Deprecated: Optional parameter $type declared before required parameter $wrapper is implicitly treated as a required parameter in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php on line 145

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetExists($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetExists(mixed $offset): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 309

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetGet($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetGet(mixed $offset): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 317

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetSet($k, $v) should either be compatible with ArrayAccess::offsetSet(mixed $offset, mixed $value): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 301

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::offsetUnset($k) should either be compatible with ArrayAccess::offsetUnset(mixed $offset): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 313

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::current() should either be compatible with Iterator::current(): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 328

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::next() should either be compatible with Iterator::next(): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 339

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::key() should either be compatible with Iterator::key(): mixed, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 350

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::valid() should either be compatible with Iterator::valid(): bool, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 362

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::rewind() should either be compatible with Iterator::rewind(): void, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 375

Deprecated: Return type of FS_Key_Value_Storage::count() should either be compatible with Countable::count(): int, or the #[\ReturnTypeWillChange] attribute should be used to temporarily suppress the notice in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/managers/class-fs-key-value-storage.php on line 389

Deprecated: Creation of dynamic property CF7_Material_Design_Admin_Page::$live_preview_url is deprecated in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/v1/admin/cf7-material-design-page.php on line 31

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php:145) in /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/all-in-one-seo-pack/app/Common/Meta/Robots.php on line 89

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/kitaanak/public_html/wp-content/plugins/material-design-for-contact-form-7/freemius/includes/class-fs-logger.php:145) in /home/kitaanak/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
OpiniKITA | Kita Anak Negeri https://kitaanaknegeri.com Komunitas Ilmu Tata Nada Wed, 11 Oct 2017 11:26:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.7 Kenapa Sih Musik Film Horror Selalu Serem? https://kitaanaknegeri.com/kenapa-sih-musik-film-horror-selalu-serem/ Wed, 11 Oct 2017 11:25:08 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=26002

“Ya namanya juga musik film horror, mesti serem lah!” Nggak, jawabannya nggak sesimpel ini lho guys. Ternyata alasan kenapa musik di film horror itu seram ada kaitannya dengan studi psikologis.

Kamu tentu masih ingat film-film horror macam Insidious dan The Conjuring yang musiknya serem keterlaluan itu kan? Pria yang berjasa menciptakan musik tersebut adalah Joseph Bishara. Adegan-adegan menyeramkan dari film-film tersebut barangkali tak akan seberapa menyeramkan kalau tidak diselipkan musik yang bikin kita terkaget-kaget dan ciut duluan.

Dilansir dari Tirto.id, Spencer Hickman, manajer dari label Death Waltz Recording Company berkata “Musik selalu membantu film horor untuk membangun suasana hati, membangun ketegangan dan suasana,”

Ketakutan berlaku sama bagi semua orang, termasuk kamu yang ngakunya bukan penakut. Takut itu reaksi yang alamiah. “Pada dasarnya semua orang memiliki reaksi yang sama terhadap rasa takut, terlepas dari budaya; hal yang menarik adalah bagaimana Anda dapat memicunya pada khalayak yang berbeda.” kata Rowan Hooper, editor majalah New Scientist.

O ya, ketika menonton film horror kita tidak hanya ditakuti dengan musik seram, tetapi juga kesunyian yang bikin gelisah. Kamu tahu film-film Paranormal Activity kan? Di film-film itu rasanya hampir tidak ada penggunaan scoring musik sama sekali. Misalnya dalam adegan klimaks Paranormal Activity yang pertama (spoiler dikit ya hehe). Katie, si tokoh utama yang kesurupan setan melemparkan tubuh kekasihnya ke kamera. Ia lalu merangkak pelan ke arah layar hingga wajahnya yang mengerikan terpampang jelas sebelum kemudian filmnya berakhir. Keseluruhan adegan ini berjalan tanpa musik sama sekali, namun kengeriannya justru berlipat ganda karena absennya musik memberi kita suasana yang realistis.

“Pada saat itu otak Anda mengisi kekosongan – membangkitkan momen yang menakutkan,” kata Hooper menjelaskan fenomena ini.

Tapi begini, sebenarnya film horror pun tak perlu pakai musik yang seram terus. Kengerian bisa dilahirkan lewat perpaduan visual dan suara yang tepat. Masih ingatkah kamu bagaimana Insidious menyulap lagu Tiptoe Through The Tulips yang sebenarnya lagu kocak jadi serem? Oke, lagu ini mungkin emang agak serem dari sananya. Tapi aslinya ini lagu ceria, oke?

