Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan, pasti para guru musik dan calon peserta, baik pemain instrumen apa saja maupun vokalis sudah mulai bersiap-siap dan kami para penyelenggara ingin sekedar mengingatkan “hasil tidak mengkhianati usaha” kepada anda semua, para pemenang. Semua peserta bukan hanya akan menjadi pemenang kompetisi musik, tapi pemenang dalam kehidupan. Soalnya, seorang pemenang adalah seseorang yang mengenali talenta yang diberikan Tuhan, mendedikasikan hidupnya dengan fokus untuk mengembangkannya menjadi ketrampilan, dan menggunakan ketrampilan ini untuk meraih cita-citanya yang nantinya akan berguna buat orang banyak (yang akan lebih baik lagi kalau bukan hanya untuk orang-orang terdekatnya yang berpendapat, berpandangan politik atau beragama yang sama tapi juga yang berbeda bahkan bertolak belakang).
Ini adalah kompetisi untuk membuat kita semua jadi lebih baik, bukan hanya ajang guru-guru rebutan murid atau berusaha membuat kelompok sendiri untuk menjatuhkan kelompok (baca: sekolah musik) yang lain. Kompetisi ini ditujukan untuk gen Z dan gen alpha yang katanya lebih tidak fokus daripada generasi milenial karena adanya social media dan gadgets. Gen Z juga (katanya) mencetak sejarah peradaban manusia karena pertama kalinya hasil tes IQ nya lebih rendah daripada generasi sebelumnya (yaitu gen milenial). Gen Z juga (katanya) attention span-nya juga lebih rendah tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja bahkan membuka lapangan pekerjaan baru, lebih profesional di lapangan kerja baru ini, lebih toleran dan tentu saja lebih ramah teknologi. Menurut saya, inilah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada dalam sejarah manusia. Di gen Z dan alpha lah kita menaruh harapan bahwa musik sastra (dan kesenian pada umumnya) Indonesia bisa bersanding dengan musik negara-negara lain yang sudah lebih dahulu maju, atau malah yang tidak bisa mempertahankan supremasinya seperti di beberapa negara asalnya di Eropa. Gen Z dan alpha lah yang akan mengerti bagaimana mengimplementasikan musik klasik Indonesia untuk kemakmuran dan menaikkan kecerdasan bangsa di saat jurang perbedaan semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin, yang berkuasa dan yang ditindas, yang korupsi dan yang kerja keras dengan jujur, yang progresif dan yang konservatif, yang terdidik dan yang tertinggal karena termakan tipuan atau iming-iming surga baik di akhirat maupun di kehidupan di saat ini dari ajaran-ajaran agama, aliran politik dan dogma-dogma lain yang sesat. Ini semua terjadi, dan harus kita perjuangkan di era social media dengan algoritma jahat yang merajai kehidupan kita serta media cetak yang besok lusa akan punah.
Wacana penutupan program studi yang tidak relevan dengan industri oleh pemerintah berpotensi mengancam kemampuan berpikir kritis dan fondasi sosial budaya generasi. Harusnya budaya, bahasa, dan seni bidang apapun justru harus diberikan ruang lebih untuk berekspresi, sehingga setiap perubahan sosial masyarakat dapat direkam dengan baik sebagai dinamika yang mendukung supremasi budaya Indonesia sehingga justru sangat relevan dengan yang dibutuhkan oleh industri dan memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara.
Saat anda melangkah ke panggung di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, ingatlah bahwa setiap nada yang anda mainkan atau nyanyikan membawa esensi dari dedikasi dan ketekunan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Anda tidak hanya menampilkan sebuah karya—Anda berbagi suara unik anda dengan dunia, suara yang dibentuk oleh disiplin, ekspresi dan keberanian untuk terus berlatih bahkan ketika itu terasa sulit. Biarkan musik mengalir melalui anda tanpa rasa takut; penilaian juri mungkin mengukur teknik, tetapi pertumbuhan, ketahanan, dan kecintaan anda pada musik adalah yang benar-benar mendefinisikan momen ini.
Dari sini, seni berperan penting dalam diplomasi yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Produk budaya Indonesia sudah seharusnya memiliki potensi mengingatkan posisi strategis negara Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, produk budaya Indonesia berpotensi mendorong perekonomian negara. Akan tetapi, pertanyaannya ada pada bagaimana produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas. Di sinilah para seniman memegang peranan penting, bukan hanya dari segi teknik, tapi juga dari karakter dan identitas yang kuat.
Sometimes we win, sometimes we learn. Ini bukan hanya berlaku untuk para peserta, tapi juga guru-guru musik mereka, panitya, mitra penyelenggara dan juri-juri di KPN+. Baik dalam winning atau learning, anda sudah menjadi juara karena berani berkompetisi, dan pengalaman ini hanya akan membuat kemampuan artistik anda bersinar lebih terang. Percayalah pada persiapanmu, bermain dan bernyanyilah dengan sepenuh hati, dan nikmati setiap detik yang indah—dirimu di masa depan akan bangga atas dirimu di saat ini.
Dan di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, we are all winners, tapi juga we are all learners, trying to be better than we are now.
Sampai jumpa mulai Agustus 2026 di Medan, Bandung, Lampung, Bekasi, Bandung, Salatiga, Tangerang, Yogyakarta, Balikpapan, Bali dan terakhir di Jakarta ! Terimakasih para mitra penyelenggara regional yang telah bekerja keras mencetak gen Z dan alpha yang lebih berkualitas !
pianistically yours, Ananda Sukarlan
twitter & IG : @anandasukarlan
The post Surat Terbuka Kepada Para Pendidik Musik Privat & Sekolah Musik seluruh Nusantara dari Ananda Sukarlan first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Ananda Sukarlan juga baru balik dari Lampung, Samarinda dan Balikpapan, di dua kota terakhir itu ia bekerjasama dengan Nusantara Youth Music Olympics (NYMO). NYMO jugalah yang akan menjadi mitra penyelenggara KPN+ di Kalimantan Timur, dan setelah dirapatkan, juga dengan Chendra Panatan, manager Ananda yang datang ke Kaltim pertengahan bulan April ini, KPN+ akan dilaksanakan di Balikpapan tanggal 15 November. Ini tentu terbuka untuk para peserta dari Samarinda (kurang dari 2 jam naik mobil ke Balikpapan) dan kota-kota lain, bahkan di provinsi selain Kalimantan Timur.
