ditulis oleh Yohanes Sebastian Anugerah
Sobat KlasiKITA, belakangan ini kita semua makin akrab dengan istilah brain rot. Kata ini menjadi Oxford Word of the Year tahun 2024. Brain rot, (atau brainrot) atau pembusukan otak, menggambarkan kecerdasan kognitif dan mental seseorang yang menurun akibat terlalu banyak mengonsumsi konten media sosial bermutu rendah. Beberapa gejalanya adalah memendeknya rentang perhatian, kesulitan berpikir kritis, kesepian, serta meningkatnya stres dan kecemasan.
Namun, Sobat KlasiKITA tidak perlu khawatir. Belajar musik sebetulnya punya banyak manfaat yang membantu kita tetap tajam dan kreatif. Lho, tunggu dulu, kenapa tadi saya gunakan kata ‘sebetulnya’? Karena sayangnya, banyak pihak yang, mungkin tanpa mereka sadari, merendahkan nilai dari proses bermusik itu sendiri. Seperti apa itu? Sebentar, sebelum masuk ke sana, saya ingin menjelaskan dulu kenapa belajar musik bisa memelihara sisi kemanusiaan kita.
- Berkesadaran
Bermain musik adalah kegiatan analog yang menuntut pelakunya untuk berkesadaran penuh (mindful). Saat kita berlatih musik penuh konsentrasi, kita menutup akses terhadap beragam distraksi. Kita melatih fokus mengerjakan satu hal, yang menuntut proses kognitif, dengan rentang waktu yang lama.
- Kreativitas
Tidak ada batasan untuk berkreasi di dalam musik sehingga kita bisa menantang diri untuk merasakan atau menemukan hal baru. Bermain musik juga membuat kita menjadi rileks.
- Koneksi Riil
Dalam dinamika musik, ada banyak koneksi riil atau nyata yang terjadi. Contoh koneksi orang tua dan anak yang banyak terjadi dalam final kompetisi Piano Nusantara Plus, Minggu 8 Desember yang lalu bertempat di Institut Francais d’Indonesie (IFI) Thamrin, Jakarta Pusat. Seorang Ayah duduk dan berbincang dengan putranya yang berulang kali bertanya,”Bagaimana kalau nanti aku tampil buruk?” Ada pula seorang Ibu memeluk dari belakang sambil mengusap rambut putrinya yang siap tampil mengenakan gaun merah. Mereka juga berdoa bersama. Koneksi riil semacam ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental kita.
- Refleksi
Ada banyak sekali hal yang bisa direfleksikan bersama-sama antara orang tua, guru, dan siswa. Salah satunya tentu keikutsertaan dalam acara besar, seperti konser, ujian, atau kompetisi. Refleksi bersama yang dilakukan usai menjalani proses panjang menjadi momen penting untuk mengasah pikiran dan perasaan. Refleksi membuat kita sanggup memaknai setiap hal secara mendalam.
Hal ini saya lakukan bersama siswa saya seusai final Kompetisi Piano Nusantara Plus. Saya berikan selembar kertas kosong pada mereka dan dilipat menjadi empat bagian. Di halaman pertama, mereka menuliskan apa saja hal yang membuat bahagia. Halaman kedua, hal yang membuat sedih atau kecewa. Halaman ketiga, harapan di masa mendatang. Halaman terakhir, bantuan apa yang mereka harapkan dari orang lain. Setelah itu, saya minta mereka menceritakan secara langsung apa saja yang mereka tulis. Sebagai instruktur yang mengantar mereka ke final, saya pun ikut menceritakan refleksi pribadi saya.
- Proses Mental
Dinamika di dalam belajar musik, baik itu melatih lagu baru atau mempersiapkan diri untuk tampil dalam sebuah acara, membuat siswa mengalami proses mental yang seringkali tidak sederhana. Contoh saat mengalami cemas akan tampil di mana biasanya ada banyak sekali pikiran negatif yang mendadak muncul, “Bagaimana kalau aku lupa not-nya? Bagaimana kalau aku main not yang salah?”. Siswa, sebagai individu, pun menjalani dinamika yang hebat untuk mengalahkan kecemasan diri sendiri.
