Deprecated: Optional parameter $type declared before required parameter $wrapper is implicitly treated as a required parameter in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php on line 145

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetExists($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetExists(mixed $offset): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 309

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetGet($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetGet(mixed $offset): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 317

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetSet($k, $v) should either be compatible with ArrayAccess::offsetSet(mixed $offset, mixed $value): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 301

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetUnset($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetUnset(mixed $offset): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 313

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::current() should either be compatible with Iterator::current(): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 328

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::next() should either be compatible with Iterator::next(): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 339

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::key() should either be compatible with Iterator::key(): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 350

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::valid() should either be compatible with Iterator::valid(): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 362

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::rewind() should either be compatible with Iterator::rewind(): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 375

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::count() should either be compatible with Countable::count(): int, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 389

Deprecated: Creation of dynamic property CF7_Material_Design_Admin_Page::$live_preview_url is deprecated in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/v1/admin/cf7-material-design-page.php on line 31

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php:145) in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/all-in-one-seo-pack/app/Common/Meta/Robots.php on line 89

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php:145) in /home/kitaanak/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
Piano Klasik | Kita Anak Negeri https://kitaanaknegeri.com Komunitas Ilmu Tata Nada Thu, 07 May 2026 10:55:27 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.7 Surat Terbuka Kepada Para Pendidik Musik Privat & Sekolah Musik seluruh Nusantara dari Ananda Sukarlan https://kitaanaknegeri.com/surat-terbuka-kepada-para-pendidik-musik-privat-sekolah-musik-seluruh-nusantara/ Thu, 07 May 2026 10:01:24 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=32721 Dear para kolega pecinta musik Nusantara,   Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan, pasti para guru musik dan calon peserta, baik pemain instrumen apa saja maupun vokalis sudah mulai

The post Surat Terbuka Kepada Para Pendidik Musik Privat & Sekolah Musik seluruh Nusantara dari Ananda Sukarlan first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Dear para kolega pecinta musik Nusantara,

  Kompetisi Piano Nusantara Plus 2026 sudah diluncurkan, pasti para guru musik dan calon peserta, baik pemain instrumen apa saja maupun vokalis sudah mulai bersiap-siap dan kami para penyelenggara ingin sekedar mengingatkan “hasil tidak mengkhianati usaha” kepada anda semua, para pemenang. Semua peserta bukan hanya akan menjadi pemenang kompetisi musik, tapi pemenang dalam kehidupan. Soalnya, seorang pemenang adalah seseorang yang mengenali talenta yang diberikan Tuhan, mendedikasikan hidupnya dengan fokus untuk mengembangkannya menjadi ketrampilan, dan menggunakan ketrampilan ini untuk meraih cita-citanya yang nantinya akan berguna buat orang banyak (yang akan lebih baik lagi kalau bukan hanya untuk orang-orang terdekatnya yang berpendapat, berpandangan politik atau beragama yang sama tapi juga yang berbeda bahkan bertolak belakang).

 Ini adalah kompetisi untuk membuat kita semua jadi lebih baik, bukan hanya ajang guru-guru rebutan murid atau berusaha membuat kelompok sendiri untuk menjatuhkan kelompok (baca: sekolah musik) yang lain. Kompetisi ini ditujukan untuk gen Z dan gen alpha yang katanya lebih tidak fokus daripada generasi milenial karena adanya social media dan gadgets. Gen Z juga (katanya) mencetak sejarah peradaban manusia karena pertama kalinya hasil tes IQ nya lebih rendah daripada generasi sebelumnya (yaitu gen milenial). Gen Z juga (katanya) attention span-nya juga lebih rendah tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja bahkan membuka lapangan pekerjaan baru, lebih profesional di lapangan kerja baru ini, lebih toleran dan tentu saja lebih ramah teknologi. Menurut saya, inilah generasi paling berpengaruh, unik, dan beragam dari yang pernah ada dalam sejarah manusia. Di gen Z dan alpha lah kita menaruh harapan bahwa musik sastra (dan kesenian pada umumnya) Indonesia bisa bersanding dengan musik negara-negara lain yang sudah lebih dahulu maju, atau malah yang tidak bisa mempertahankan supremasinya seperti di beberapa negara asalnya di Eropa. Gen Z dan alpha lah yang akan mengerti bagaimana mengimplementasikan musik klasik Indonesia untuk kemakmuran dan menaikkan kecerdasan bangsa di saat jurang perbedaan semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin, yang berkuasa dan yang ditindas, yang korupsi dan yang kerja keras dengan jujur, yang progresif dan yang konservatif, yang terdidik dan yang tertinggal karena termakan tipuan atau iming-iming surga baik di akhirat maupun di kehidupan di saat ini dari ajaran-ajaran agama, aliran politik dan dogma-dogma lain yang sesat. Ini semua terjadi, dan harus kita perjuangkan di era social media dengan algoritma jahat yang merajai kehidupan kita serta media cetak yang besok lusa akan punah.

Wacana penutupan program studi yang tidak relevan dengan industri oleh pemerintah berpotensi mengancam kemampuan berpikir kritis dan fondasi sosial budaya generasi. Harusnya budaya, bahasa, dan seni bidang apapun justru harus diberikan ruang lebih untuk berekspresi, sehingga setiap perubahan sosial masyarakat dapat direkam dengan baik sebagai dinamika yang mendukung supremasi budaya Indonesia sehingga justru sangat relevan dengan yang dibutuhkan oleh industri dan memiliki potensi besar dalam menggerakkan roda perekonomian negara.

Saat anda melangkah ke panggung di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, ingatlah bahwa setiap nada yang anda mainkan atau nyanyikan membawa esensi dari dedikasi dan ketekunan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Anda tidak hanya menampilkan sebuah karya—Anda berbagi suara unik anda dengan dunia, suara yang dibentuk oleh disiplin, ekspresi dan keberanian untuk terus berlatih bahkan ketika itu terasa sulit. Biarkan musik mengalir melalui anda tanpa rasa takut; penilaian juri mungkin mengukur teknik, tetapi pertumbuhan, ketahanan, dan kecintaan anda pada musik adalah yang benar-benar mendefinisikan momen ini. 