Berikut kompilasi FAQ (Frequently Asked Questions, atau Beberapa Pertanyaan yang paling sering dilontarkan) menyangkut KPN+, dijawab oleh Ananda Sukarlan. Jika masih ada pertanyaan lain, silakan hubungi ke akun Instagram @anandasukarlan , dan jika terkumpul banyak, kami akan terbitkan artikel sambungan untuk FAQ KPN+ 2026.
Q : Untuk instrumen lain, lagu pilihan Junior dan Senior apa akan diberikan batasan grade juga?
AS : Hanya dari segi durasi, tingkat kesulitannya terserah. Tapi saya ada sedikit “warning” nih. Saya ingin memuji satu inovasi di NYMO yaitu : content & achievement. Ini adalah kriteria penilaian tentang pemilihan karya, dimana sering dipercaya bahwa “jika anak / murid saya memilih karya yang sulit, ia pasti unggul dibandingkan peserta yang memilih karya yang lebih mudah secara teknis”. Padahal itu salah besar! Nah di NYMO ada kriteria ini, untuk menilai apakah pilihannya tepat secara kesulitan teknis.
Q : Untuk kategori instrumen lain, apakah terdiri dari 5 instrumen yang ada di poster saja? Atau diperbolehkan instrumen yang lainnya? Terus lagu wajibnya bagaimana?
AS : Bisa untuk semua instrumen, bahkan yang langka di Indonesia pun boleh, seperti misalnya euphonium, english horn dll. Lagu wajib bisa ambil satu nomor dari “Friendship Set to Music”, karena itu memang saya tulis untuk 1 instrumen melodik dan piano, dan bisa di-transpose sesuai kebutuhan instrumen. Kalau butuh transpose yang agak lebih rumit, bukan hanya 1 oktaf ke bawah untuk fagot atau cello misalnya tapi untuk viola atau clarinet, bisa hubungi saya lewat Instagram @anandasukarlan nanti akan dikirim dalam format pdf . Tapi kalau mau karya yang lain, bisa request ke saya, karena saya sih sudah menulis untuk semua instrumen (bahkan inginnya untuk ondes martenot, gitu, tapi belum ada ondes martenot di Indonesia kan? Saya ingat zaman saya main Turangalila Symphonie selalu bersama Valerie Hartmann-Claverie, kita tour ke beberapa kota di Spanyol, dan sampai sekarang saya masih impressed dengan instrumen itu).
Q : Untuk kategori vocal ensemble, sertifikat untuk group atau setiap orang / member mendapatkan sertifikat?
AS : Sertifikat diberikan kepada tiap anggota, tapi piala atau medali satu saja untuk seluruh group.
Q : Untuk kategori non profesional selain piano, apakah sama dengan instrumen lain yang membebaskan boleh atau tidak menggunakan instrumen pendamping? Untuk instrumen pendamping, apakah boleh lebih dari 2 instrumen?
AS : Pengertian saya musik pendamping ya 1 instrument aja. Boleh saja kalau mau lebih, toh biaya ditanggung peserta. Sedangkan instrumen, kami hanya menyediakan piano. Dan untuk pertanyaan pertama, boleh saja solo tanpa pendamping, misalnya main suite untuk cello dari Benjamin Britten atau Johann Sebastian Bach, atau Caprices dari Paganini untuk biola solo, atau karya saya untuk biola solo “Relationships”
Q : Apakah ada kegiatan-kegiatan menjelang KPN+ dimana Ananda akan memberi ceramah, masterclasses, diskusi dll mempersiapkan para (calon) peserta untuk tampil secara prima?
AS: Sudah sejak bulan April ini saya ke Lampung dan Samarinda & Balikpapan, baik masterclasses maupun temu muka/tanya jawab. Yang temu muka itu bukan hanya untuk peserta, tapi siapa saja termasuk orang yang “awam” musik. Setelah balik dari Spanyol, bulan Juni nanti saya lanjut ke Jawa Tengah dan Jogja. Bukan hanya mempersiapkan untuk KPN+ 2026, tapi juga membuka mata bahwa musik itu bukan sesuatu yang hanya dipelajari sambil lalu. A work of art is never finished, only abandoned. Dalam proses penulisan karya seni, bahkan sang komponis atau seniman pun tidak pernah meraih konsep artistik yang ada di kepalanya secara paripurna di atas kertas atau kanvas. Coba dengarkan deh penjelasan saya
Q : Ada durasi maximum untuk penampilan, tapi adakah durasi minimum? Terutama untuk tingkat-tingkat menengah dan lanjutan yang cukup panjang durasinya.
AS : Tidak perlu memilih karya yang panjang, ingat batasan waktu adalah MAXIMUM. Tidak perlu harus memenuhi durasi maximum tersebut. Lagi-lagi, yang dinilai adalah kualitas permainan, bukan sulitnya karya yang dipilih atau durasi.
Q: Di KPN+ tahun-tahun kemarin, ada beberapa peserta yang permainannya dipotong oleh juri. Apa sebabnya, dan apakah ini mempengaruhi nilai?
AS : Kalau durasinya kepanjangan, juri akan memotong permainannya. Ini sama sekali tidak mempengaruhi penilaian. Tapi ada juga yang karena peserta tiba-tiba lupa (blank) dan bingung untuk melanjutkan permainannya. Nah ini kalau memang sudah benar-benar macet, kan lebih baik disudahi karena memang pasti tidak akan bisa lanjut ke babak berikutnya. Btw, di babak final biasanya tidak pernah lagi ada kejadian seperti ini, karena semua yang masuk final pasti sudah tahu cara mengantisipasi “blank” seperti ini. Ada caranya, dan tidak perlu gugup! Kalaupun terjadi, jadikanlah pengalaman ini sebagai pelajaran, jangan sampai terulang lagi. Ada banyak cara mengatasi ini, dan ini adalah bagian dari “resiko pekerjaan” sebagai seorang performer. Seorang performer bukan seseorang yang selalu berhasil, tapi yang bisa bangun dari kegagalan, karena motto kita cuma satu : The Show Must Go On.