Sobat KlasiKITA bisa lihat bahwa belajar musik luas sekali cakupan dan manfaatnya. Namun sayangnya, tidak sedikit pihak yang memaknai proses bermusik secara terlalu dangkal dan sederhana, yaitu bahwa belajar musik semata-mata adalah meningkatkan kelancaran bermain not di instrumen.
Instruktur atau pengajar harus berhati-hati jangan sampai terjebak di dalam pemaknaan dangkal semacam itu. Seringkali tuntutan kurikulum, yang mungkin bisa saja dibaca dan dipahami secara terlalu sederhana, membuat pengajar hanya mengarahkan siswa pada penguasaan not dan menutup mata pada dinamika lain yang justru jauh lebih penting dan indah.
Ingat bahwa pada akhirnya, penting tidaknya belajar musik pun kembali ke diri setiap pihak, salah satunya adalah pengajar sendiri. Pengajar bisa memilih untuk memaknai setiap tahap belajar secara mendalam atau sekadar fokus ke permainan not sempurna sambil marah-marah pada panitia kompetisi saat siswanya belum berhasil menang.
Ruang Tumbuh
Divisi Piano Klasik KITA Anak Negeri selalu berusaha membuka ruang tumbuh seluas-luasnya pada setiap siswa. Salah satunya dengan memberikan siswa kesempatan untuk menjadi panitia acara seperti yang dilakoni oleh dua siswa piano klasik, Muhammad Dzulfiqar Rissalam Ashra dan Haafizah Fanny Zahrah Pane. Mereka, yang merupakan juara 3 kategori Musik Kamar pada final kompetisi Piano Nusantara Plus, menjadi pembawa acara ujian piano klasik Minggu, 22 Desember di auditorium gedung KITA Anak Negeri. Kak Ananda Sukarlan, yang menjadi penguji, mengaku senang dan bangga membuka kesempatan pada Fanny dan Fiqar untuk berlatih mengembangkan diri lewat kepanitiaan acara sebagai pembawa acara.
Kak Ananda sempat berpesan pada peserta ujian dan orang tua siswa bahwa penguasaan not dan teknik yang sempurna bukanlah tujuan akhir, melainkan media atau kendaraan yang bisa membawa kita pergi berkelana. Kak Ananda hendak mengingatkan peserta ujian untuk ingat bahwa bermain musik adalah proses komunikasi atau penyampaian pesan kepada penonton. “Itu sebabnya siswa harus terus melatih diri tampil di depan publik,” saran Kak Ananda.
Dalam sesi diskusi dengan siswa dan orang tua siswa, Kak Ananda sempat menampilkan musik karangannya sendiri, Lonely Child. Karya tersebut menjadi dokumentasi atas perjalanan hidup sang komposer sendiri yang di masa kecil kerap mendapat perlakuan bully dari teman seusia hingga merasa kesepian. Penampilan Kak Ananda membuat saya bingung, sebenarnya Lonely Child merupakan karya musik atau story telling, karena sungguh sangat terasa cerita yang ingin disampaikan Kak Ananda.

Kak Ananda juga menyampaikan bahwa aktivitas penciptaan seni dengan kualitas tinggi dan mendalam tidak tergantikan oleh Artificial Intelligence paling tidak sampai puluhan tahun ke depan. “Sebab AI adalah Artificial Intelligence, bukan Artificial Artistic,” tambahnya. Saya coba memaknai pesan Kak Ananda itu bahwa aktivitas belajar musik, dengan melakoni dan memaknai semua kesempatan dan dinamika yang ada di dalamnya, memang bisa menjadi senjata ampuh untuk memelihara sisi kemanusiaan kita.
Oh ya, Sobat KlasiKITA, satu lagi pesan Kak Ananda Sukarlan yang sederhana namun sangat bermanfaat, yaitu kita sebaiknya rajin merekam permainan kita dan menyimpannya dengan baik. Selain bermanfaat untuk memeriksa hasil latihan saat itu, juga berguna agar kita bisa merasakan manfaat perjalanan panjang proses belajar saat mendengarkannya enam bulan, satu tahun, atau belasan tahun kemudian.
Selamat berlibur dan menyambut tahun baru, teman-teman semua. Semoga kita tetap semangat untuk menyadari dan menumbuhkan sisi kemanusiaan lewat apapun karya yang kita kerjakan.

