Deprecated: Optional parameter $type declared before required parameter $wrapper is implicitly treated as a required parameter in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php on line 145

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetExists($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetExists(mixed $offset): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 309

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetGet($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetGet(mixed $offset): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 317

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetSet($k, $v) should either be compatible with ArrayAccess::offsetSet(mixed $offset, mixed $value): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 301

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetUnset($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetUnset(mixed $offset): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 313

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::current() should either be compatible with Iterator::current(): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 328

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::next() should either be compatible with Iterator::next(): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 339

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::key() should either be compatible with Iterator::key(): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 350

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::valid() should either be compatible with Iterator::valid(): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 362

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::rewind() should either be compatible with Iterator::rewind(): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 375

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::count() should either be compatible with Countable::count(): int, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 389

Deprecated: Creation of dynamic property CF7_Material_Design_Admin_Page::$live_preview_url is deprecated in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/v1/admin/cf7-material-design-page.php on line 31

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php:145) in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/all-in-one-seo-pack/app/Common/Meta/Robots.php on line 89

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php:145) in /home/kitaanak/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
Pilihan KITA | Kita Anak Negeri https://kitaanaknegeri.com Komunitas Ilmu Tata Nada Thu, 04 Oct 2018 07:09:30 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.7 3 Tips Jitu Manggung Di Konser Besar https://kitaanaknegeri.com/3-tips-jitu-manggung-di-konser-besar/ Thu, 04 Oct 2018 06:54:53 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=27432 Mau band lo main di konser gede? ikuti 3 tips ini!

The post 3 Tips Jitu Manggung Di Konser Besar first appeared on Kita Anak Negeri.]]>

Jika “sesuatu” yang diketahui banyak orang kita sebut rahasia umum, maka mari kita sepakati kalau manggung di konser besar adalah cita-cita umum bagi para musisi. Sampai di sini sepakat?

Oke mari kita lanjut. Bagi beberapa musisi, bisa bermain di konser-konser besar adalah salah satu impian dan sebuah pencapaian yang harus-wajib-kudu diwujudkan! Gimana nggak, musik lo bakal didengar secara langsung oleh ribuan penonton. Nama band lo akan tertera dalam satu poster dengan band-band kenamaan lainnya dan juga bisa jadi, bakal satu panggung dengan musisi idola.

Untuk mencapai semua itu, gue punya beberapa tips yang akan membantu lo (semoga) dalam per-band-an ini, yok mari:

1. Band lo kudu punya marketing yang cihuy!

Nah lho, kok marketing? Begini, jika target lo dalam nge-band adalah untuk berkarya dan ingin didengar banyak orang, maka peran marketing sangat vital. Namun jangan lupa kualitas musik, genre, sound dan originalitas karya lo penting juga. Nah peran dari marketing ini yang akan menentukan band lo diterima di industri dengan cepat atau nggak. Ada banyak cara bisa dengan membawa band lo dari panggung ke panggung, interview radio, hingga promosi di sosial media. Semakin dekat bukan dengan panggung impian lo? Nah buruan cari deh orang macam ini.

2. Sering-seringin kumpul komunitas

Banyak banget yang bisa lo ambil dari kumpul-kumpul komunitas.  Teman baru, ilmu baru dan juga info-info penting tentang acara musik bisa lo dapetin.  Gak jarang ada juga komunitas yang menyediakan open stage,  semisal kalo lo anak Jaksel, di sana ada Kios Ojo Keos. Kalau lo anak Tanggerang pasti tau Earhouse dong. Di  Bekasi? Ada Kedubes bekasi.  Beruntuglah kalian yang tinggal di Depok, karena kalian punya KITA Anak Negeri.  Masih banyak lagi yang belum gue sebut.

Nah tempat-tempat di atas wajib banget lo manfaatkan buat sekedar tes materi baru atau melatih mental lo diatas panggung.