Dari sini, seni berperan penting dalam diplomasi yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Produk budaya Indonesia sudah seharusnya memiliki potensi mengingatkan posisi strategis negara Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, produk budaya Indonesia berpotensi mendorong perekonomian negara. Akan tetapi, pertanyaannya ada pada bagaimana produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas. Di sinilah para seniman memegang peranan penting, bukan hanya dari segi teknik, tapi juga dari karakter dan identitas yang kuat.

 Sometimes we win, sometimes we learn. Ini bukan hanya berlaku untuk para peserta, tapi juga guru-guru musik mereka, panitya, mitra penyelenggara dan juri-juri di KPN+. Baik dalam winning atau learning, anda sudah menjadi juara karena berani berkompetisi, dan pengalaman ini hanya akan membuat kemampuan artistik anda bersinar lebih terang. Percayalah pada persiapanmu, bermain dan bernyanyilah dengan sepenuh hati, dan nikmati setiap detik yang indah—dirimu di masa depan akan bangga atas dirimu di saat ini.

Dan di Kompetisi Piano Nusantara Plus ini, we are all winners, tapi juga we are all learners, trying to be better than we are now.

Sampai jumpa mulai Agustus 2026 di Medan, Bandung, Lampung, Bekasi, Bandung, Salatiga, Tangerang, Yogyakarta, Balikpapan, Bali dan terakhir di Jakarta ! Terimakasih para mitra penyelenggara regional yang telah bekerja keras mencetak gen Z dan alpha yang lebih berkualitas ! 

pianistically yours, Ananda Sukarlan

twitter & IG : @anandasukarlan

The post Surat Terbuka Kepada Para Pendidik Musik Privat & Sekolah Musik seluruh Nusantara dari Ananda Sukarlan first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Dua Karya Baru Saya Untuk Piano, Satu Cewek Satu Cowok https://kitaanaknegeri.com/dua-karya-baru-saya-untuk-piano-satu-cewek-satu-cowok/ Mon, 30 Mar 2026 07:25:32 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=32693 Tulisan Ananda Sukarlan Hari Minggu 5 April nanti saya akan memperdanakan dua karya baru untuk piano dengan karakter sangat berbeda. Konser itu adalah “Melodies without Borders”, dimana saya akan tampil

The post Dua Karya Baru Saya Untuk Piano, Satu Cewek Satu Cowok first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Tulisan Ananda Sukarlan

Hari Minggu 5 April nanti saya akan memperdanakan dua karya baru untuk piano dengan karakter sangat berbeda. Konser itu adalah “Melodies without Borders”, dimana saya akan tampil bersama dua pianis dengan disabilitas, yaitu Takeshi Kakehashi (tunanetra, dari Jepang) dan Michael Anthony Kwok (selain tunanetra juga penyandang autis, pemenang Ananda Sukarlan Award 2025) dan soprano Mariska Setiawan. Dengan Mariska saya akan mempersembahkan dua tembang puitik baru juga, dari puisi Nissa Rengganis dan Hening Wicara, selain karya-karya yang sudah sering ia nyanyikan dari puisi Judith Wright, Miguel Cervantes dan Joko Pinurbo. Konser akan berlangsung di Soehanna Hall (Energy Building, SCBD) pukul 3 sore. Selain karya baru saya, saya juga akan memainkan karya Toru Takemitsu (Jepang, 1930-1996) yang telah menjadi salah satu tokoh yang membuka mata saya sebagai seorang komponis. 

Saya mulai dengan yang pendek dulu, yaitu “Serenata for Srinata”. Ini adalah sebuah “kado ulangtahun” permintaan dari sang ibunda Srinata yang akan merayakan ultahnya ke 25, tanggal 11 April nanti. 

“Srinata, anak yg lama kami nanti & rindukan dengan harapan, perjuangan dan doa.  Di tahun ke-8 perkawinan kami (‘nyaris’ kami harus menjalani proses bayi tabung), dia akhirnya hadir dalam keluarga kecil kami.  Kehadirannya mengingatkan kami bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang punya makna”, demikian pesan Whatsapp sang ibunda kepada saya.

Karena saya mengenal Nata (panggilan kesayangannya) dan lebih lagi orangtuanya, tidak sulit bagi saya untuk menulis karya ini. Nah tapi ternyata ada kesulitan sendiri, mungkin karena sang ibunda, Karini Nugroho (yang by the way adalah kakak dari penulis Ayu Utami yang saya sangat idolakan) menyebut bahwa salah satu karya saya yang paling ia sukai adalah “Lonely Child”, “tapi jangan sedih seperti itu dong”, katanya. Lonely Child adalah karya saya yang sangat personal (seperti 80% dari karya saya yang lain!) yang fokus kepada … kepada …. ya apa lagi selain rasa kesendirian saya. Ada sedikit kesamaan saya dengan Nata, di mana dia pendiam dan suka menyendiri. Dia lebih beruntung karena dia bukan orang yang harus sering bersosialisasi dan bicara di depan publik, jadi dia tidak perlu sering ‘acting’ sebagai seorang extrovert. 

Jadilah dua karya, yang sampai saat ini (Senin, 30 Maret) belum saya tentukan, apakah menjadi Serenata no. 1 dan 2, dan kalaupun demikian, mana yang nomor 1 dan mana yang nomor 2. Salah satunya, yang lebih pendek (dibawah 3 menit) terpengaruh oleh “Lonely Child” tapi lebih ke karakter kedamaian (sesuai dengan judulnya yang berasal dari kata “serena” yang artinya damai), bukan kesendirian. 

(“Lonely Child” dimainkan oleh Ayunia Indri Saputro, pemenang ASA yang sedang mengambil gelar Doktor Musik di University of Michigan : 

Satu lagi adalah “Panggil Aku Kartini Saja”, yang sebetulnya sudah saya selesaikan akhir tahun lalu, tapi saya rasa ini adalah konser yang tepat untuk memperdanakannya, menyongsong Hari Kartini 21 April nanti.