Yaudah mending kita tutup artikel kali ini sambil mendengar lagunya si Tiny Tim lewat video di bawah ini.

Sumber referensi & foto : tirto.id, BBC Indonesia, Redcarpetrefs.com

Baca Juga
The post Kenapa Sih Musik Film Horror Selalu Serem? first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Semua Punya Ruang, Ayo Berkembang! https://kitaanaknegeri.com/semua-punya-ruang-ayo-berkembang/ Fri, 15 Sep 2017 10:33:17 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=25870

Setiap anak memiliki potensi dan kekhasannya masing-masing. Tugas orang dewasa di sekitarnya lah untuk membantu anak tersebut menemukan dan menggali potensinya.

Hal yang sama berlaku pun berlaku untuk anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus sering dianggap lebih inferior dibanding anak-anak pada umumnya. Keberbedaan mereka kerap dianggap sebagai bentuk kekurangan. Terkadang, orang tua justru bersikap berlebihan akan hal ini sehingga pengembangan potensi anak jadi teracuhkan.

Benarlah perkataan Felix Baumgartner, penerjun payung asal Austria, berikut ini:

Image
The only limit is the one you set yourself.
Felix Baumgartner

Austrian Skydiver

Yang menciptakan batas bagi anak adalah orang dewasa di sekitarnya. Seorang anak tentulah memiliki bakat dan minat akan suatu hal. Maka orang dewasa mesti memberikan akses bagi anak untuk mengembangkan diri. Tidak perlu terlarut dalam ‘keterbatasan’, kalau dicari pasti akan ketemu hal yang cocok dilakukan oleh anak. Seperti di bidang musik misalnya, ada nama seperti Stevie Wonder, pria tunanetra yang berhasil meniti karirnya di dunia Jazz sebagai penyanyi dan multi-instrumetalis ternama

Tentunya, Stevie hanyalah satu dari banyak orang-orang yang dianggap memiliki ‘keterbatasan’ dan mampu membuktikan dirinya. Jalan yang ia tempuh bisa ikut ditempuh oleh siapapun, dengan syarat memiliki pikiran yang optimis dan hasrat tak terbatas untuk mengembangkan diri.

Pokoknya jangan malu atau takut untuk menunjukkan diri. Setiap orang punya ruang untuk berkembang dan bersinar. Ingatlah pula pesan positif Raisa dan Isyana Sarasvati di tembang kolaborasi mereka yang berjudul ‘Anganku Anganmu’ berikut ini:

Image
Semua punya ruang lukis yang kau mau. Cerita memilihmu. Semua punya ruang. Anganku anganmu
Raisa & Isyana Sarasvati

Penyanyi

Sumber foto : HdWallpaper.nu

Baca Juga
The post Semua Punya Ruang, Ayo Berkembang! first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Tiga Hal yang Patut Kamu Pertimbangkan Sebelum Memilih Sekolah Musik https://kitaanaknegeri.com/tiga-hal-yang-patut-kamu-pertimbangkan-sebelum-memilih-sekolah-musik/ Thu, 14 Sep 2017 02:31:02 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=25854

Ada banyak sekali sekolah musik yang bisa kita pilih. Dari yang namanya sudah sering kita dengar sampai yang belum pernah kita dengar. Pernahkah kamu kebingungan memilih sekolah musik yang ideal? Jika pertimbangannya hanya dari popularitas, harusnya sekolah-sekolah musik yang namanya sudah terkenal mestilah yang paling bagus. Nyatanya, belum tentu demikian. Lantas bagaimana caranya memilih sekolah musik yang paling ideal? Mari simak tiga poin berikut ini:

  • Kurikulum

Sebelum memasuki sekolah musik, kamu harus tanya-tanya dulu soal kurikulum yang diterapkan di kelas yang ingin kamu ambil. Kurikulum yang digunakan sebaiknya merupakan model kurikulum yang mampu memberikan apa yang kamu butuhkan. Jika kamu belum bisa memainkan drum, maka pengajaran dari aspek paling dasar menjadi yang paling penting. Sedangkan bagi kamu yang telah bisa memainkan drum, sekolah musik melalui kurikulumnya mesti bisa mengalokasikan dirimu ke tingkat yang paling sesuai dengan kemampuan.