3. Manfaatkan sosial media lo dengan maksimal

Selain buat cari gebetan, stalking-stalking selebgram macam Enya blanco dan Anya Geraldine. Sosial media juga bisa lo manfaatkan buat cari info-info panggung terdekat. Karena di era digital ini pihak penyelenggara event biasanya akan lebih gencar mempromosikan event mereka lewat sosial media (sotoy). Tidak jarang juga event besar membuka audisi lewat sosial media lho, jadi setelah ini lo wajib banget tuh follow akun-akun event.

Nah itu dia 3 tips jitu supaya band lo bisa manggung di konser yang besar dari gue, cukup gak? Jika kurang mari kita tambah dan diskusikan di kolom komentar. Semoga bermanfaat! cioo

The post 3 Tips Jitu Manggung Di Konser Besar first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Avril Lavigne yang Asli Sudah Wafat dan yang Kita Kenal Selama Ini Adalah Versi Palsunya https://kitaanaknegeri.com/avril-lavigne-yang-asli-sudah-wafat-dan-yang-kita-kenal-selama-ini-adalah-versi-palsunya/ Thu, 11 Jan 2018 09:59:58 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=26348

Kadang, orang-orang memang kurang kerjaan. Hobi banget bikin teori konspirasi aneh-aneh. Seperti konspirasi tentang Avril Lavigne berikut. Katanya, Avril yang asli sudah meninggal pada 2003. Dan Avril yang dunia kenal sekarang adalah Melissa Vandella yang menyamar. Si Melissa ini semacam doppelganger-nya Avril gitu.

Teori konspirasi ini muncul pada sebuah fansite di Brazil pada 2003. Awalnya mungkin terdengar konyol, tapi tahun demi tahun kemudian bukti-bukti yang mendukung teori ini makin banyak. Untuk memahami betapa dahsyatnya teori ini, mari kita tilik sedikit perjalanan karir Avril.

Masih ingat sama lagu di atas? Complicated’ adalah salah satu single dari album debut Avril berjudul Let Go yang rilis tahun 2002. Walaupun album pertama, ‘Let Go’ langsung meledak. Di Amerika aja album ini terjual sebanyak 6,9 juta kopi. Setahun kemudian ‘Let Go’ juga berhasil masuk nominasi Grammy kategori Best Pop Album, walaupun gak menang sih.

Popularitas yang tiba-tiba meledak membuat sosok Avril diidolakan. Kemana-mana dikejar penggemar dan paparazzi. Karena gak suka berurusan dengan paparazzi resek, Avril menyewa jasa body double buat menyamar jadi dirinya. Yap, body double itu adalah Melissa. Karena kemana-mana berdua, Avril dan Melissa jadi teman dekat.

Image module

Buat Avril, berhasil bikin album debut yang bagus gak sepenuhnya baik. Soalnya ekspektasi orang-orang buat album selanjutnya jadi tinggi banget. Pusing banget gak sih? Avril iya. Sudah gitu, gak lama setelah ‘Let Go’ rilis, kakeknya Avril yang ia sayangi meninggal dunia. Semua ini membikin Avril depresi berat.

Akhirnya, Avril memutuskan mengakhiri hidupnya. Kata teori ini, keluarga dan perusahaan rekaman sepakat tutup mulut. Pada titik inilah sosok Avril si penyanyi diambil alih Melissa si body double.

Image module

Setahun pasca ‘kematian’ Avril yang asli, album kedua ‘Under My Skin’ rilis. Album ini ternyata sama sekali gak kalah tenar dari ‘Let Go’. Menariknya, di ‘Under My Skin’ ada petunjuk-petunjuk kecil yang menandakan ‘kematian’ Avril, terutama pada lirik lagu-lagu seperti ‘My Happy Ending’, ‘Nobody’s Home’, dan ‘Slipped Away’. Coba googling liriknya deh kalo penasaran.

Pencetus teori konspirasi ini menyadari ada perbedaan mendasar antara Avril yang dulu dengan yang sekarang. Terutama dari segi fisik. Liat aja gambar di bawah ini.