Saya sudah membaca “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer sekitar tahun 2000-an. Lewat tulisannya, Pramoedya membuatku melihat Kartini bukan sebagai mitos, melainkan gadis pemberani yang benar-benar ingin memajukan bangsanya. Sangat menginspirasi untuk ditransformasi menjadi musik, dan memang saya sudah memiliki sketsa tentang musik yang ingin saya buat sejak saya membacanya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana supaya musik itu memiliki struktur yang koheren, dan tentu tidak terlalu panjang sehingga dapat dijadikan bahan untuk konser piano siapapun. Itu sebabnya musik saya — jika dihubungkan langsung dengan buku Pramoedya — tidak kronologis. Bahkan karya yang saya mainkan di konser yang diselenggarakan oleh Lions Club hari Minggu, 5 April nanti adalah mungkin “jilid pertama” dari karya-karya selanjutnya, yang mungkin bukan untuk piano solo.

Sebagai motif melodik, saya mengambil motif dari lagu “Ibu Kita Kartini” bagian depannya (bukan melodi lanjutannya karena ada kemiripan dengan lagu Manado “O Inani Keke” — sebuah kebetulan?). Itu pun sebetulnya motif semua orang, karena notnya adalah Do Re Mi Fa Sol, kemudian turun Mi Do. Sebuah motif yang sangat sederhana dan umum yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan.

Dari judul bukunya saja, saya bisa merasakan kerendahan hati Kartini. Sebelum membacanya, saya seperti kebanyakan orang lain: hanya tahu bahwa tanggal 21 April dirayakan sebagai Hari Kartini karena ia menulis surat-surat yang dikumpulkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.  Saya juga belum pernah membaca kumpulan 105 surat pribadinya itu. Lewat buku Pramoedya Ananta Toer ini, saya akhirnya mengenal Kartini lebih dekat sebagai manusia biasa.

“Panggil Aku Kartini Saja” kaya akan kedalaman emosi, drama sejarah, dan suara hati Kartini — bahan yang sempurna untuk diadaptasi ke musik. 

Pram memulai cerita dari kekalahan Perang Diponegoro dan politik tanam paksa yang menyengsarakan rakyat. Lalu ia jelaskan silsilah keluarga Kartini dari golongan bangsawan Jawa. Selanjutnya, kisah masa kecilnya, sekolah, hidup dalam pingitan (penyekapan), hingga ia bebas melihat dunia luar di Jepara. Saat dewasa, Kartini banyak membaca buku sebagai pelarian dari budaya pingitan Jawa. Ia melihat jurang besar antara orang pribumi dan Belanda: kemiskinan, sistem kasta, serta feodalisme yang membuatnya resah. Tapi ia juga mengagumi dunia Barat karena menguasai bahasa Belanda dan menemukan jalan kemajuan lewat bacaan. 

Kartini berjuang lewat seni: menulis, membatik dan ternyata juga melukis. Ia bahkan membantu membuat Jepara terkenal dengan ukiran kayunya di mata orang Belanda.

Di akhir buku, Pram ceritakan pandangan Kartini tentang Tuhan. Meski beragama Islam, ia terbuka pada ajaran agama lain (termasuk Injil), dan lebih menekankan kebajikan serta cinta. Ia sangat kritis, pintar mengamati, dan punya pikiran maju untuk perempuan di zamannya. 

Pramoedya mendorong pembaca untuk melihat Kartini sebagai manusia yang kompleks, penuh kekurangan, namun luar biasa berani, bukan sekadar ikon simbolis. Itu sebabnya karakter “maskulin” di akhir karya musik saya ; sewaktu menuliskannya, saya mengira bahwa bagian itu “megah”, tapi saat saya sedang mencobanya di piano saat ini, ternyata lebih berbunyi “maskulin” daripada “berani” ….. itulah misteri komposisi musik. Dan melalui musik saya sendiri saya jadi bisa menangkap karakter “maskulin” di Kartini menurut interpretasi Pramoedya.

Saya juga mengakhirinya dengan polifoni yang cukup kompleks, terinspirasi dari berbagai karakter Kartini. 

Buku ini dianggap sebagai salah satu karya non-fiksi/novelistik penting Pramoedya di luar novel-novel utamanya (seperti Kuartet Buru). Buku ini mencerminkan minatnya yang mendalam terhadap sejarah Indonesia, akar nasionalisme, dan peran para pemikir progresif. Banyak pembaca dan kritikus memuji buku ini karena membuat Kartini lebih mudah dipahami dan menginspirasi, sekaligus mengungkap tekanan sosial yang dihadapinya sebagai seorang wanita bangsawan Jawa di akhir masa kolonial.

Pramoedya menulis buku ini sebagai bentuk perlawanan yang disengaja terhadap citra Kartini yang resmi dan termitologikan yang dipromosikan dalam pendidikan Indonesia dan peringatan nasional (Hari Kartini pada 21 April). Dalam kata pengantarnya, Pram mengkritik bagaimana Kartini telah diubah menjadi sosok “mitos” atau “seperti dewi” yang jauh, yang mengurangi kebesarannya yang sebenarnya sebagai manusia biasa dengan perjuangan, kontradiksi, dan kedalaman. Ia bertujuan untuk menyajikan Kartini sebagai manusia nyata yang ide dan tindakannya radikal untuk zamannya.

Buku ini banyak mengambil inspirasi dari surat-surat terkenal Kartini sendiri (terutama yang dikumpulkan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang / Dari Kegelapan Muncul Cahaya), konteks sejarah, dan penelitian mendalam Pramoedya tentang era kolonial dan feodal. Buku ini memadukan biografi, analisis sejarah, dan penceritaan naratif. Ringkasan Isi dan Plot Utama: Karya ini menelusuri kehidupan Kartini sejak kelahirannya di keluarga bangsawan Jawa (priyayi) di Jepara, Jawa Tengah, melalui masa kecilnya, pendidikan, pengasingan (pingitan), pernikahan, dan kematiannya yang prematur pada usia 25 tahun setelah melahirkan. Unsur-unsur kunci yang dibahas: Kehidupan awal dan pendidikan: Sebagai putri seorang bupati yang progresif, Kartini menerima pendidikan ala Belanda yang tidak biasa bagi gadis-gadis Jawa pada saat itu. Ia mengembangkan kecintaan pada membaca dan korespondensi dengan teman-teman Belanda (seperti sahabat penanya, Stella Hartshalt-Zeehandelaar), yang membuatnya terpapar ide-ide Eropa tentang kesetaraan, kebebasan, dan kemajuan.