The post FAQ Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Hari Minggu 5 April nanti saya akan memperdanakan dua karya baru untuk piano dengan karakter sangat berbeda. Konser itu adalah “Melodies without Borders”, dimana saya akan tampil bersama dua pianis dengan disabilitas, yaitu Takeshi Kakehashi (tunanetra, dari Jepang) dan Michael Anthony Kwok (selain tunanetra juga penyandang autis, pemenang Ananda Sukarlan Award 2025) dan soprano Mariska Setiawan. Dengan Mariska saya akan mempersembahkan dua tembang puitik baru juga, dari puisi Nissa Rengganis dan Hening Wicara, selain karya-karya yang sudah sering ia nyanyikan dari puisi Judith Wright, Miguel Cervantes dan Joko Pinurbo. Konser akan berlangsung di Soehanna Hall (Energy Building, SCBD) pukul 3 sore. Selain karya baru saya, saya juga akan memainkan karya Toru Takemitsu (Jepang, 1930-1996) yang telah menjadi salah satu tokoh yang membuka mata saya sebagai seorang komponis.
Saya mulai dengan yang pendek dulu, yaitu “Serenata for Srinata”. Ini adalah sebuah “kado ulangtahun” permintaan dari sang ibunda Srinata yang akan merayakan ultahnya ke 25, tanggal 11 April nanti.
“Srinata, anak yg lama kami nanti & rindukan dengan harapan, perjuangan dan doa. Di tahun ke-8 perkawinan kami (‘nyaris’ kami harus menjalani proses bayi tabung), dia akhirnya hadir dalam keluarga kecil kami. Kehadirannya mengingatkan kami bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang punya makna”, demikian pesan Whatsapp sang ibunda kepada saya.
Karena saya mengenal Nata (panggilan kesayangannya) dan lebih lagi orangtuanya, tidak sulit bagi saya untuk menulis karya ini. Nah tapi ternyata ada kesulitan sendiri, mungkin karena sang ibunda, Karini Nugroho (yang by the way adalah kakak dari penulis Ayu Utami yang saya sangat idolakan) menyebut bahwa salah satu karya saya yang paling ia sukai adalah “Lonely Child”, “tapi jangan sedih seperti itu dong”, katanya. Lonely Child adalah karya saya yang sangat personal (seperti 80% dari karya saya yang lain!) yang fokus kepada … kepada …. ya apa lagi selain rasa kesendirian saya. Ada sedikit kesamaan saya dengan Nata, di mana dia pendiam dan suka menyendiri. Dia lebih beruntung karena dia bukan orang yang harus sering bersosialisasi dan bicara di depan publik, jadi dia tidak perlu sering ‘acting’ sebagai seorang extrovert.
Jadilah dua karya, yang sampai saat ini (Senin, 30 Maret) belum saya tentukan, apakah menjadi Serenata no. 1 dan 2, dan kalaupun demikian, mana yang nomor 1 dan mana yang nomor 2. Salah satunya, yang lebih pendek (dibawah 3 menit) terpengaruh oleh “Lonely Child” tapi lebih ke karakter kedamaian (sesuai dengan judulnya yang berasal dari kata “serena” yang artinya damai), bukan kesendirian.
(“Lonely Child” dimainkan oleh Ayunia Indri Saputro, pemenang ASA yang sedang mengambil gelar Doktor Musik di University of Michigan :
Satu lagi adalah “Panggil Aku Kartini Saja”, yang sebetulnya sudah saya selesaikan akhir tahun lalu, tapi saya rasa ini adalah konser yang tepat untuk memperdanakannya, menyongsong Hari Kartini 21 April nanti.
Saya sudah membaca “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer sekitar tahun 2000-an. Lewat tulisannya, Pramoedya membuatku melihat Kartini bukan sebagai mitos, melainkan gadis pemberani yang benar-benar ingin memajukan bangsanya. Sangat menginspirasi untuk ditransformasi menjadi musik, dan memang saya sudah memiliki sketsa tentang musik yang ingin saya buat sejak saya membacanya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana supaya musik itu memiliki struktur yang koheren, dan tentu tidak terlalu panjang sehingga dapat dijadikan bahan untuk konser piano siapapun. Itu sebabnya musik saya — jika dihubungkan langsung dengan buku Pramoedya — tidak kronologis. Bahkan karya yang saya mainkan di konser yang diselenggarakan oleh Lions Club hari Minggu, 5 April nanti adalah mungkin “jilid pertama” dari karya-karya selanjutnya, yang mungkin bukan untuk piano solo.
Sebagai motif melodik, saya mengambil motif dari lagu “Ibu Kita Kartini” bagian depannya (bukan melodi lanjutannya karena ada kemiripan dengan lagu Manado “O Inani Keke” — sebuah kebetulan?). Itu pun sebetulnya motif semua orang, karena notnya adalah Do Re Mi Fa Sol, kemudian turun Mi Do. Sebuah motif yang sangat sederhana dan umum yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan.
Dari judul bukunya saja, saya bisa merasakan kerendahan hati Kartini. Sebelum membacanya, saya seperti kebanyakan orang lain: hanya tahu bahwa tanggal 21 April dirayakan sebagai Hari Kartini karena ia menulis surat-surat yang dikumpulkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Saya juga belum pernah membaca kumpulan 105 surat pribadinya itu. Lewat buku Pramoedya Ananta Toer ini, saya akhirnya mengenal Kartini lebih dekat sebagai manusia biasa.
“Panggil Aku Kartini Saja” kaya akan kedalaman emosi, drama sejarah, dan suara hati Kartini — bahan yang sempurna untuk diadaptasi ke musik.
Pram memulai cerita dari kekalahan Perang Diponegoro dan politik tanam paksa yang menyengsarakan rakyat. Lalu ia jelaskan silsilah keluarga Kartini dari golongan bangsawan Jawa. Selanjutnya, kisah masa kecilnya, sekolah, hidup dalam pingitan (penyekapan), hingga ia bebas melihat dunia luar di Jepara. Saat dewasa, Kartini banyak membaca buku sebagai pelarian dari budaya pingitan Jawa. Ia melihat jurang besar antara orang pribumi dan Belanda: kemiskinan, sistem kasta, serta feodalisme yang membuatnya resah. Tapi ia juga mengagumi dunia Barat karena menguasai bahasa Belanda dan menemukan jalan kemajuan lewat bacaan.