Image module
Image module

Kebetulan? Mana mungkin. Kalo kamu masih gak percaya, bandingin aja lagu-lagu Avril zaman ‘Let Go’ sama lagu-lagunya yang sekarang kayak ‘Here’s To Never Growing Up’ atau ‘Hello Kitty’. Yap, jauh banget. JAUH BANGET! Gak mungkin mereka orang yang sama, ya kan?

Eh btw, pembuat teori konspirasi ini melalui fansite yang sama sudah mengakui bahwa seluruh teori kematian Avril cuma bohong belaka. Dia melakukan hal ini demi membuktikan bahwa orang-orang terlalu gampang percaya sama kabar bohong yang direkayasa biar seolah masuk akal.

Emangnya enak dibo’ongin?! AHAHAHAHAHAHAHA!!

The post Avril Lavigne yang Asli Sudah Wafat dan yang Kita Kenal Selama Ini Adalah Versi Palsunya first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Siapa Itu George Crumb dan Mengapa Komposisi Buatannya Aneh-Aneh? https://kitaanaknegeri.com/siapa-itu-george-crumb-dan-mengapa-komposisi-buatannya-aneh-aneh/ Thu, 12 Oct 2017 11:25:55 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=26010

Tidak salah juga orang yang bilang kegilaan dan kejeniusan itu beda tipis. Setidaknya saya jadi setuju sehabis mendengar karya-karyanya George Crumb.

Kamu belum pernah dengar nama George Crumb? Sebagai komposer musik klasik kontemporer, namanya mungkin kalah tenar dibanding John Williams yang langgangan nyekoring film apa saja ataupun Joseph Bishara yang langganan nyekoring film horror. Apa daya, musiknya yang teramat eksperimental membuat karya George Crumb tak bisa nyantol di kepala sembarang orang.

Kebanyakan orang yang kenal George Crumb tahu musiknya dari film horror The Exorcist yang rilis tahun 1973 lalu. Itu lho, yang setannya dijuluki killerjo itu. Masih ingat kan adegan ikonik di mana si setan busuk ini menuruni tangga dengan posisi kayang? Film sakit memang cocoknya diselipi musik yang sakit pula.

Fragmen yang muncul dalam The Exorcist berjudul Black Angels. Komposisi ini bolehlah dibilang karyanya George Crumb yang paling terkenal. Isinya gesekan-gesekan biola kagak jelas yang bikin kuping sakit. O ya, ada juga suara gelas digesek pakai string bow, dan tak lupa suara gong yang gak ada faedahnya selain bikin lagunya jadi berisik.

Oke, deskripsinya terlalu norak sih. Coba kamu dengar sendiri saja. Kedengaran lumayan keren kok.

Komposisi ini juga menginfluence musik pembuka di film Insidious kalau kamu engeh.

Komposer kelahiran West Virginia, US tahun 1929 ini memang menjadikan pendekatan avant-garde sebagai gaya dalam mencipta musik. Kalau kamu pikir Black Angels sudah aneh betul, tunggu sampai kamu mendengar karya-karyanya yang lain. Hebat deh kalo nggak bingung.

Nah, untuk mengakhiri artikel ini mari kita saksikan sebuah video cover dari Black Angels. Perhatikan aja betapa yang main jadi kayak orang stress semua.

Sumber referensi & foto : Wikipedia, Sarahshatz.photoshelter.com

Baca Juga
Per Nørgård, Komponis Denmark Yang Terinspirasi Musik Asia

Rasanya gatal membaca obituari yang ditulis kak Ananda Sukarlan tentang Per Norgard, dan sama sekali tidak membahas tentang kehidupan dan karya-karya maestro Denmark ini (karena memang bukan itu tujuannya). Memang

Share
The post Siapa Itu George Crumb dan Mengapa Komposisi Buatannya Aneh-Aneh? first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
KITA Anak Negeri Goes to Margocity Mei 2017 : Pecah Bukan Main! https://kitaanaknegeri.com/kita-anak-negeri-goes-to-margocity-mei-2017-pecah-bukan-main/ Mon, 15 May 2017 11:28:41 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=24954

Kamis (11/5) lalu, KITA Anak Negeri dan Margocity kembali berkolaborasi menggelar pagelaran KITA Anak Negeri Goes to Margocity. Seperti pagelaran yang diadakan bulan lalu (13/4), KITA Anak Negeri Goes To Margocity juga melibatkan pegiat seni musik dan komunitas lokal se-Jabodetabek.