 Kartini digambarkan sebagai seorang wanita muda yang terpecah antara dunia aristokratnya yang istimewa namun membatasi dan kesadarannya yang semakin meningkat akan ketidakadilan. Ia dengan gigih menentang: Tradisi feodal dan adat Jawa yang membuat perempuan terisolasi dan pernikahan yang diatur.

 Pramoedya menyoroti nilai-nilai kemanusiaannya, empati terhadap penderitaan rakyat jelata, dan visinya tentang kemajuan bagi seluruh bangsa. Pram juga menekankan pergumulan batin Kartini — kesepian, kemarahan, keputusasaan, dan ketahanan — daripada menyajikan kisah heroik yang disederhanakan. Ia menggambarkan Kartini bukan hanya sebagai pelopor feminisme, tetapi juga sebagai seseorang yang menantang kekuasaan kolonial dan feodalisme pribumi.

Jadi, saya ingin membuat “disclaimer” bahwa musik saya bukan tentang Kartini, tapi tentang interpretasi Pramoedya Ananta Toer tentang Kartini (yang mungkin tidak 100% akurat juga).

Seandainya buku sejarah ditulis dengan gaya Pramoedya, mungkin saya akan sedikit lebih menyukai pelajaran sejarah di masa sekolah dulu! Saya hanya ingat bahwa perang Diponegoro itu berlangsung selama 5 menit, yaitu dari 1825-1830 ….. ya, ya, segitunya saya bosan dengan sejarah yang menurut saya waktu itu sebagai masa lalu yang tidak ada gunanya untuk diingat-ingat.

The post Dua Karya Baru Saya Untuk Piano, Satu Cewek Satu Cowok first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Belajar Polifoni, Penting Aja atau Penting Banget?  https://kitaanaknegeri.com/belajar-polifoni-penting-aja-atau-penting-banget/ Fri, 30 Jan 2026 02:02:55 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=32514 sebuah tulisan Ananda Sukarlan Selasa 27 Januari lalu saya konser sekaligus mengumumkan tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, di Four Seasons Jakarta. Acara itu hanya terbuka untuk para

The post Belajar Polifoni, Penting Aja atau Penting Banget?  first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
sebuah tulisan Ananda Sukarlan

Selasa 27 Januari lalu saya konser sekaligus mengumumkan tentang Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2026, di Four Seasons Jakarta. Acara itu hanya terbuka untuk para undangan dan donatur, tapi kemudian diliput oleh beberapa media, antara lain 

Di situ ada paragraf tentang saya banyak memasukkan repertorie dengan elemen polifonik di edisi tahun ini, dan kemudian masuklah banyak pesan, pertanyaan bahkan sedikit protes yang temanya “haduh, polifoni itu susah” dan variasinya. Yang tidak tersebut di situ adalah saya juga menyarankan, untuk karya pilihan bebas, saya ingin menyarankan karya polifonik juga. Tidak perlu benar-benar fuga, tapi bisa misalnya “June” dari The Seasons karya Tchaikovsky, di mana tidak sepenuhnya melodi dan iringan. Atau ada Studies in Canon op. 56 dari Robert Schumann yang kurang terkenal, padahal bagus banget, dan tingkat kesulitan (baca : kemudahan)nya setaraf Inventions dari Bach, gitu deh. 

Nah, di KPN+ saja saya menekankan polifoni, apalagi di Ananda Sukarlan Award 2027? Siapkan deh dari sekarang Bach atau canons nya Schumann, atau tingkat Senior ya Hindemith atau Shostakovich juga ya.

Apa pentingnya sih bermain dan berlatih polifoni?

Musik polifoni itu tadinya ada di musik klasik, dan kemudian diadaptasi di musik pop. Asalnya dari musik rakyat, di Indonesia ada di gamelan Jawa dan Bali. Di musik jazz juga ada, tapi bedanya adalah : polifoni di jazz dan gamelan itu dilakukan secara spontan, sedangkan di musik klasik itu dikalkulasi di atas kertas. Nah kalau di pop itu latihan tanpa baca not jadi tidak bisa begitu kompleks, tapi buat saya ga ada musik pop yang ngalahin kecermatan dan kepiawaian polifoni di lagu “God only knows (what I’d be without you)” – nya The Beach Boys deh. Brian Wilson itu musikus jenius banget.

Musik polifonik Johann Sebastian Bach (terutama Inventions, Sinfonias dan fuga The Well-Tempered Clavier) buat saya adalah 50% atau lebih dari pengajaran musik yang serius. Hampir setiap pendidik piano dan kurikulum konservatori utama menempatkan Bach sebagai intinya. Teknik ini kemudian dikembangkan di karya-karya Paul Hindemith (1895-1963) dalam “Ludus Tonalis” dan Dmitri Shostakovich (1906-1975) dalam 24 Preludios dan Fugas op. 87. Saya pun banyak menggunakan dan mengembangkannya di banyak karya saya, juga menggunakan teknik gamelan dan metode saya sendiri. Dari 44 nomor Rapsodia Nusantara sampai saat ini, bisa dibilang 35-40% diantaranya mengeksploitasi Fuga, terutama untuk bagian akhirnya. Juga ada canon 3 suara di “Variations on Desaku”, dan masih banyak bentuk polifoni lain yang saya tulis untuk anak saya saat ia belajar piano dan sekarang diterbitkan di “Alicia’s Piano Books” yang berjumlah 6 jilid. 

Polifoni penting dipelajari oleh siswa piano karena berbagai aspek :

1. Melatih kemandirian tangan dan jari.

Mulai dari Joseph Haydn (1732-1809) dan mayoritas musik romantik, tangan kiri sering memainkan iringan sementara tangan kanan memainkan melodi. Bach memaksa kedua tangan (bahkan kadang terbagi sampai 5 suara) untuk menampilkan  melodi yang sama pentingnya. Ini mengembangkan kemandirian jari dan tangan yang sebenarnya — sesuatu yang menjadikan musik Chopin, Liszt, Rachmaninoff, atau bahkan jazz/pop selanjutnya jauh lebih mudah dan jelas artikulasinya.