Kartini berjuang lewat seni: menulis, membatik dan ternyata juga melukis. Ia bahkan membantu membuat Jepara terkenal dengan ukiran kayunya di mata orang Belanda.
Di akhir buku, Pram ceritakan pandangan Kartini tentang Tuhan. Meski beragama Islam, ia terbuka pada ajaran agama lain (termasuk Injil), dan lebih menekankan kebajikan serta cinta. Ia sangat kritis, pintar mengamati, dan punya pikiran maju untuk perempuan di zamannya.
Pramoedya mendorong pembaca untuk melihat Kartini sebagai manusia yang kompleks, penuh kekurangan, namun luar biasa berani, bukan sekadar ikon simbolis. Itu sebabnya karakter “maskulin” di akhir karya musik saya ; sewaktu menuliskannya, saya mengira bahwa bagian itu “megah”, tapi saat saya sedang mencobanya di piano saat ini, ternyata lebih berbunyi “maskulin” daripada “berani” ….. itulah misteri komposisi musik. Dan melalui musik saya sendiri saya jadi bisa menangkap karakter “maskulin” di Kartini menurut interpretasi Pramoedya.
Saya juga mengakhirinya dengan polifoni yang cukup kompleks, terinspirasi dari berbagai karakter Kartini.
Buku ini dianggap sebagai salah satu karya non-fiksi/novelistik penting Pramoedya di luar novel-novel utamanya (seperti Kuartet Buru). Buku ini mencerminkan minatnya yang mendalam terhadap sejarah Indonesia, akar nasionalisme, dan peran para pemikir progresif. Banyak pembaca dan kritikus memuji buku ini karena membuat Kartini lebih mudah dipahami dan menginspirasi, sekaligus mengungkap tekanan sosial yang dihadapinya sebagai seorang wanita bangsawan Jawa di akhir masa kolonial.
Pramoedya menulis buku ini sebagai bentuk perlawanan yang disengaja terhadap citra Kartini yang resmi dan termitologikan yang dipromosikan dalam pendidikan Indonesia dan peringatan nasional (Hari Kartini pada 21 April). Dalam kata pengantarnya, Pram mengkritik bagaimana Kartini telah diubah menjadi sosok “mitos” atau “seperti dewi” yang jauh, yang mengurangi kebesarannya yang sebenarnya sebagai manusia biasa dengan perjuangan, kontradiksi, dan kedalaman. Ia bertujuan untuk menyajikan Kartini sebagai manusia nyata yang ide dan tindakannya radikal untuk zamannya.
Buku ini banyak mengambil inspirasi dari surat-surat terkenal Kartini sendiri (terutama yang dikumpulkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang / Dari Kegelapan Muncul Cahaya), konteks sejarah, dan penelitian mendalam Pramoedya tentang era kolonial dan feodal. Buku ini memadukan biografi, analisis sejarah, dan penceritaan naratif. Ringkasan Isi dan Plot Utama: Karya ini menelusuri kehidupan Kartini sejak kelahirannya di keluarga bangsawan Jawa (priyayi) di Jepara, Jawa Tengah, melalui masa kecilnya, pendidikan, pengasingan (pingitan), pernikahan, dan kematiannya yang prematur pada usia 25 tahun setelah melahirkan. Unsur-unsur kunci yang dibahas: Kehidupan awal dan pendidikan: Sebagai putri seorang bupati yang progresif, Kartini menerima pendidikan ala Belanda yang tidak biasa bagi gadis-gadis Jawa pada saat itu. Ia mengembangkan kecintaan pada membaca dan korespondensi dengan teman-teman Belanda (seperti sahabat penanya, Stella Hartshalt-Zeehandelaar), yang membuatnya terpapar ide-ide Eropa tentang kesetaraan, kebebasan, dan kemajuan.
Kartini digambarkan sebagai seorang wanita muda yang terpecah antara dunia aristokratnya yang istimewa namun membatasi dan kesadarannya yang semakin meningkat akan ketidakadilan. Ia dengan gigih menentang: Tradisi feodal dan adat Jawa yang membuat perempuan terisolasi dan pernikahan yang diatur.
Pramoedya menyoroti nilai-nilai kemanusiaannya, empati terhadap penderitaan rakyat jelata, dan visinya tentang kemajuan bagi seluruh bangsa. Pram juga menekankan pergumulan batin Kartini — kesepian, kemarahan, keputusasaan, dan ketahanan — daripada menyajikan kisah heroik yang disederhanakan. Ia menggambarkan Kartini bukan hanya sebagai pelopor feminisme, tetapi juga sebagai seseorang yang menantang kekuasaan kolonial dan feodalisme pribumi.
Jadi, saya ingin membuat “disclaimer” bahwa musik saya bukan tentang Kartini, tapi tentang interpretasi Pramoedya Ananta Toer tentang Kartini (yang mungkin tidak 100% akurat juga).
Seandainya buku sejarah ditulis dengan gaya Pramoedya, mungkin saya akan sedikit lebih menyukai pelajaran sejarah di masa sekolah dulu! Saya hanya ingat bahwa perang Diponegoro itu berlangsung selama 5 menit, yaitu dari 1825-1830 ….. ya, ya, segitunya saya bosan dengan sejarah yang menurut saya waktu itu sebagai masa lalu yang tidak ada gunanya untuk diingat-ingat.
The post Dua Karya Baru Saya Untuk Piano, Satu Cewek Satu Cowok first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Esai pendek ini ditulis oleh penyair Ikhsan Risfandi “Irzi” sebagai status Facebook-nya setelah saya kirimi partitur saya. Saya juga sematkan komentar penyair Tan Lioe Ie di bawahnya. Patut dibaca untuk POV dari sudut seorang penyair tentang alihwahana dua bidang seni. Sudah ada beberapa vokalis yang tertarik menyanyikannya, semoga dalam beberapa bulan ke depan.