  • Fasilitas penunjang pembelajaran

Mampu bermain alat musik saja tidak cukup. Menjadi musisi profesional berarti memiliki attitude dan relasi yang baik. Maka, fasilitas penunjang pembelajaran yang dimaksud di sini adalah wadah yang disediakan untuk berlatih tampil di depan umum dan bergaul dengan sesama pegiat musik. Alias komunitas. Aspek yang satu ini kurang dipedulikan oleh banyak sekolah musik. Wadah tersebut dapat berupa pementasan rutin maupun perkumpulan dengan sesama pegiat musik. Dalam wadah seperti ini kamu akan dibiasakan tampil di depan umum, karena tampil di depan umum berbeda drastis dengan pembelajaran di kelas. Di sinilah pembelajaran sesungguhnya bermula.

  • Biaya

Apakah mahal otomatis berkualitas? Belum tentu. Jika kamu bisa belajar di sekolah musik yang sama bagus untuk apa ambil yang mahal? Hindari sekolah musik yang membebankan biaya pendidikan di luar kemampuan. Karena belajar musik, seperti belajar apapun, tidak perlu mahal.

Bagaimana? Apakah informasi di atas membantu kamu untuk menentukan sekolah musik yang ideal?

Baca Juga
The post Tiga Hal yang Patut Kamu Pertimbangkan Sebelum Memilih Sekolah Musik first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Masih Perlukah Belajar Musik di Sekolah Musik? Tiga Alasan Ini Akan Menjawabnya! https://kitaanaknegeri.com/masih-perlukah-belajar-musik-di-sekolah-musik-tiga-alasan-ini-akan-menjawabnya/ Thu, 07 Sep 2017 10:08:50 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=25728

Budi adalah anak yang mahir bermain gitar. Di usianya yang baru 12 tahun ia sudah mampu memainkan lagu rumit sekelas Sweet Child O’Mine. Guru dan teman-temannya di sekolah terkagum-kagum dengan kemampuan Budi. Ia sering disebut-sebut sebagai anak berbakat. Pernah gurunya suatu hari bertanya “Budi, kamu kok main gitarnya jago sekali? Pasti kamu kursus gitar di rumah ya?” Di luar dugaan, Budi menjawab “Nggak kok bu, aku cuma belajar dari YouTube.”

Ilustrasi di atas bisa jadi adalah gambaran kebanyakan anak-anak masa kini.

Biasanya, ketika kita melihat ada anak-anak yang di usia dini sudah jago memainkan alat musik kita secara spontan akan mengira bahwa anak tersebut mengikuti kursus di sekolah musik. Nyatanya, kini tak kalah banyak anak-anak yang memiliki kemampuan apik meski hanya belajar dari video YouTube dan tutorial yang bertebaran di internet.

Lantas kita pun bertanya-tanya, kalau belajar dari YouTube dan internet saja sudah membuat anak kita bisa main musik, buat apa lagi mengursuskan anak di sekolah musik? Nah, jangan ambil kesimpulan setengah matang dulu. Tiga alasan berikut ini akan membuat kita paham bahwa bagaimanapun sekolah musik merupakan jalur yang paling tepat untuk memberikan pendidikan musik yang terbaik untuk anak.

  • Lebih detail dan menyeluruh

Pembelajaran di sekolah musik dilakukan berdasarkan kurikulum. Artinya, masing-masing anak dengan kemampuannya sendiri-sendiri dapat memahami materi-materi esensial seputar alat musik yang ia pelajari. Dengan adanya sistem yang baku, pembelajaran pun menjadi lebih detail. Materi-materi yang diajarkan pun akan dibahas lebih menyeluruh sehingga pemahaman anak tidak setengah-setengah.

  • Ada buku penunjang pembelajaran

Buku pelajaran adalah benda yang sangat penting. Ia akan menjadi pegangan murid untuk merangkum semua hal yang ia pelajari di sekolah musik. Tentu saja, akan cukup sulit untuk mengikuti materi di buku tanpa dijelaskan dan didemonstrasikan langsung secara tepat oleh guru. Karena itu, kombinasi antara guru dan buku sangatlah penting

  • Belajar dan berinteraksi langsung dengan guru profesional yang berpengalaman

Seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya, guru adalah unsur yang sangat penting dalam pembelajaran. Pembelajaran skill bukanlah satu-satunya hal yang penting untuk anak. Karena itu, guru di sekolah musik juga akan memberi pendidikan sikap (attitude) dan karakter. Guru selalu memiliki pengalaman yang lebih banyak. Sehingga, dari pengalamannya itu ia mampu memberi arahan positif pada anak mengenai attitude dan karakter yang sepantasnya dimiliki oleh seorang pemusik. Selain itu, dengan kompetensinya yang telah teruji di bidang musik, guru dapat menerangkan materi secara lebih lugas dan tepat. Belum lagi, dengan proses belajar yang tatap muka akan terbangun interaksi yang mendalam antara guru dengan murid. Hal ini akan membangun ikatan emosional yang lebih, yang pada akhirnya akan berefek pada keberhasilan pembelajaran.