2. Mengembangkan pendengaran polifonik / kesadaran pendengaran.

Seorang musikus harus belajar mendengarkan beberapa suara secara bersamaan dan memutuskan mana yang akan diutamakan pada saat tertentu. Keterampilan ini (“penyajian suara”) secara dramatis meningkatkan: Keseimbangan antar suara  dalam nocturne / ballade / scherzo dari  Chopin, 

Suara-suara internal dalam Brahms dan Liszt,

Tekstur polifonik dalam Debussy, Ravel, Prokofiev, dll.

Banyak pianis yang tidak mempelajari polifoni yang serius tidak pernah benar-benar terlatih di pendengaran yang peka ini. Apalagi sejak musik dianggap sebagai “musik background”, yang didengar pun tidak ! 

3. Mengungkap setiap kelemahan teknis.

Bach hampir tidak memiliki “bantalan” atau akord tebal untuk menyembunyikan ketidakrataan. Menentukan penjarian yang tepat (penjarian untuk satu orang belum tentu nyaman untuk pianis lain) sangat penting. Pergelangan tangan yang kaku, ritme yang goyah, tangga nada/arpeggio yang tidak rata — semuanya langsung terdengar. Karena alasan ini, Bach adalah alat diagnostik dan korektif terbaik untuk teknik.

4.Mengajarkan ritme, denyut, dan pengelompokan not yang sempurna. 

Karena beberapa garis harus tetap terkoordinasi secara ritmis tanpa bantuan pedal, kita mengembangkan denyut internal metronomik dan subdivisi yang sangat tepat. Fondasi ini membuat ritme abad ke-19–20 yang kompleks jauh lebih mudah dikelola.

5. Memberikan pemahaman terdalam tentang harmoni dan pengarahan suara.

Polifoni atau kontrapunk adalah demonstrasi paling jelas dan logis tentang bagaimana harmoni sebenarnya bekerja. Ketika kita memainkan fuga dan invensinya cukup lambat untuk mendengar setiap kombinasi vertikal, kita menginternalisasi: Harmoni fungsional, Suspensi / disonansi dan logika modulasi.

Pengetahuan ini secara tidak langsung meningkatkan interpretasi kita dalam musik lainnya yang tidak eksplisit polifonik, karena bagaimanapun, bermain piano, gitar atau harpa itu adalah memainkan polifoni. 

6. Membangun kecerdasan frasa dan artikulasi. 

Karena jarang ada satu “melodi” dominan, kita harus terus-menerus memilih dan menentukan tentang pembentukan, legato, staccato/legato, dinamika dalam setiap suara. Ini melatih pemikiran musik jauh lebih intens daripada memainkan karya dengan melodi + iringan yang jelas.

7. Manfaat mental & neurologis.

Memainkan 3–5 suara independen secara bersamaan adalah salah satu tugas kognitif-motorik paling kompleks yang dapat dilakukan manusia. Banyak pianis (dan ahli saraf yang bermain piano) menggambarkan studi Bach sebagai semacam “latihan otak” yang meningkatkan fokus, memori kerja, pengenalan pola, dan kemampuan multitasking.

8. Imbalan estetika & emosional

Setelah rintangan teknis dan polifonik teratasi, musik Bach menawarkan kombinasi unik antara kepuasan intelektual, keindahan arsitektur, dan kedalaman emosional yang mendalam.

The post Belajar Polifoni, Penting Aja atau Penting Banget?  first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Sebuah Tembang Puitik Bisa Dinyanyikan oleh Lebih dari Satu Vokalis https://kitaanaknegeri.com/sebuah-tembang-puitik-bisa-dinyanyikan-oleh-lebih-dari-satu-vokalis/ Sat, 10 Jan 2026 05:05:54 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=32509 tulisan Ananda Sukarlan Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca :  https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/) Saya ingin

The post Sebuah Tembang Puitik Bisa Dinyanyikan oleh Lebih dari Satu Vokalis first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
tulisan Ananda Sukarlan

Jitu sekali paparan penyair Riri Satria di wawancaranya dengan Ikhsan Risfandi tentang alihwahana puisi ke musik khususnya apa yang telah saya lakukan. (baca :  https://harianterbit.news/riri-satria-ketua-jsm-sepanjang-2025-denyut-literasi-sastra-di-indonesia-tetap-hidup-beberapa-aspek-justru-menunjukkan-kesegaran-baru/2/)

Ananda Sukarlan bersama para vokalis Jason Suryaatmaja dan Cindy Honanta, serta pianis Michael Anthony Kwok dan desainer Rosdhanimurti

Saya ingin melebarkan sedikit artikel yang singkat dan padat itu untuk lebih menjelaskannya. Kalau dari proses kreatif, saya bisa mengibaratkan puisi itu sel telur, dan musik (tepatnya motif, yaitu elemen terkecil di dalam karya musik) itu sperma. Di sini saya menjelaskan sejak “sperma bertemu dengan sel telur”, “proses kehamilan” hingga “lahirnya si bayi” bernama tembang puitik :

https://rilis.id/Kolom/Berita/Membebaskan-Musik-dari-Penjara-Puisi-Berbahasa-Indonesia-ueclZij

Tulisan saya itu lahir memang dipicu oleh wawancara Ikhsan Risfandi dengan Riri Satria, tapi juga untuk menutup Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+ ) 2025 yang telah kami selenggarakan di 11 kota. Kata “plus” sejak 2024 menandakan bahwa kompetisi ini sekarang dibuka untuk semua instrumen (bukan hanya piano) dan juga vokal klasik, sampai saat ini genre Tembang Puitik atau art song. Tahun 2026 nanti kami membuka kategori baru, yaitu Vocal Ensemble, yaitu grup vokalis mulai dari 3 orang sampai semacam “chamber choir” yang berjumlah belasan personel. Ini atas saran, permintaan dan nasehat artistik dari berbagai tokoh seperti Agastya Rama Listya (mantan dekan musik Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga), Patrisna May Widuri (mitra penyelenggara KPN+ di Surabaya dan juga pendiri kompetisi “Tembang Puitik Ananda Sukarlan” tahun 2011 yang sekarang terintegrasi di Ananda Sukarlan Award) dan banyak vokalis lainnya. Vocal Ensemble ini juga menyanyikan karya-karya yang berdasarkan puisi, hanya saja puisi itu membutuhkan lebih dari 1 vokalis, misalnya menceritakan dialog, atau seorang narrator dan pelaku. 