Berikut tulisan Irzi :
Mas Ananda Sukarlan,
Setelah membaca kembali partitur “Lantaran” dan menyimaknya dengan lebih perlahan, saya merasa seperti melihat puisi saya sendiri dari sudut yang sama sekali berbeda. Sebagai orang yang menulis teksnya, saya tentu ingat bagaimana baris-baris itu lahir—dari pengamatan kecil tentang malam, perjalanan, kota, dan orang-orang yang lewat tanpa benar-benar kita kenal. Puisi itu pada awalnya terasa sangat sederhana bagi saya: hanya fragmen suasana yang saya tangkap dari pengalaman berjalan atau diam di kota pada malam hari. Namun ketika puisi itu berubah menjadi musik di tangan Mas Ananda, saya merasakan bahwa kata-kata tersebut tidak hanya dibacakan atau dinyanyikan, melainkan benar-benar dihidupkan kembali melalui bunyi. Rasanya seperti melihat sebuah teks membuka lapisan makna yang sebelumnya bahkan belum sepenuhnya saya sadari ketika menulisnya.
Hal pertama yang langsung terasa bagi saya adalah bagaimana Mas Ananda menangkap gambaran tentang kereta malam yang muncul di awal puisi. Ketika saya menulis baris tentang suara kereta yang menembus dinding hotel, yang saya bayangkan sebenarnya cukup sederhana: sebuah malam yang sunyi, lalu suara kereta lewat di kejauhan, semacam bunyi yang datang sebentar lalu pergi lagi. Dalam teks, momen itu hanya lewat sebagai pengamatan kecil. Tetapi di partitur, suara itu tidak hadir hanya sebagai gambaran naratif; ia muncul sebagai ritme yang berulang-ulang di piano, seperti gerakan mekanis yang terus berjalan tanpa henti. Pola ostinato yang dimainkan itu membuat saya merasa seolah-olah kereta tersebut benar-benar bergerak sepanjang lagu, bukan hanya lewat sebentar. Ritme yang berulang itu seperti menjadi denyut yang menjaga seluruh komposisi tetap hidup. Bagi saya, ini sangat menarik karena puisi pada dasarnya statis—ia berhenti di halaman—sementara musik memberi rasa waktu yang terus berjalan. Melalui ritme itu, kereta malam dalam puisi saya berubah menjadi semacam mesin waktu yang membawa pendengar bergerak bersama cerita.
Pengalaman ini membuat saya mulai menyadari bagaimana teknik yang sering disebut word painting bekerja di dalam komposisi ini. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan istilah teori musik, mungkin istilah ini terdengar sangat akademis. Namun sebenarnya konsepnya cukup sederhana: musik mencoba “melukiskan” makna dari kata-kata yang ada dalam teks. Ketika sebuah kata atau gambaran muncul dalam puisi, musik meresponsnya dengan gerakan, ritme, harmoni, atau warna bunyi tertentu yang membantu pendengar merasakan suasana yang sama. Dengan cara ini, hubungan antara teks dan musik tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga emosional dan atmosferik.
Contoh yang paling jelas tentu adalah gambaran kereta tadi. Ritme berulang di piano bukan hanya sekadar pola pengiring, melainkan cara musik mengekspresikan gerakan kereta itu sendiri. Pendengar mungkin tidak langsung berpikir secara sadar bahwa pola tersebut meniru roda kereta di rel, tetapi tubuh kita secara intuitif mengenali sensasi gerakan yang stabil dan terus berjalan. Di sini musik tidak hanya mengilustrasikan kata, tetapi juga menghidupkan pengalaman yang terkandung di dalamnya.
Kemudian ketika teks mulai berbicara tentang bayangan orang di halte, saya juga merasakan bagaimana musik berubah dengan cara yang sangat halus. Bayangan adalah sesuatu yang selalu terasa sedikit tidak pasti. Ia ada, tetapi tidak sepenuhnya bisa kita tangkap. Ia mengikuti seseorang, tetapi bentuknya berubah tergantung cahaya. Ketika membaca kembali bagian itu sambil memperhatikan harmoni yang Mas Ananda gunakan, saya merasakan bahwa pilihan akor yang lebih terbuka dan sedikit ambigu benar-benar memberi warna yang sesuai dengan gambaran tersebut. Harmoni yang tidak terlalu stabil itu membuat suasana musik terasa seperti melayang, tidak sepenuhnya berpijak pada satu titik. Bagi saya, ini seperti melihat bayangan yang memanjang di trotoar pada malam hari—kita tahu bentuknya, tetapi garisnya selalu sedikit kabur. Menariknya, musik mampu menyampaikan kesan itu tanpa harus menjelaskan apa pun secara langsung. Bahkan jika seseorang tidak membaca teksnya, ia tetap bisa merasakan nuansa samar yang muncul dari perubahan warna harmoni tersebut.
Hal lain yang sangat terasa bagi saya adalah penggunaan pedal piano yang menciptakan semacam kabut suara. Dalam puisi, ada momen ketika suasana kota malam terasa sedikit berkabut, bukan hanya secara visual tetapi juga secara emosional. Kota pada malam hari sering membuat kita merasa berada di ruang yang luas namun sekaligus sedikit terasing. Ketika saya mendengar bagaimana nada-nada piano dibiarkan beresonansi dan saling bertumpuk melalui pedal sustain, saya merasa suasana itu muncul dengan sangat alami. Bunyi-bunyinya tidak lagi terdengar tajam atau terpisah, melainkan bercampur menjadi satu tekstur yang lembut dan sedikit buram. Rasanya seperti berjalan di trotoar yang basah setelah hujan, di mana lampu-lampu kota memantul di permukaan jalan dan semuanya terlihat sedikit kabur. Bagi saya, ini adalah salah satu contoh bagaimana musik bisa memperluas pengalaman puisi. Kata “kabut” dalam teks mungkin hanya sebuah metafora, tetapi melalui suara piano, metafora itu berubah menjadi pengalaman yang benar-benar bisa dirasakan oleh telinga.