Bagaimana? Tiga poin tadi hanyalah sedikit dari manfaat lebih banyak pembelajaran di sekolah musik. Seperti perkataan Malala Yousafzai, aktivis pendidikan sekaligus pemenang Nobel dari Pakistan, berikut ini:

Image
Sebuah buku, sebuah pena, seorang anak, dan seorang guru mampu mengubah dunia!
Malala Yousafzai

Aktivis Pendidikan & Pemenang Nobel

Di mana lagi mau menemukan sebuah buku, sebuah pena, seorang anak, serta seorang guru kalau bukan di sekolah? Jadi, jangan ragu lagi mengursuskan anak anda di sekolah musik!

Baca Juga
The post Masih Perlukah Belajar Musik di Sekolah Musik? Tiga Alasan Ini Akan Menjawabnya! first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Kamu Sadar Nggak? Kok Sekarang Banyakan Penyanyi Baru ya Daripada Band Baru? https://kitaanaknegeri.com/kamu-sadar-nggak-kok-sekarang-banyakan-penyanyi-baru-ya-daripada-band-baru/ Tue, 05 Sep 2017 08:05:01 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=25724

Hei, kamu! Iya kamu!

Kamu merhatiin gak sih belakangan ini banyak banget nama-nama penyanyi baru? Kayak Adhitia Sofyan, Rendy Pandugo, Teza Sumendra, Adrian Khalif, Teddy Adhitya, dan masih banyak lagi. Semuanya cowok dan semuanya penyanyi. Semuanya penyanyi dan semuanya nyanyi pop.

Kamu heran gak sih? Padahal dulu kan cowok kalo mau terkenal pasti ngebayanginnya jadi vokalis atau gitaris, kadang juga drummer. Intinya, melalui sebuah band. Tapi sekarang-sekarang ini kebanyakan cowok kayaknya lebih suka jadi penyanyi solo ya?

Iya nggak sih?

Hal ini cuma berlaku di skena mainstream sih, kalo di skena independen emang masih banyak :p

Di skena independen ada nama-nama band besar seperti Barasuara, Efek Rumah Kaca, Elephant Kind, dan banyak lagi. Lha kalo di skena mainstream? Paling nama-nama band besar yang bercokol masih band angkatan yang dulu-dulu. Seperti Noah, Slank, gitu-gitu deh.

Pertanda apakah ini?

Sebenernya kalo kita berkaca pada skena musik di Barat sana, trennya memang sama. Penyanyi kini lebih dominan dari band.

Mari ambil contoh di Inggris. 10 besar tangga lagu terpopuler di BBC Radio 1 pekan lalu didominasi oleh penyanyi. Dari sepuluh lagu yang bercokol hanya satu lagu yang merupakan lagu band. Gile nggak tuh?

Realita ini beda jauh dengan masa ’90-an dan awal 2000-an. Pada masa itu memang era keemasannya anak band. Di era inilah lahir band-band terbaik yang lagunya masih suka kita dengerin sampai hari ini, seperti Nirvana, Mr. Big, Dream Theater, Linkin Park, dan seterusnya. Di dalam negeri juga sama, ada nama-nama seperti Peterpan (sekarang Noah), Slank, Nidji, dan banyak lagi.

Jadi kalo mau diprediksi sih, makin kedepan kita masih bakal menemukan banyak nama penyanyi baru yang bakal ikutan dalam industri musik. Sementara buat kamu yang belum mampu move on dan sampai detik ini masih dengerin God Bless, well… yang sabar aja deh hehe.

Tentu saja makin banyak penyanyi baru juga menunjukkan bahwa anak muda jaman sekarang kreatif-kreatif dan berani tampil di depan umum. Pokoknya, mau penyanyi atau band, berkarya aja. Buktikan bahwa kamu punya potensi terpendam!