Kompetisi ini terbukti mulai membuka mata para vokalis ke karya para sastrawan. Vokalis juara I, Maria Gabrielle Brigita menyanyikan antara lain “Dari Duka Masa Lalu” dari puisi Sihar Ramses Simatupang, sedangkan juara II, Adisa Tiara Kinasihing Ramadhan menampilkan “Seonggok Bangkai” dari puisi Ewith Bahar.

Puisi Ewith Bahar ini adalah favorit para vokalis tahun 2025 ini. Tapi kemudian mereka kan harus mengganti repertoire di babak final. Nah, puisi Riri Satria, “Dialog Sesama Virus Corona Tentang Koruptor” yang menjadi favorit di final, mungkin karena tingkat virtuositasnya yang cukup tinggi. Kebetulan, baik puisi Ewith Bahar maupun Riri Satria mendeskripsikan pandemi Covid-19, tapi dengan cara yang sangat berbeda. Kelihatannya para vokalis tertarik dengan tema yang masih sangat melekat di benak kita ini.

Sepertinya para vokalis dan sastrawan itu baru saling bertemu muka di saat para penyair datang dan menyaksikan mereka tampil, tapi ini langkah pertama untuk saling berkolaborasi antar dua bidang seni, yaitu lewat produk seni mereka. Alangkah baiknya jika para vokalis juga telah mengenal para penyair saat mereka mempersiapkan konser mereka. Saya juga melihat bahwa sekarang para vokalis lebih mengeksplorasi puisi-puisi nama-nama “baru” buat mereka seperti Muhammad Subhan, Joshua Igho, Rissa Churria dll. Prosesnya sudah kelihatan terbalik : mereka membaca puisinya dahulu, dan baru mencari siapa itu penyairnya. Kita bisa lihat bahwa sebelum pandemi Sapardi Djoko Damono, Helvy Tiana Rosa atau Chairil Anwar adalah favorit para vokalis baik di KPN (dulu belum pakai “plus”) atau Ananda Sukarlan Award, saya hampir yakin karena nama mereka yang lebih “terkenal”. 

Saya bahagia bisa menjadi ‘jembatan’ untuk para vokalis dan penyair. Ini juga menunjukkan bahwa musik klasik, seperti sastra, tetap hidup dan relevan dengan situasi saat ini dan sejarah masa lalu. 

The post Sebuah Tembang Puitik Bisa Dinyanyikan oleh Lebih dari Satu Vokalis first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Selamat untuk penyair Prof. Tengsoe Tjahjono atas Anugerah Sabda Budaya 2025 Universitas Brawijaya https://kitaanaknegeri.com/selamat-untuk-penyair-prof-tengsoe-tjahjono-atas-anugerah-sabda-budaya-2025-universitas-brawijaya/ Thu, 04 Dec 2025 05:52:50 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=32501 KITA Anak Negeri sangat bangga dan berbahagia mendengar bahwa penyair & sastrawan Prof. Tengsoe Tjahjono menerima Anugerah Sabda Budaya (ASB) 2025 dari Universitas Brawijaya.  Acara penganugerahan diadakan sebagai bagian dari

The post Selamat untuk penyair Prof. Tengsoe Tjahjono atas Anugerah Sabda Budaya 2025 Universitas Brawijaya first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
KITA Anak Negeri sangat bangga dan berbahagia mendengar bahwa penyair & sastrawan Prof. Tengsoe Tjahjono menerima Anugerah Sabda Budaya (ASB) 2025 dari Universitas Brawijaya. 

Acara penganugerahan diadakan sebagai bagian dari Puncak Rangkaian Dies Natalis ke-16 pada Rabu (3/12/2025). Bertempat di Aula lantai 2 Gedung A FIB UB, acara ini mengusung tema “Samadya Danasmara Manunggal Rasa”, yang mengajak semua pihak menyatukan rasa dalam semangat pelestarian budaya nusantara.

ASB tahun ini diberikan kepada tiga tokoh seni dan sastra yang dinilai memiliki karya unggul dan berdampak, tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga dalam kontribusinya terhadap kerja-kerja kultural FIB UB. Ketiganya adalah (1) Tengsoe Tjahjono, penyair dan cerpenis, yang menerima penghargaan di bidang Sastra, (2) Winarto Ekram, penari dan koreografer, sebagai penerima penghargaan di bidang Seni Tradisi, serta (3) Dadang Rukmana, pelukis dan perupa, menerima penghargaan di bidang Seni Rupa.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa ASB telah menjadi ciri khas FIB UB sejak pertama kali digelar pada tahun 2018. Tahun 2025 ini merupakan penyelenggaraan ke-7, yang sekaligus menjadi momen reflektif bagi FIB UB yang kini berusia 16 tahun.

Seperti sudah diatur oleh semesta, secara tidak sengaja, penganugerahan ini dirayakan di Jakarta juga, yaitu konser amal untuk korban perang Ukraina yang menampilkan pianis Taras Filenko (Ukraina) dan Ananda Sukarlan (Indonesia) di Deheng House, Kemang Jumat tanggal 5 Desember 2025 besok. Konser ini juga mengundang bintang tamu pemenang Kompetisi Piano Nusantara Plus region Surabaya yang baru saja diadakan 23 November 2025 lalu yaitu mezzo-soprano Cindy Honanta dan bariton Jason Suryaatmaja yang berbagi juara pertama Kategori Vokal (Tembang Puitik).  Mereka menyanyikan tembang puitik Ananda Sukarlan. Jason menyanyikan dua lagu, satu berdasarkan puisi karya Tengsoe Tjahjono, “Setelah Bendera Berkibar” dan satu lagi dari puisi Dedy Tri Riyadi. Cindy menyanyikan lagu-lagu yang keduanya berdasarkan puisi dua penyair perempuan: Ewith Bahar (“Seonggok Bangkai”, tentang kematian di masa pandemi Covid-19) dan “Luna” dari puisi Erna Winarsih Wiyono.