Kali ini, pegiat musik yang terlibat adalah; Titik Biru, Morsecode, Nomads, dan Vespunk. Selain itu, ada juga penampilan dari murid-murid Divisi Vokal dan Drum Kid Lembaga Pendidikan Musik (LPM) KITA Anak Negeri. Komunitas Pecinta Sugar Glider Indonesia (KPSGI) Regional Depok juga ikut meramaikan acara dengan memamerkan hewan sugar glider yang imut-imut.

Image module

Titik Biru dan Morsecode, keduanya adalah band berlairan rock yang bertanggung jawab memeriahkan suasana begitu pagelaran dimulai. Dengan lagu-lagu yang menghentak, mereka menjadi sebuah tontonan yang memikat banyak orang. Energi yang sama juga berhasil dijaga lewat penampilan Divisi Vokal LPM KITA Anak Negeri. Penampilan mereka dibagi ke dalam dua bentuk penampilan. Pertama format vokal grup yang juga melibatkan anak-anak dari Divisi Kelas Nol LPM KITA Anak Negeri. Dan yang kedua dengan format duet antara sesama murid Divisi Vokal, Jenaya dan Bintang yang menyanyikan lagu Beauty And The Beast milik Celine Dion dan Peabo Bryson.

Image module
Image module

Divisi Drum Kid juga tak kalah lihai memeriahkan acara ini. Menampilkan tiga murid terbaik; Gideon, Zefanya, dan Dhero. Mereka bertiga tampil bergantian dalam format full band dengan membawakan lagu-lagu populer seperti Like A Stone-nya Audioslave, Californication-nya Red Hot Chili Peppers, sampai hits milik The Rasmus yang berjudul In The Shadows.

Di sela-sela pertunjukkan, KPSGI sempat mengadakan sesi tanya-jawab seputar sugar glider. Mereka membahas pengetahuan dasar mengenai sugar glider yang patut dipahami bagi orang yang memelihara/ingin memelihara hewan mungil ini. Mulai dari proses mengandung dan melahirkan, pola hidup, makanan yang boleh dikonsumsi, sampai watak lelaku sugar glider mereka bahas.

Image module
Image module

Tampil belakangan, Nomads yang mengusung musik akustik ala flamenco menyejukkan suasana sore hari. Dengan petikan gitar akustik, iringan bass, dan gesekan biola, mereka menciptakan suasana sentimentil yang cocok buat melepas penat sehabis keliling Margocity seharian. Meski begitu, semua kedamaian itu harus berakhir begitu selepas azan Maghrib, Vespunk, band punk maniak Vespa ini naik dan ‘mengacak-acak’ seisi panggung dengan gaya urakan mereka. Yang tentu saja membikin seisi Pedestrian Margocity lompat-lompat sambil terbawa hentakan musik.

Jadilah, petang itu KITA Anak Negeri Goes to Margocity edisi Mei 2017 berakhir dengan teriakan “Satu Vespa sejuta saudara” yang diulang-ulang sampai tenggorokan sakit. Pecah!

Baca Juga
FAQ Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026

Tidak terasa, Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan! Seperti yang bisa dilihat di Instagram @pianonusantaraplus , KPN+ 2026 akan dimulai di Medan akhir Agustus, dan tahun ini tetap terselenggara

Share
Esai Ikhsan Risfandi “IRZI” Merespon Puisinya “Lantaran” Yang Saya Obrak-Abrik

Oleh Ananda Sukarlan Esai pendek ini ditulis oleh penyair Ikhsan Risfandi “Irzi” sebagai status Facebook-nya setelah saya kirimi partitur saya. Saya juga sematkan komentar penyair Tan Lioe Ie di bawahnya. 