Yang juga sangat menarik bagi saya adalah bagaimana perubahan harmoni di bagian yang berbicara tentang cinta terasa jauh lebih terbuka dan luas dibandingkan bagian-bagian sebelumnya. Dalam puisi, baris tentang cinta sebenarnya muncul cukup sederhana, bahkan hampir seperti kesimpulan yang muncul secara tiba-tiba setelah berbagai gambaran tentang kota dan orang-orang yang lewat. Tetapi ketika bagian itu diterjemahkan ke dalam musik, saya merasa bahwa ruang emosionalnya menjadi jauh lebih besar. Harmoni yang lebih lapang memberi kesan seperti sebuah jendela yang tiba-tiba terbuka setelah kita berjalan cukup lama di lorong yang sempit. Nada-nada yang saling berjauhan menciptakan rasa ruang yang lebih luas, seolah-olah musik memberi napas yang lebih panjang pada kalimat tersebut. Bagi saya, ini membuat gagasan tentang cinta dalam puisi tidak terasa sentimental, melainkan lebih seperti refleksi yang muncul secara alami dari pengalaman melihat dunia di sekitar kita.
Sebagai penulis teks, saya juga merasa sangat menarik melihat bagaimana hubungan antara vokal dan piano dalam komposisi ini tidak pernah terasa seperti hubungan antara “melodi utama” dan “iringan”. Piano sering kali terasa seperti narator kedua yang berjalan berdampingan dengan suara penyanyi. Ketika vokal menyampaikan kalimat tertentu, piano seolah menambahkan komentar atau bayangan emosional dari kalimat tersebut. Kadang-kadang ia memperkuat maknanya, kadang-kadang ia membuka ruang interpretasi yang lebih luas. Dalam banyak lagu, iringan piano biasanya hanya mengikuti garis melodi atau mendukung struktur harmoni secara sederhana. Namun dalam karya ini, saya merasa piano memiliki peran yang jauh lebih aktif, hampir seperti karakter lain dalam cerita yang sedang berlangsung.
Dari sudut pandang saya sebagai penulis lirik, pengalaman melihat puisi ini berubah menjadi musik juga membuat saya menyadari bahwa kata-kata tidak pernah benar-benar selesai ketika ditulis. Ketika sebuah teks diberikan kepada komposer, ia bisa menemukan makna-makna baru yang bahkan mungkin tidak sepenuhnya disadari oleh penulisnya sendiri. Melalui ritme yang menggambarkan kereta, harmoni yang menggambarkan bayangan, tekstur pedal yang menghadirkan kabut, dan harmoni terbuka yang memberi ruang bagi gagasan cinta, saya merasa bahwa Mas Ananda tidak hanya mengiringi puisi ini, tetapi benar-benar berdialog dengannya.
Bagi saya pribadi, dialog ini adalah bagian paling indah dari kolaborasi antara puisi dan musik. Puisi memberikan gambaran, sementara musik memberi tubuh dan gerak pada gambaran itu. Kata-kata yang sebelumnya hanya hidup di halaman kini memiliki dimensi waktu, ruang, dan resonansi emosional yang jauh lebih luas. Ketika mendengarkan karya ini, saya merasa seolah-olah puisi tersebut sedang berjalan di dalam sebuah lanskap suara yang terus berubah—dari ritme kereta malam, ke bayangan yang memanjang di halte, ke kabut kota yang lembut, hingga akhirnya sampai pada ruang yang lebih terbuka ketika cinta disebutkan.
Karena itu, membaca dan mendengar kembali “Lantaran” dalam bentuk komposisi ini membuat saya merasa bahwa puisi tersebut tidak lagi sepenuhnya milik saya. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang lahir dari pertemuan antara kata dan musik. Dan justru di situlah keindahannya: puisi yang awalnya hanya berupa rangkaian kalimat kini memiliki kehidupan baru melalui bunyi, ritme, dan harmoni yang Mas Ananda ciptakan.
_______________________________
Tan Lioe Ie pun berkomentar :
Ikhsan Risfandi dan Bung Ananda Sukarlan,
Dialog karya seni lain: musik, rupa … dengan puisi sebagai Ekphrasis juga asyik. Saya menikmati melahirkan puisi dari musik pun karya rupa.
Harus jujur saya katakan, karya rupa menawarkan ruang lebih dibanding kata-kata. Meski dalam puisi kata-kata tak mesti terikat secara leksikal, ini sebabnya saya minta ijin ke perupa yang ada kontaknya yang karya rupanya kerap diberi judul (kata atau kata-kata) agar diperkenankan tak patuh pada judulnya, sedikit kata yang tak mungkin mewakili seluruh yang dapat dihadirkan karya rupa.
Musik, di mana ada “manajemen bunyi” secara luas lebih luas lagi tawarannya dibanding rupa dan kata. Dia yang bukan konsumsi mata (walau kata dalam puisi bukan semata konsumsi mata), tapi mata sangat dibutuhkan, dan tentu tak semata soal bentuk puisi — tipografi dll. Mata pintu masuk ke ruang puisi yang luas. Ada bunyi yang bisa stratified juga dll. Musikalitas memang ada pada puisi makna yang beragam tafsir juga ada. Namun, musik yang wujudnya tak tersentuh (bukan partitur — yang mesti “disuarakan”, lazimnya) dan bergerak, ruang tafsirnya lebih beragam lagi. Saya bukan hendak mengatakan kesenian yang satu kalah bagus dari yang lain. Sama sekali bukan. Tapi pengalaman pribadi saya, dialog penyair dalam melahirkan puisi dari karya musik dan rupa, membawa ke pengalaman yang kerap tak terduga, termasuk menembus dimensi waktu, menggali apa yang mungkin lama terlupa, menggali diri. Tinggal sekarang seberapa “kaya” kandungan diri yang dimiliki penyair, tanpa menghilangkan pertanyaan dari masa ke masa yang tak hanya monopoli penyair, tentang apa dan bagaimana manusia serta tujuan kehadirannya dan banyak lagi yang lainnya, yang tetap menantang dan menggairahkan. Meminjam Rubaiat Omar Kayam: kita hidup ibarat menghadapi tabir dan tabir itu mungkin baru tersingkap setelah kita tak lagi berpijak di sini. Misteri. Ini selalu menarik bagi seniman dan manusia lainnya. Tanpa misteri. Ketika segalanya gamblang. Mungkin hasrat berkarya seniman tak ada lagi. Menjadi “Nir”. Berbahagialah Irzi yang hidup di dua “dunia” (mungkin lebih, karena manusia bisa bermatraganda — minjam Romo Mangun Wijaya) musik dan puisi, berbahagialah Bung Ananda Sukarlan musisi handal yang “nakal bermain” dengan puisi. Berbahagialah semua yang masih hidup dalam berkarya dan melahirkan karya yang hidup.