Baca Juga
The post Kamu Sadar Nggak? Kok Sekarang Banyakan Penyanyi Baru ya Daripada Band Baru? first appeared on Kita Anak Negeri.]]>
Romantisme Hujan dan Senja : Kalian Nggak Bosen Dengan Tema Ini? https://kitaanaknegeri.com/romantisme-hujan-dan-senja-kalian-nggak-bosen-dengan-tema-ini/ Thu, 31 Aug 2017 10:46:24 +0000 https://kitaanaknegeri.com/?p=25683

Coba tebak ada berapa lagu band atau penyanyi indie yang membawa tema hujan dan senja? Banyak banget kan? Betul, rasanya tema seputar neduh pas keujanan dan pulang kesorean udah jadi semacam tren di kalangan musisi folk independen Indonesia. Sebut saja grup-grup seperti Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Senar Senja, Banda Neira dan seterusnya. Mereka ini contoh satuan musik independen yang suka sekali membawa tema hujan dan senja dalam lagu-lagu mereka. Yah nggak semuanya folk juga sih, tapi intinya gitu deh.

Ada apa sih dengan hujan dan senja?

Mari kita coba bongkar logikanya. Mulai dari hujan dulu.

Secara kasat mata, hujan merupakan sebuah proses turunnya air dari atas langit secara alamiah. Udah gitu aja. Terus romantismenya di mana? Tentu saja sisi romantismenya mesti digali sendiri oleh diri kita masing-masing. Cara yang paling umum adalah dengan membekaskan kenangan berharga ketika situasi sedang hujan. Misalnya, waktu SMA dulu kamu pulang-pergi naik sepeda lipat. Suatu hari gebetanmu minta nebeng pas pulang, jadilah kalian boncengan gitu. Di pertengahan jalan tahu-tahu hujan. Berteduhlah kalian di sebuah halte kosong. Tubuh kalian yang sama-sama lembab bikin kalian duduk mepet di kursi halte. Sambil malu-malu, kalian ngobrol mengenai kehidupan masing-masing sembari menunggu hujan reda.

Pengalaman seperti di atas tentu bakal memperkuat ikatan emosionalmu dengan hujan.

Kalo senja gimana? Mari kita buat juga skenarionya!

Waktu SMA dulu kamu kebagian tugas piket setelah jam pelajaran usai di sore hari. Namun karena temen sekelasmu anak badung semua, akhirnya yang sudi piket cuma kamu sendiri. Tanpa kamu sadari, cewek kelas sebelah yang lagi kamu incer ternyata diem-diem nungguin kamu di luar kelas. Sesekali, doi mengintip-ngintip malu dari jendela dengan perasaan mau bantuin tapi kok malu gitu. Lucunya, kamu tahu dia ada di situ ngeliatin kamu, tapi karena kamu juga tipikal cowok pemalu, kamu pun diam aja. Berdua, kalian saling memperhatikan dalam diam sembari mentari senja jatuh perlahan-lahan di ruang kelas yang berdebu itu.

Gimana? Berkesan banget nggak sih?

Tentu saja hujan dan senja jadi berkesan buat seseorang kalau dia punya cerita seperti ini. Lha kalo nggak? Hmmmmm…

Mari ambil contoh diri penulis sendiri. Karena penulis tidak memiliki masa SMA seindah analogi di atas, hujan dan senja tidak berarti apa-apa buat diri penulis. Yang penulis tahu, hujan itu bikin basah dan senja itu artinya dikit lagi malem. Titik.

Makanya, orang-orang yang seperti penulis lebih susah me-relate diri dengan lagu-lagu bertema hujan dan senja. Alhasil, karena intensitas lagu dengan tema seperti ini cukup banyak di skena indie, penulis pun udah bosen banget dengan tema beginian.

Oleh karena itu, buat teman-teman calon musisi yang mau buru-buru terkenal, lagu soal hujan dan senja bisa jadi pedang bermata dua. Ia bakalan terkenal karena temanya sudah mainstream, tapi juga bakal dibosenin karena temanya yang terlalu mainstream itu.

Kamu sendiri tipe yang mana? Suka hujan dan senja atau nggak?

Sumber foto : scienceabc.com

Baca Juga
The post Romantisme Hujan dan Senja : Kalian Nggak Bosen Dengan Tema Ini? first appeared on Kita Anak Negeri.]]>