by Ananda Sukarlan
Kompetisi Piano Nusantara Plus 2024 usai sudah, dan buat saya, semua peserta adalah pemenang. Paling tidak memenangkan keraguan dalam diri sendiri untuk berkompetisi, berusaha menampilkan yang terbaik. Belum meraih kejuaraan? “God has made everything beautiful in its time”, menurut Ecclesiastes 3 : 11. Jadi cuma urusan belum saatnya saja, atau bahkan ini sebuah berkah untuk bisa introspeksi untuk masa depan.
Penonton membludak gedung Institut Francais d’Indonesie saat babak final 8 Desember lalu, sehingga pengumuman harus dilaksanakan dalam dua tahap. Minat, ketertarikan atau mungkin hanya rasa ingin tahu tentang musik(us) klasik sudah pasti sangat meningkat dan bukan hanya di Jakarta tapi juga di kota-kota lain. Tapi apakah kita sudah tahu apa gunanya musik klasik untuk hidup kita, hidup orang lain dan negara bahkan kemanusiaan? Bagaimana musikus bisa berkontribusi untuk masyarakat? Saya pernah bicara sekilas (tapi dalam bahasa Inggris ya) di presentasi TedX saya beberapa tahun lalu, dan saya ingin melanjutkannya ke topik yang lebih dalam. Kalau mau nonton TedX tersebut, silakan saja klik
What is the Function of Classical Music In Our Society? | Ananda Sukarlan | TEDxYouth@SPH
Apakah musik telah berguna untuk mengekspresikan isi hati kita? Apakah musik telah menjadi bagian dari menyuarakan keresahan sosial? Yang saya lihat, banyak (guru musik dari) para peserta masih fokus ke keindahan musiknya dan tentu apakah teknik permainan sudah memadai untuk karya tertentu, saat memilih repertoire. Semua isu tentang (pelanggaran) hak asasi, ketimpangan sosial apalagi korupsi yang disampaikan melalui musik masih kurang diminati. Semua yg indah-indah saja yg dipilih. Tentu saja ini tidak salah; kita butuh cinta, kasih sayang, semua yang indah (walaupun cinta tidak selalu indah). O ya, ini tentu saya bicara untuk kategori lanjutan di kompetisi, atau Tembang Puitik. Kalau yang masih pemula tentu belum bisa terlalu banyak memilih, walaupun ada beberapa karya yang terinspirasi dari berbagai isu ini. Misalnya “Lonely Child” dan “Let the moon Shine Bright” yang sama-sama cukup favorit pilihan peserta, tapi keindahan itu beda. Keduanya tentang kesedihan, dan sedih itu indah (menurut saya). Paling tidak, dalam kesedihan saya lebih mudah mengeluarkan musik daripada kalau sedang bahagia.
Isu disabilitas juga bisa lebih diangkat. Saya lihat ada beberapa peserta dari spektrum autisme. Ada yang (orangtuanya) terbuka dengan kenyataan ini, ada yang mungkin si penyandangnya pun bahkan tidak tahu, seperti 28 tahun pertama dalam hidup saya (saya baru terdiagnosa saat berusia 28 tahun, itu pun di Sofia, Bulgaria).
Disability is disabled by the system. Kalau lingkungan kita mendukung, kita tidak lagi menjadi seorang “disabled”. Saya, sebagai penyandang Sindrom Asperger sih sudah sama sekali tidak merasa sebagai seorang yang “kekurangan”, walaupun mungkin itu juga karena sudah “terbiasa” hidup seperti ini …. meskipun saya cukup merasakan bullying di saat usia muda, baik verbal maupun fisik. Sekarang untungnya sudah hampir tidak ada lagi, justru karena saya bisa menuntut respek dari reputasi dan karir saya yang notabene sebetulnya sangat terbantu dengan Asperger’s Syndrome karena saya jadi memiliki kemampuan di atas rata-rata. Ini siklus yang jadinya lengkap walaupun melalui jalan yang ribet yang membuktikan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius….
Lonely Child adalah “secuplik biografi masa kecil” saya tentang menyandang Asperger’s Syndrome. Ini adalah tentang konflik: sebetulnya semua orang, Aspie ataupun tidak, membutuhkan teman. Tapi setiap kali saya punya teman, dia akhirnya menjadi perundung (bully). Jadi saya memilih sendirian saja. Tapi ya jadinya kesepian. Jadi, apakah musik seperti Lonely Child ini bisa tertulis jika saya tidak dalam kondisi ini? Hanya Tuhan yang tahu, saya pun tidak. Atau seperti yang Jokowi selalu bilang, “Ya Ndak Tau Kok Tanya Saya”. Sedangkan “Let The Moon Shine Bright” adalah tentang kesedihan saya tentang hilangnya keadilan di negeri tercinta ini, dan kebetulan waktu itu bulan bersinar dengan “Tjahaja Purnama” yang sangat jauh dari kita … (google saja deh soal ini)

Di kategori Tembang Puitik hanya Ratnaganadi Paramita dan Wirawan Cuanda yang memilih musik dengan isu-isu sosial ini, dan mereka justru menang. Tentu mereka dinilai kualitas performanya, tapi yang menggelitik media dan publik adalah tema yang mereka pilih. Dan terbukti, podcaster beken Indonesia, Rudi S. Kamri jadi tergelitik membahas soal perdagangan manusia setelah mendengar Ratna menyanyikan aria dari opera saya yang ditulis dari libretto Emi Suy, “I’m Not For Sale”. Padahal biasanya podcast pak Rudi ini tentang politik. Ini membuktikan bahwa sebuah karya artistik dapat menyentuh bahkan memicu sebuah gerakan kemanusiaan. Jangan bilang bahwa ini hanya nyanyian, ini hanya podcast. Musik bukan (hanya) menghibur, musik bisa membuat orang gusar, resah dan gelisah! Di podcast itu Rudi S. Kamri membahas juga sejarah human trafficking di Indonesia bersama Mohamad Sobary yang lebih ngehitz dipanggil Kang Sobari, budayawan dan kolumnis super berkelas. Dengar deh, semoga membuka mata, dan hati kita tentang ngerinya perdagangan orang :
TRAGEDI PERDAG4NGAN 0RANG MENYENTUH DI TANGAN KOMPONIS ANANDA SUKARLAN
Saya juga sudah meminta Wirawan Cuanda untuk menyanyi lagi bersama saya, kali ini dengan “Prison Songs” saya yang lain (sampai saat ini saya sudah membuat dari puisi para penyair LEKRA Sutikno W.S., Putu Oka Sukanta, Sabar Anantaguna, Martin Aleida. Nanti kita bikin konser spesial pokoknya tahun depan!
Saya sangat berharap untuk Ananda Sukarlan Award 2025 (dan juga Kompetisi Piano Nusantara Plus karena akan diadakan lagi tahun depan, dengan kota-kota yang lain bahkan!) bahwa para musikus sudah terlibat dengan isu-isu sosial dan kemanusiaan sejak dini. Saya bikin banyak juga puisi tentang pandemi yang baru saja kelar (puisi Ewith Bahar, Goenawan Monoharto dll.), juga tentang koruptor misalnya (puisi Lasman Simanjuntak, Riri Satria). Musik dan seni itu bagian dari masyarakat, bagian dari dokumentasi sejarah, dan sejarah yang dirasakan dengan perasaan paling dalam akan menjadi jauh lebih berarti dan semoga memicu kita untuk tidak mengulang hal-hal buruk dalam sejarah.