“Konser ini tentu sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu, dan tadi malam sewaktu saya membaca bahwa Prof. Tengsoe dianugerahi penghargaan ini, wah senang sekali rasanya. Tentu nanti akan kita sebut di konser besok”, ujar Ananda Sukarlan yang juga pernah konser di Universitas Brawijaya mengajak soprano Mariska Setiawan membawakan beberapa tembang puitik di antara 500 nomor lebih yang telah ia ciptakan itu. “Saya juga telah memberitahu tentang konser ini kepada Prof. Tengsoe sekitar 2 minggu lalu, siapa tahu beliau sedang berada di Jakarta hari-hari ini dan bisa mampir, bertemu dengan para penyair lainnya di konser kami ini”, lanjutnya.

Ananda Sukarlan memang telah mencipta beberapa tembang puitik dari beberapa puisi Tengsoe Tjahjono selama beberapa tahun terakhir ini (baca 

https://bekasiana.com/listing/ananda-sukarlan-tokoh-tembang-puitik-indonesia/ )

Dipuji oleh The Straits Times (Singapura) sebagai “sublime” dan “sumptuosly voiced,” Cindy Honanta memulai debut operanya pada usia 23 tahun sebagai Bianca dalam opera Benjamin Britten, “The Rape of Lucretia”, dan sejak itu telah memainkan peran-peran penting termasuk Divinity dalam “The Butterfly Lovers” karya Richard Mills, Teresa dalam “La Sonnambula” (Vincenzo Bellini), dan Caregiver dalam pemutaran perdana dunia “Losing Lily” karya Chen Zhangyi. Cindy meraih gelar Sarjana Musik dengan Predikat Tertinggi dari Konservatorium Musik Yong Siew Toh (Singapura) di bawah bimbingan Alan Bennett dan saat ini juga menimba ilmu dengan  Andrew Wilkinson.

Jason Suryaatmaja adalah penyanyi bariton asal Kediri yang kini menempuh studi Sarjana Musik Vokal Klasik di Hochschule für Musik und Theater Hamburg, Germany bersama Prof. Mark Tucker. Ia telah meraih gelar Sarjana Musik Vokal Klasik dari Yong Siew Toh Conservatory of Music, Singapura bersama Prof. Alan Bennett (2025).

Jason telah meraih juara 1 dalam Bandung Solo Vocal Competition (2025), juara 1 dan 2 dalam Kompetisi Vokal Konserto Yong Siew Toh dalam 2 tahun yang berurutan, dan menjadi anggota Asia Pacific Youth Choir (2023, 2024). 

Ananda Sukarlan berencana memainkan beberapa karyanya seperti “O Holy Night, O Speedy Night” (sebuah variasi dari lagu Natal “O Holy Night” ciptaan Adolphe Adam) dan Rapsodia Nusantara no. 39 yang ditulis untuk dimainkan oleh tangan kiri saja, sedangkan Taras Filenko akan memainkan beberapa karya komponis Ukraina seperti Mykola Lysenko, Myroslav Skoryk dan Fedir Akimenko.

Sebagai penutup konser, mereka bermain duet memperdanakan karya Ananda, “Make The Bells Jingle Again” melambangkan persahabatan dua negara dengan 4 tangan di satu piano, merayakan sukacita suasana Natal.

Hasil penjualan tiket konser ini disumbangkan kepada yayasan Olena Zelenska untuk rehabilitasi para korban perang serta kepada Yayasan Musik Sastra Indonesia yang memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak yang kurang mampu. Konser ini disponsori oleh Rotary Club cabang Menteng. Ananda Sukarlan telah diangkat menjadi Honorary Member dari Rotary Club International di tahun 2023. Ananda akan memperdanakan busana tenun Rosdhani yang dibuat khusus untuk acara ini dengan bahan dasar warna bendera Ukraina, biru dan kuning. Konser ini juga dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, 3 Desember yang lalu. 

The post Selamat untuk penyair Prof. Tengsoe Tjahjono atas Anugerah Sabda Budaya 2025 Universitas Brawijaya first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Surabaya Dominasi Musik Klasik di Indonesia https://kitaanaknegeri.com/surabaya-dominasi-musik-klasik-di-indonesia/ Mon, 01 Dec 2025 14:01:13 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=32498 Tahun 2025 ini Surabaya memegang rekor peserta tertinggi di antara 11 kota yang menyelenggarakan Kompetisi Piano Nusantara Plus. Kata “Plus” yang ditambahkan sejak 2024 menandakan bahwa kompetisi ini ditujukan bukan

The post Surabaya Dominasi Musik Klasik di Indonesia first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Tahun 2025 ini Surabaya memegang rekor peserta tertinggi di antara 11 kota yang menyelenggarakan Kompetisi Piano Nusantara Plus. Kata “Plus” yang ditambahkan sejak 2024 menandakan bahwa kompetisi ini ditujukan bukan hanya untuk piano saja. Itu sebabnya para vokalis klasik serta pemain instrumen gesek pun banyak berpartisipasi dalam kompetisi musik klasik yang kini terbesar di Indonesia ini. Dari total 578 peserta di Sumatra, Jawa dan Kalimantan (baru Pontianak tahun ini), Surabaya bukan hanya juara dalam partisipasi (83 peserta), tapi juga persentase yang menembus babak final, yaitu 57 peserta yang berarti 68 % dari total peserta Surabaya, sebuah angka yang sangat membanggakan dan menunjukkan kualitas pemusik klasik Surabaya .

Tapi bukan hanya itu. Ananda Sukarlan, pianis, komponis pendiri KPN+ juga memuji pemilihan beberapa vokalis klasik dalam repertoire tembang puitik yang mereka bawakan. “Sebagai vokalis klasik Jawa Timur, saya melihat solidaritas mereka dengan sesama seniman di bidang lain yaitu sastra. Contohnya adalah soprano dari Malang, Faustina Sherenita Prajnadewi memilih puisi Nanang Suryadi, dosen Universitas Brawijaya sebagai salah satu repertoire-nya atau bariton Jason Suryaatmaja memilih puisi Tengsoe Tjahjono, kelahiran Jember yang pernah meraih penghargaan sastra dari gubernur Jawa Timur tahun 2012. Kecermatan Jason dan Sherenita dalam memilih repertoirenya sebanding dengan kemampuan teknik dan musikal mereka yang menjadikan mereka juara di kategori masing-masing (Jason Suryaatmaja juara pertama di kategori Senior dan Faustina Sherenita Prajnadewi juara ke-2 di Junior — tidak ada juara I di kategori Junior ini karena menurut Ananda belum ada yang memenuhi standar penilaian juara I, dari kematangan interpretasi dan teknik vokal). Ini membuktikan bahwa kualitas pemusik itu adalah gabungan dari teknik, musikalitas, pengetahuan dalam memilih repertoire dan juga kelakuan baik tentu saja, misalnya bagaimana ia dapat bersinergi dalam teamwork”.