The post Esai Ikhsan Risfandi “IRZI” Merespon Puisinya “Lantaran” Yang Saya Obrak-Abrik first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca : https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/)

Saya ingin melebarkan sedikit artikel yang singkat dan padat itu untuk lebih menjelaskannya. Kalau dari proses kreatif, saya bisa mengibaratkan puisi itu sel telur, dan musik (tepatnya motif, yaitu elemen terkecil di dalam karya musik) itu sperma. Di sini saya menjelaskan sejak “sperma bertemu dengan sel telur”, “proses kehamilan” hingga “lahirnya si bayi” bernama tembang puitik :
https://rilis.id/Kolom/Berita/Membebaskan-Musik-dari-Penjara-Puisi-Berbahasa-Indonesia-ueclZij
Tulisan saya itu lahir memang dipicu oleh wawancara Ikhsan Risfandi dengan Riri Satria, tapi juga untuk menutup Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2025 yang telah kami selenggarakan di 11 kota. Kata “plus” sejak 2024 menandakan bahwa kompetisi ini sekarang dibuka untuk semua instrumen (bukan hanya piano) dan juga vokal klasik, sampai saat ini genre Tembang Puitik atau art song. Tahun 2026 nanti kami membuka kategori baru, yaitu Vocal Ensemble, yaitu grup vokalis mulai dari 3 orang sampai semacam “chamber choir” yang berjumlah belasan personel. Ini atas saran, permintaan dan nasehat artistik dari berbagai tokoh seperti Agastya Rama Listya (mantan dekan musik Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga), Patrisna May Widuri (mitra penyelenggara KPN+ di Surabaya dan juga pendiri kompetisi “Tembang Puitik Ananda Sukarlan” tahun 2011 yang sekarang terintegrasi di Ananda Sukarlan Award) dan banyak vokalis lainnya. Vocal Ensemble ini juga menyanyikan karya-karya yang berdasarkan puisi, hanya saja puisi itu membutuhkan lebih dari 1 vokalis, misalnya menceritakan dialog, atau seorang narrator dan pelaku.
Kompetisi ini terbukti mulai membuka mata para vokalis ke karya para sastrawan. Vokalis juara I, Maria Gabrielle Brigita menyanyikan antara lain “Dari Duka Masa Lalu” dari puisi Sihar Ramses Simatupang, sedangkan juara II, Adisa Tiara Kinasihing Ramadhan menampilkan “Seonggok Bangkai” dari puisi Ewith Bahar.
Puisi Ewith Bahar ini adalah favorit para vokalis tahun 2025 ini. Tapi kemudian mereka kan harus mengganti repertoire di babak final. Nah, puisi Riri Satria, “Dialog Sesama Virus Corona Tentang Koruptor” yang menjadi favorit di final, mungkin karena tingkat virtuositasnya yang cukup tinggi. Kebetulan, baik puisi Ewith Bahar maupun Riri Satria mendeskripsikan pandemi Covid-19, tapi dengan cara yang sangat berbeda. Kelihatannya para vokalis tertarik dengan tema yang masih sangat melekat di benak kita ini.
Sepertinya para vokalis dan sastrawan itu baru saling bertemu muka di saat para penyair datang dan menyaksikan mereka tampil, tapi ini langkah pertama untuk saling berkolaborasi antar dua bidang seni, yaitu lewat produk seni mereka. Alangkah baiknya jika para vokalis juga telah mengenal para penyair saat mereka mempersiapkan konser mereka. Saya juga melihat bahwa sekarang para vokalis lebih mengeksplorasi puisi-puisi nama-nama “baru” buat mereka seperti Muhammad Subhan, Joshua Igho, Rissa Churria dll. Prosesnya sudah kelihatan terbalik : mereka membaca puisinya dahulu, dan baru mencari siapa itu penyairnya. Kita bisa lihat bahwa sebelum pandemi Sapardi Djoko Damono, Helvy Tiana Rosa atau Chairil Anwar adalah favorit para vokalis baik di KPN (dulu belum pakai “plus”) atau Ananda Sukarlan Award, saya hampir yakin karena nama mereka yang lebih “terkenal”.
Saya bahagia bisa menjadi ‘jembatan’ untuk para vokalis dan penyair. Ini juga menunjukkan bahwa musik klasik, seperti sastra, tetap hidup dan relevan dengan situasi saat ini dan sejarah masa lalu.