Share
Belajar Polifoni, Penting Aja atau Penting Banget? 

sebuah tulisan Ananda Sukarlan Selasa 27 Januari lalu saya konser sekaligus mengumumkan tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, di Four Seasons Jakarta. Acara itu hanya terbuka untuk para

Share
Sebuah Tembang Puitik Bisa Dinyanyikan oleh Lebih dari Satu Vokalis

tulisan Ananda Sukarlan Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca :  https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/) Saya ingin

Share
Jangan Lelah Mencintai (Tembang Puitik) Indonesia

oleh Ananda Sukarlan Wah, nggak nyangka sih penyair kondang Madiun, Fileski Walidha Tanjung langsung menulis esai gara-gara saya WhatsApp tentang niat (yang sebetulnya sudah separo tertulis) membuat tembang puitik dari

Share
The post KITA Anak Negeri Goes to Margocity Mei 2017 : Pecah Bukan Main! first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Konser Piano Klasik 2017 : Ketika Guru Unjuk Kebolehan https://kitaanaknegeri.com/konser-piano-klasik-2017-ketika-guru-unjuk-kebolehan/ Sat, 06 May 2017 10:43:03 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=24700

Siang itu, terlihat hiruk pikuk di sekitar Gedung KITA Anak Negeri. Ada yang mondar-mandir naik-turun dari lantai ke lantai, ada yang duduk-duduk menunggu di resto bawah, ada juga yang sibuk menge-set alat-alat di hall lantai tiga. Rupanya, hari itu, Minggu (30/4), adalah hari pagelaran Konser Piano Klasik 2017, sebuah agenda rutin dari Divisi Piano Klasik Lembaga Pendidikan Musik (LPM) KITA Anak Negeri. Kali ini dengan mengusung tema ‘Konser Guru’.

Di dalam hall lantai tiga, dua orang perempuan berpakaian rapih serba hitam tanpa sengaja memasang tampang gugup. Setelah check sound dan pemanasan sedikit dengan grand piano, mereka berdua duduk dan berusaha mengobrol, mencoba menenangkan kegugupan masing-masing barangkali. Dua perempuan ini adalah Asti Fajriani dan Karina Andjani, dua dari total lima orang guru piano klasik di LPM KITA Anak Negeri. Pada Konser Piano Klasik tahun ini, mereka bersama sang kepala program studi, Ananda Sukarlan, didaulat menjadi line-up performer. Bukan sembarang gugup, gugupnya mereka adalah efek samping dari antusiasme meluap-luap, ditambah tanggung jawab diri untuk tampil memukau, demi menyukseskan resital ini.

Beberapa menit berlalu sampai Ananda Sukarlan datang, konser pun akhirnya dimulai dengan penampilan pertama dari mereka berdua yang berkolaborasi membawakan Petite Suite for 4 Hands milik Claude Debussy, bagian En Bateau dan Cortege. Setelah menghabiskan lagu ini dengan epik, mereka berpisah. Karina turun dari mini-stage menyisakan Asti bersama lembaran partitur dan grand piano. Ia pun mulai memainkan komposisi milik Ananda Sukarlan dari buku Alicia’s First Piano Book No. 10, berjudul Falling In Love. Setelah Asti menandaskan lagu ini, giliran Karina yang gantian duduk di mini-stage sendirian. Ia memainkan komposisi yang diambil dari buku yang sama, berjudul Nocturne for a Somnambulist.

Image module

Karina lanjut membawakan tiga komposisi lagi, dua diantaranya milik Frédéric Chopin, Waltz op. 64 no. 1 in D Flat Major dan Waltz op. 64 no. 2 in C Sharp Minor. Yang ketiga adalah Reverie milik Claude Debussy. Lagu-lagu ini ia mainkan satu per satu dengan penghayatan tingkat ekstrim, presisi bukan main, serta keindahan yang luar biasa menohok jiwa. Para penonton yang kebanyakan adalah orang tua murid pun kagum dan seketika sadar bahwa mereka tidak salah pilih ketika memutuskan untuk menitipkan buah hati mereka untuk belajar piano dengan Karina.