Sebetulnya tidak tepat bahwa Surabaya diikuti peserta terbanyak, karena sebetulnya Jabotabek lah yang terbanyak, tapi kami pecah menjadi tiga kota di tiga tanggal yang berbeda, yaitu Tangerang, Bekasi dan Jakarta. Kalau dijumlah, peserta “Jatabek” ini mencapai 140 orang, dan semua boleh memilih mau ikut yang di kota mana, asal tanggalnya cocok untuk mereka.
Di provinsi yang musik klasik masih belum populer, jumlah peserta ternyata melebihi ekspektasi. Lampung ada 57, Pontianak 51. Saya berharap ini meningkat, bukan hanya hangat-hangat tahi ayam”, tandas Ananda Sukarlan.

Di Surabaya, Ananda Sukarlan didampingi oleh juri Dr. Kevin Raharjo, peraih gelar Doctor of Music dari University of Miami setelah sebelumnya gelar Master diraihnya di Portland State University di bawah bimbingan Dr. Susan Chan, Dr. Thomas Otten, and Dr. Naoko Takao di studi pianonya, serta Hamilton Cheifetz dan Dr. Chuck Dillard untuk musik kamar.

Jadwal Ananda — yang ditulis oleh harian Australia, Sydney Morning Herald sebagai “one of the world’s leading pianists at the forefront of championing new piano music” ini — cukup padat setelah Surabaya, karena KPN+ berlanjut di Yogyakarta, Sabtu 29 November, dilanjutkan dengan konser Ananda hari berikutnya, keduanya di Sagan Heritage Hotel. Konser ini juga menampilkan pemain biola pemenang dari KPN+ Surabaya, Sean Kenneth Hudyana dan juga pemenang Yogyakarta, diiringi oleh Ananda sendiri. Konser ini juga menghadirkan pianis Ukraina Dr. Taras Filenko yang sedang berkunjung ke Indonesia sampai awal bulan Desember. Sementara itu, pemenang kategori Tembang Puitik yaitu Jason Suryaatmaja dan Cindy Honanta (keduanya meraih juara I) diundang oleh Ananda untuk tampil bersamanya di konser di Jakarta, yaitu di Deheng House tanggal 5 Desember nanti.

Di penghujung acara di Surabaya, para pemenang ASA, pianis Osten Cristo Harianto dan soprano Shelomita Amory menyanyikan beberapa tembang puitik Ananda Sukarlan, dari puisi Sapardi Djoko Damono dan Ilham Malayu.

Para pemenang KPN+ region Surabaya yang akan bertanding di Jakarta, 13 & 14 Desember lengkapnya adalah:

Usia Dini A:
•⁠ ⁠Madison Sufredy – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Nadya Ie – Juara 1

Usia Dini B:
•⁠ ⁠Levi Leonita Njoto Imanuel – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Valerie Eliora Hartanto – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Sophilia Adler Winston – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Kyella Kimiko Wibowo – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Moana Johan – Juara 1
•⁠ ⁠⁠Clara Aliccia Yapri – Juara 1

Usia Dini C:
•⁠ ⁠Fionna Quinn Suwandi – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Gwen Eleanor Walean Alim – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Elaine Violet Santosa – Juara 2

Pemula B:
•⁠ ⁠Talouel Bening Humblebee – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Sherlyn Mckenzie Alim – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Philia Ie – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Philip Dave Liem – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Jedd Ashton Anasrelie – Juara 1

Pemula C:
•⁠ ⁠Keiko Evelyn Pranoto – Juara 3
•⁠ ⁠Naomi Vanessa Chandra – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Jacqueline Angelica – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Alfonso Rudolph Herryawan – Juara 1

Menengah B:
•⁠ ⁠Rachel Fidelia Cathleen – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Edward Nathaniel Handoko – Juara 1

Instrument Cello Senior:
•⁠ ⁠Clift Christian – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Catheleen Sophia Hsu – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Muhammad Wishnu Sutta Wiriya – Juara 2

Menengah C:
•⁠ ⁠Noemi Zoey Susanto – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Nikolaus Henry Siawan – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Cheryl Evangeline – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Starielle Adeline Winston – Juara 2

Lanjutan A:
•⁠ ⁠Matthew Wilson T. Widjaja – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Yosefin J.G. Panggabean – Juara 1
•⁠ ⁠⁠Steffan Sumargo – Juara 1
•⁠ ⁠⁠Alexander Hudyana – Juara 1

Lanjutan B:
•⁠ ⁠Audrina Valerie Widjanarko – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Sarah Joanna Sugiarto – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Claire Alexia Oei – Juara 1
•⁠ ⁠⁠Gabriella Christine Lukito – Juara 1

Instrument Violin Junior:
•⁠ ⁠Emily Louisa Haryono – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Avelina Swastika Dharma – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Elaine Isabelle Jie – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Yosefin J.G. Panggabean – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Chloe Adeline Sentono – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Alexander Kyle Hudyana & Isabella Nikita Sumargo – Juara 1

Tembang Puitik Junior:
•⁠ ⁠Faustina Sherenita Prajnadewi – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Catherine Sutandya – Juara 2

Tembang Puitik Senior:
•⁠ ⁠Ruhannah Renanda Agustinah – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Christian Kyocera Prasetio – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Cindy Honanta & Jason Suryatmajan – Juara 1

Lanjutan C:
•⁠ ⁠Colin Cristo Harianto – Juara 3

Instrument Violin Senior:
•⁠ ⁠Nyrelle Elena Kanasut – Juara 3
•⁠ ⁠⁠Azelia Javelyn Kho – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Emily Yongnardi – Juara 2
•⁠ ⁠⁠Lorenzo Anson Poedijono, Sean Kenneth Hudyana & Tavia Conchietta Widjojo – Juara I

The post Surabaya Dominasi Musik Klasik di Indonesia first appeared on Kita Anak Negeri.]]>