The post Sebuah Tembang Puitik Bisa Dinyanyikan oleh Lebih dari Satu Vokalis first appeared on Kita Anak Negeri.]]>Jadiiii, Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+, ini biangnya semua kehebohan ini) sudah dimulai, sampai saat ini sukses dan semoga di kota-kota berikutnya juga — AMIIINN !. Di Medan lolos 25 finalis, Bandung 27 finalis dan Padang 19 finalis. KPN+ Bekasi weekend ini loh, dimulai dengan “Meet & Greet” dengan Ananda Sukarlan hari Sabtu, 27 September pk. 17.30 di Hotel Santika Mega Bekasi (sudah reservasi? Segera ya, ikutan ngrumpi sambil ngopi gratis!) Berikut rangkuman media coverage-nya secara kronologis
Padang Panjang : https://majalahelipsis.id/ranah-minang-torehkan-sejarah-kompetisi-musik-klasik-perdana-tercatat-di-sumatra-barat/
Nah, di sela-sela itu kita kedatangan Trio Saint-Saens dari Perancis, yang memberi masterclasses kepada para musikus muda Indonesia terpilih, antara lain siswa KITA, Yonggi Fayden Cordias Purba, dan instruktur piano KITA Anak Negeri, Nur Khaled Aziz yang meraih kejuaraan di Kompetisi Piano Nusantara Plus 2024 dan Ananda Sukarlan Award (ASA) 2025. Ini aman tenteram hehehe …. sampai di tengah-tengah kunjungan mereka, terselenggara Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta, 11-13 September, yang diskusinya nggak habis-habis sampai sekarang ! Bahkan dunia santri pun sekarang tertarik ke sini . Baca deh
Seperti bisa dibaca di situ, itu disebabkan oleh penampilan Ananda Sukarlan dan pemenang utama KPN+ 2024 dan ASA 2025, Ratnaganadi Paramita, mempersembahkan 4 nomor tembang puitiknya yang terbaru dari puisi Doddi Ahmad Fauji, Shantined, Rissa Churria dan Azizah Zubaer. Dari diskusi soal Tembang Puitik dan bedanya dengan musikalisasi puisi, sampailah ke perdebatan soal festivalnya itu sendiri, dan meluas ke festival literasi / puisi pada umumnya di Indonesia. Nah jadi seru. Untuk singkatnya, silakan baca sendiri deh secara kronologis, dimulai dengan artikel KITA sebelum ini tentang konser Ratnaganadi & Ananda sendiri : ( https://kitaanaknegeri.com/perbincangan-penyair-depok-shantined-dengan-ananda-sukarlan-pasca-ppn-xiii-2025-di-jakarta/ ) . Ini lanjutannya yang menjadi bola salju yang bergulir :
https://www.negerikertas.com/2025/09/sastra-echo-chamber-dan-krisis.html
Terakhir adalah kemarin, saat Ananda pun menulis di Facebook-nya (sastrawan itu masih sangat Facebookers, mereka pernah aktif di twitter tapi sekarang balik ke FB — entah kenapa. Instagram? Forget it lah, mereka tidak ada di sana hahaha). Begini tulisannya :
Wah diskusi & perdebatan masih terus bergulir, saya suka nih. Nah, untuk ini saya ingin menambahkan.
Muhammad Subhan bilang di artikel di link ini “Sering kali, untuk menghibur diri, sastrawan—dalam hal ini penyair—beretorika “yang penting tetap berkarya.” Namun, sikap seperti ini kerap berujung pada romantisme steril.”
IMHO: Kita, seniman, tidak selalu “laku”, as you know. Contoh yang paling jelas adalah waktu pandemi. tiba-tiba tidak ada yang meminta karya kami, tidak ada konser. Apa kita harus diam saja? Nah, tidak kan ? Justru saat pandemi itu periode paling produktif dalam proses kreatif saya. Ada 6 nomor Rapsodia Nusantara dalam kurang dari 1 tahun. Untuk hitung-hitungan saja : saya sudah membuat 44 nomor Rapsodia Nusantara sejak 2007, yaitu 18 tahun. Dikurangi 6 berarti 38 nomor kan. Itu berarti 3-4 nomor dalam setahun rata-rata kan?
Belum lagi tembang puitik, di periode itu saya jadi mengenal banyak penyair dan puisi baru, dan hampir 100 tembang puitik tercipta juga dalam 1 tahun itu. Buat apa? Buat siapa? Yo Ndak tahu, Kok Nanya Saya. Yang saya justru discover 2-3 tahun sesudahnya, ada sedikit perbedaan dalam gaya musikal saya : progresi harmoni, kurva melodi dll dibanding karya-karya saya sebelum 2020. Jadi, musik saya berubah saat itu. “Develop”, istilah kerennya.
Di saat itu, semua seniman hidup dalam bubble-nya sendiri. Kadang kala, kita harus masuk ke bubble tersebut, tapi ada waktunya oksigen di bubble itu habis, dan kita butuh suntikan oksigen dari luar. Atau mengutip kata-kata komponis Sir Michael Tippett : “Kita harus menyepi ke puncak gunung, tapi setelah itu kita butuh turun dan ke pasar”. Nah, banyak seniman terperangkap di bubble-nya (atau tidak bisa “turun gunung”, kalau mengacu ke kata-kata Michael Tippett). Dan saat pandemi adalah saat terlama saya hidup di bubble saya, dan ternyata itu sangat, sangat berguna untuk proses kreatif dan artistik saya, karena saya TIDAK MEMIKIRKAN UNTUK SIAPA SAYA MENULIS. Ga ada yg bayar, jadi kalo bukan donatur, elo ga boleh ngatur. Bahkan saya kena Covid yang mayan parah, dan saya mulai tidak yakin bahwa saya akan sembuh, tapi justru saat itu saya menulis terus di tempat tidur berbulan-bulan saat saya recovery, dan benar-benar berpikir “nanti terserah siapa yang menemukan partitur saya, silakan saja mainkan, dan konserkan. Kalau suka ya syukur, kalau tidak, ya saja ngomel-ngomel toh saya udah ga bisa denger”. Nah, setelah lockdown (atau apalah itu sebutan singkatan yang ganti-ganti melulu tapi keren dari pemerintah), saya pun keluar dari bubble dan menghirup oksigen dari dunia nyata lagi. So, here I am now guys! And there you are. Apakah karya seni kita sama seperti yang kita tulis sebelum pandemi? Kalau berbeda, apakah lebih baik? Lebih baik untuk siapa?
Pas di dalam bubble, integritas artistik yg kerja, pas di pasar, strategi bisnis yg kerja. Gitu deh
Status itu, terakhir dikomentari oleh sastrawan terkemuka Minang, Muhammad Subhan :
Setuju, Mas. Seniman perlu masuk ‘bubble’, tapi masalahnya seringkali ‘bubble’ itu berubah jadi menara gading. Si seniman betah berlama-lama di dalamnya, merasa “aman” dan “nyaman”, tapi lupa keluar dan berinteraksi dengan realitas yang lebih luas. Kalau terlalu lama di luar ‘bubble’, karya bisa larut jadi sekadar komoditas pasar. Tapi kalau terlalu lama di dalam ‘bubble’, karya jadi gema yang hanya didengar sendiri. Jadi tantangannya bukan sekadar ‘balance’, melainkan bagaimana menghadirkan karya yang tetap punya kedalaman estetik, tapi sekaligus relevan bagi khalayak yang lebih luas, bukan hanya audiens sesama seniman.
Nah, mau ikutan perdebatan seru ini? Silakan ! Yang penting enjoy, be inspired and be knowledgeable !
The post Rangkuman Kehebohan Musik Klasik dan Sastra Belakangan Ini! first appeared on Kita Anak Negeri.]]>