Puas setelah berhasil mengesankan orang seisi hall, Karina turun dari mini-stage dengan senyum lebar. Giliran Asti buat unjuk kebolehan pun tiba.

Image module
Image module

Asti mengawali rangkaian penampilannya dengan (lagi-lagi) komposisi milik Claude Debussy, yang kali ini berjudul Clair de Lune. Berlanjut ke Somewhere Over The Rainbow milik Harold Arlen dan Yip Harburg. Terakhir, ia membawakan komposisi milik dan ciptaannya sendiri yang berjudul Silence Before The Dark. Personanya yang misterius di atas panggung membuat kebanyakan penonton sampai dibuat ‘lupa bernapas’ saat menyimak permainannya. Rumit, menghanyutkan, kadang membikin pilu, kadang agak seram, namun yang jelas luar biasa. Melalui rangkaian penampilan ini, terutama pada Silence Before The Dark, Asti tidak hanya membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pianis, namun juga mempertontonkan bakatnya sebagai komposer lewat komposisinya yang kelewat bagus. Setidaknya dari perspektif orang awam (termasuk penulis) komposisinya tidak kalah berkelas dari komposisi-komposisi lain milik komposer-komposer klasik terdahulu yang dibawakan di resital ini.

Image module

Penampilan dua pianis perempuan muda berbakat tadi pun selesai. Gantian, kini saatnya yang sudah senior unjuk wawasan dan pengalaman. Ananda Sukarlan, salah satu pianis terbaik Indonesia yang sudah membesarkan namanya kemana-mana, memberikan konsultasi terbuka secara gratis kepada orang tua murid dan penonton yang hadir. Segala macam pertanyaan mulai dari yang paling simpel seperti cara-cara memotivasi anak dalam mengajar piano, sampai yang rumit seperti perbandingan musik klasik dan sejarahnya dapat ia jawab dengan ungkapan yang mudah dipahami. Kadang-kadang, kalau yang di depan kita adalah seorang maestro, tak perlu bermain sekalipun, mendengarkannya berbicara ngalor-ngidul saja sudah menjadi tontonan yang bergizi bagi pikiran dan menghibur bagi jiwa. Setelah dua orang sebelumnya mendemonstrasikan piano klasik secara ‘pertunjukan’, Ananda Sukarlan dengan tak kalah elegan mendemonstrasikan piano klasik secara ‘teoritis’ dan ’empirik’. Keren sekali ya?

The post Konser Piano Klasik 2017 : Ketika Guru Unjuk Kebolehan first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Musik Sebagai Profesi, Mungkinkah? https://kitaanaknegeri.com/musik-sebagai-profesi-mungkinkah/ Thu, 04 May 2017 10:43:42 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=24674
Image module

Profesi bukan hanya guru, dokter, atau birokrat pemerintah. Musisi pun juga adalah sebuah profesi, yang seperti profesi-profesi tadi, juga memiliki kaidah-kaidah professionalitas sendiri. Kepopuleran musik sebagai sebuah profesi barangkali masih kalah tenar dibandingkan profesi-profesi sebelumnya, untuk itulah sebuah pemahaman akan hakikat ini perlu dibangun.

Syamsul Rizal Ikhwan, salah satu instruktur kelas Cello di Lembaga Pendidikan Musik (LPM) KITA Anak negeri, berpendapat bahwa dahulu, bermusik belum menjadi kegiatan mencari nafkah yang menggiurkan. Namun, semakin berkembangnya zaman dan cara pandang masyarakat, juga berkat banyaknya alternatif fokus kerja dalam bermusik seperti menjadi player, pencipta musik (musisi), komposer, pengajar, dan yang lainnya, bermusik pun mulai dilihat sebagai sebuah bidang yang menjanjikan. “… bermusik adalah kegiatan yang membutuhkan ilmu dan ketrampilan yang cukup; dan bahwa produknya adalah industri musik yang berkualitas. Itu hanya dapat dikerjakan dan dihasilkan oleh sosok2 yg profesional. Pada titik ini, jelaslah bahwa musisi adalah sebuah profesi,” terang pria yang biasa disapa Syamsul ini saat diwawancarai melalui pesan chat pada Rabu (26/4) siang.

