karya yang dimainkan pemenang tersebut, kalau karya itu memang karya baru. Selain itu, peserta yang memainkan karya baru bisa diundang untuk konser sebagai pertunjukan perdana karya baru tersebut (World Premiere). Apa sih gunanya mendapat dedication yang ditulis di partitur, dan / atau tercatat sebagai musikus yang memperdanakan sebuah karya? Banyak, dan panjang banget. Daripada salah, ini dengerin aja deh kak Ananda sendiri menjelaskannya.
3. Nah, karya-karya baru itu apa saja? Ini ada beberapa karya tambahan untuk dipilih sebagai lagu wajib di Kompetisi Piano Nusantara Plus. Ada tiga, yang merupakan kabar baik untuk para pemain klarinet, biola (violin) dan tentu saja piano:
A. Fantasy on Ismail Marzuki’s “Aryati” untuk klarinet dan piano. Ini panjangnya hanya dibawah 5 menit, dan sebetulnya part klarinetnya tidak sulit-sulit amat (menurut kak Ananda loh!). Part pianonya yang malah cukup menantang (seperti karya-karya musik kamar atau chamber music kak Ananda lainnya), bukan sekedar “iringan”. Ini juga berlaku untuk karya-karya wajib lainnya sih, karena seperti yang sudah diumumkan, di kompetisi piano PLUS ini dinilai bukan hanya vokalisnya (di kategori Tembang Puitik) atau pemain instrumennya, tapi sebagai grup musik utuh, baik duo, trio sampai kuintet, dan dinilai semua pemainnya. Beda dengan kompetisi Tembang Puitik Ananda Sukarlan, dimana pianisnya kalau salah main ya ga papa asal tidak mempengaruhi performa sang vokalis, karena pianisnya tidak masuk penilaian. Ingat loh, jadi di Kompetisi Piano Nusantara Plus, sang pianis di grup musik kamar bukan “asal mengiringi”!
“Aryati” Fantasy ini sebetulnya adalah sebuah sketsa untuk karya yang lebih besar dengan formasi lebih banyak instrumen, tapi ternyata bukan sekedar sketsa, melainkan memang bisa berdiri sendiri, sah sebagai karya untuk klarinet dan piano dengan tingkat kesulitan intermediate, untuk pianis dan klarinetis sekitar grade 5-6.
B. Findolandesia, untuk biola dan piano yang panjangnya sekitar 6 menit. Wah judulnya susah amat ya? Hehehe …. itu sebetulnya gabungan dari “Finlandia dan Indonesia”. Ini adalah karya baru kak Ananda yang dipesan oleh pemerintah Finlandia untuk memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Finlandia dan Indonesia tahun ini. Kak Ananda akan memainkannya dengan pemain biola Finlandia di Helsinki, tapi ternyata Kedutaan Besar Finlandia di Indonesia juga tertarik untuk mempagelarkannya di Jakarta, jadi kak Ananda telah meminta pemain biola muda, sangat berbakat dan cantik Aurell Marcella untuk bermain bersamanya memperdanakan karya ini. Jadinya benar-benar “World Premiere” deh karena rencananya Aurell dan kak Ananda akan memainkannya dulu di Jakarta, baru kemudian kak Ananda ke Finlandia untuk memainkannya di acara oficial perayaan hubungan diplomatik tersebut di Helsinki.
Aurell Marcella Felicia adalah siswa tahun terakhir di Australian Institute of Music di Sydney. Aurell ikut audisi G20 Orchestra tahun 2022 dan tentu diterima menjadi bagian dari orkes tingkat dunia yang menjadi legacy (warisan) dari Indonesia sebagai pendiri orkes kelas dunia ini saat negeri kita menjadi tuan rumah G20. Kak Ananda sendiri bahkan bilang ke KITA bahwa Aurell adalah salah satu pemain Indonesia favoritnya di orkes ini, makanya kak Ananda mempercayainya untuk memperdanakan Findolandesia yang baik part biola maupun pianonya tidak mudah ini.
C. Yang terakhir, untuk piano solo yang sebetulnya sudah cukup terkenal di berbagai belahan dunia tapi malah belum pernah dimainkan di Indonesia. “No More Moonlight Over Jakarta” punya sejarah yang sangat spesial …. nah, lagi-lagi, silakan klik saja deh ya link ini.
https://www.tinemu.com/temu-pande/31712193420/ananda-sukarlan-merusak-karya-beethoven-demi-ahok
Karya ini panjangnya sekitar 6 menit juga, dan telah dimainkan oleh Yael Weiss di banyak negara, dan kini telah “dipungut” oleh beberapa pianis lain, tapi belum ada pianis Indonesia. Peserta (dan semoga pemenang!) Kompetisi Piano Nusantara Plus punya kesempatan besar untuk menjadi pemain pertama karya ini di Indonesia!
Nah, kalau mendengar penjelasan Kak Ananda Sukarlan di youtube itu, nama kalian akan masuk dalam sejarah permusikan di Indonesia. Dan itu penting untuk biodata kalian nantinya bahwa kalian dipercayai untuk memperdanakan sebuah karya, bahkan menjadi dedicatee dari sebuah karya yang artinya karya itu tercipta karena sang dedicatee.
OK deh, good luck untuk semua peserta, dan tentu Depok bangga menjadi bagian dari sejarah musik klasik Indonesia ini. May the best win!
The post Update Piano Nusantara Plus: Batas Usia, Hadiah Spesial dll first appeared on Kita Anak Negeri.]]>