Lantas, secara profesional, apa pertimbangan yang jelas agar seseorang dapat disebut sebagai seorang pemusik? Apakah sekadar menggonjreng gitar sampai menelurkan sebaris melodi orisinil buatan sendiri, yang notabene adalah kegaiatan musisi, sudah menjadikanmu sebagai orang yang berprofesi sebagai seorang musisi? “Betul bahwa aktifitas-aktifitas musikal yang dilakukan itu adalah merupakan ciri yang menunjukkan bahwa seseorang adalah pemusik atau musisi,” kata pria yang bergelar Sarjana Seni ini. Namun, lebih dari itu Syamsul menjelaskan bahwa yang pantas disebut pemusik profesional adalah mereka yang terus-menerus merawat, mengembangkan, dan memperbarui permainan musik mereka.

Image module

Yang disayangkan, masih subur di masyarakat anggapan bahwa bermain musik cuma sekadar kegiatan sampingan yang tidak ditekuni serius. Lebih enak dikatakan hobi yang bisa menghasilkan daripada sebuah pekerjaan nyata. “Anggapan mereka itu berangkat dari pemahaman yang salah. Mereka bilang kita nyari duit dari musik. Tapi pada saat yang sama mereka juga bilang kita gak ada kerjaan. Lucu kan,” ungkap Syamsul, tertawa.

Meski begitu, Syamsul mengaku bahwa pengakuan dari masyarakat bukan masalah utama. Bahkan, bukan masalah sama sekali. “… harapan kita tentu tidak berhenti di situ. Cita-cita kita bukan ingin disebut orang sebagai musisi. Selayaknya kita menggantungkan cita-cita dan harapan bahwa kita ingin mempersembahkan sesuatu kepada khalayak dengan sesedikit apa pun yg kita bisa melalui profesi sebagai musisi,” jelasnya.

Di sisi lain, Syamsul juga berpendapat bahwa pemerintah juga memiliki peran penting dalam upaya pengakuan pemusik sebagai sebuah profesi. Ia mengimbau kepada seluruh pemusik Indonesia untuk menunjukkan potensi yang dimiliki masing-masing. Demi meyakinkan pemerintah bahwa pemusik layak dan mampu hidup. Lebih dari itu, juga mampu memberikan baktinya bagi nusa dan bangsa. “… pemerintah telah membuat atau memberikan peluang yang sangat terbuka kepada para musisi untuk ikut serta dalam memajukan negeri ini di jalur estetika. Terpulang kepada kita para musisi untuk menjaga dan menjalankan amanah itu dengan baik dan berkualitas,” tuturnya.

Syamsul berharap, dengan kesempatan luas yang sudah dimungkinkan zaman kepada para pemusik negeri, baik dari segi teknologi pendukung musik, sarana publikasi, juga pemasaran, pemusik dapat memanfaatkan kemudahan-kemudahan ini dengan sebaik-baiknya. Sambil tentunya, tidak lupa untuk menjaga aspek profesionalitas. “… sambil senantiasa menjalin komunikasi yang baik dengan semua komunitas terkait, agar terbangun suasana yang sehat dalam jalinan kerjasama yang aktif, produktif, dan saling mendukung. Satu lagi, jaga kesehatan lahir-batin!” tutupnya.

Sumber foto : Dok. KITA Anak Negeri dan musicalprom.com

Baca Juga
The post Musik Sebagai Profesi, Mungkinkah? first appeared on Kita Anak Negeri.]]>